
"Gila! Dia masih aja mainan tante-tante!" seru Andra hendak berlari mengejarnya.
Gandhi menarik kemeja Andra hingga langkahnya terhenti. Andra yang sudah tersulut emosi menghempaskan tangan sahabatnya itu.
"Hei, istri kita nungguin. Lain kali aja kita urusin," tandas Gandhi meraih kerah baju Andra.
Akhirnya ia menurut, meskipun sekarang hubungannya dengan Ayu merenggang, namun Andra tetap mengkhawatirkan sepupunya itu. Apalagi mengingat kondisinya yang sedang hamil. Bahkan kemungkinan sudah mendekati persalinan.
Mereka berempat memasuki bioskop, duduk bersisihan dengan pasangan masing-masing. Film yang dipilih bergenre romantis komedi. Sepanjang pemutaran film, Chaca tidak henti-hentinya tertawa lepas sambil memakan popcorn di tangannya.
Gandhi malah tidak fokus dengan layar lebar itu. Sedari awal, dia terus memalingkan muka pada istri cantiknya. Ia turut menarik bibirnya membentuk senyuman, kala melihat tawa riang Chaca.
"Sayang," panggil Chaca melambaikan tangan di depan suaminya.
Gandhi masih bergeming, menopangkan kepala dengan lengannya. Chaca mencubit hidung mancung suaminya. Ia jengkel karena pria itu tidak menghiraukannya.
Gandhi mengaduh menyentuh hidungnya, "Ada apa, Sayang?" tanya Gandhi bingung.
"Dipanggil dari tadi juga, tuh liat udah sepi tinggal kita berdua. Apa mau nginep di sini?" gerutu Chaca menyebikkan bibir.
Gandhi menolehkan kepalanya menatap sekeliling. Ia membelalakkan mata, pemutaran film sudah selesai 20 menit yang lalu. Andra dan istrinya pamit keluar duluan, karena Amel begitu menginginkan burger saat itu juga.
"Sudah selesai ya?" tanya Gandhi mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Masih nanya pula!" geram Chaca beranjak meninggalkan suaminya.
Buru-buru Gandhi mengejarnya, menyamakan langkah lalu merangkul pundak istrinya. Ia juga mencuri satu kecupan pada pipinya.
"Sayang, Andra udah pulang ya?" tanya Gandhi masih melajukan langkah.
"Nggak tahu, katanya Mbak Amel minta burger tadi. Ngidam kali," sahut Chaca mengendikkan bahu.
Dering telepon Gandhi menghentikan langkah keduanya. Ia merogoh kantong celana melihat siapa kiranya sang penelpon.
"Mama," ucap Gandhi menoleh pada wanita di sampingnya.
Percakapan yang begitu singkat itu, sang mama menyuruh pasangan pengantin tersebut segera pulang ke rumah utama. Mengingat semakin dekat dengan hari-H.
Mereka menyetujuinya, namun setelah mengantarkan Andra terlebih dahulu. Karena mobilnya masih di rumah Gandhi. Chaca yang sudah mengantuk merengek ingin segera pulang.
"Sayang, telepon Bang Mandra gih. Aku ngantuk banget," keluh Chaca menggamit lengan suaminya.
Gandhi mengusap rambutnya pelan, "Tumben nggak minta makan?" sindirnya.
__ADS_1
"Enggak, Mas! Capek, ngantuk pengen cepet-cepet rebahan," sahut Chaca semakin mengeratkan tangannya menopangkan kepala pada bahu suaminya.
Mereka menunggu Andra di mobil, Gandhi segera menghubungi pria itu. Chaca menurunkan sandaran mobil, menyamankan posisi. Dia terlihat sangat lelah lama kelamaan tertidur pulas.
Beberapa menit kemudian, yang ditunggu akhirnya tiba juga. Mereka segera masuk ke mobil, merasa tidak enak karena membuat menunggu. Apalagi melihat Chaca yang ketiduran semakin merasa bersalah.
"Aduh, maaf ya Gand. Kami kelamaan ya? Chaca sampai ketiduran," ucap Amel tidak enak.
"Tidak apa, Mbak. Dia kecapean sepertinya. Seharian belum istirahat," sahut Gandhi sembari menyalakan mesin mobilnya. Ia mulai melajukan mobil itu perlahan.
"Jangan capek-capek Gan, biar cepat jadi," celetuk Amel merebahkan kepala di bahu suaminya. Andra sibuk mengoperasikan ponselnya namun sesekali mengusap puncak kepala istrinya.
Gandhi hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia tidak ingin terlalu buru-buru. Takut akan membebani Chaca. "Sedikasihnya aja Mbak, aku mah berusaha aja. Hasilnya diserahin sama yang di atas," tukasnya kemudian.
Sesampainya di rumah, Amel dan Andra segera berpamitan. Sedangkan Gandhi memutar kembali setirnya menuju rumah kedua orang tuanya.
...----------------...
Dua hari kemudian, hari yang telah ditunggu tiba. Rumah utama itu kini telah disulap dengan dekorasi yang sangat mewah. Mulai dari gerbang masuk sampai ruang tamu begitu megah.
Kedua orang tua Gandhi mengundang seluruh jajaran staff perusahaan mereka, rekan bisnis dan sanak saudara. Pasalnya mereka akan mengumumkan tentang jati diri anaknya.
Satu persatu rekan Gandhi juga mulai berdatangan. Mereka takjub akan kemewahan rumah tersebut. Mereka pikir itu adalah kediaman orang tua Chaca.
"Gila, ini rumah apa istana gengs?" kagum seorang laki-laki melihat bangunan megah di depannya.
"Beruntungnya Pak Gandhi, nggak masalah dipecat. Mertua dia lebih kaya. Bahkan rumah ini mungkin lebih besar dari hotel itu," celetuk Dewi menimpali.
Mereka berjanjian terlebih dahulu di suatu tempat, lalu berangkat bersama-sama. Mereka kembali melangkah masuk perlahan. Menikmati setiap detail hiasan yang mereka lalui.
Suasana masih lumayan sepi. Acara akan dimulai 30 menit lagi. Mereka mendudukkan diri di deretan kursi yang telah disediakan. Mereka hanya menggelengkan kepala melihat dalam rumah yang begitu mewah. Tidak terbayang sebelumnya.
Sampai pada akhirnya, para tamu mulai berbondong-bondong masuk dan menduduki kursi yang telah disediakan. Termasuk semua adik-adik Gandhi di panti juga turut hadir mengenakan gaun dan pakaian yang telah disediakan oleh Alice.
Chaca dan Gandhi menuruni anak tangga perlahan. Sedari tadi, tangan Chaca melingkari lengan suaminya. Keduanya bak raja dan ratu dari kayangan. Senyum kebahagiaan tidak pernah pudar dari wajah keduanya.
Semua orang tersihir dengan ketampanan dan kecantikan pasangan pengantin baru itu. Riuh tepuk tangan mulai menggema di seluruh ruangan.
"Yaampun aku iri. Jiwa jomloku semakin meronta," gumam Dewi tidak mengedipkan mata.
Andra dan Amel baru memasuki ruangan. Mereka sedikit terlambat karena Amel yang riweh dengan aroma suaminya. Sepagian mereka berdebat karena parfum.
Mungkin karena bawaan hamil indra penciumannya sensitif. Andra bahkan sampai berganti baju berkali-kali. Namun ia sabar dan mengerti kondisi istrinya.
__ADS_1
Keduanya segera bergabung dengan rekan-rekan kerjanya. Gandhi dan Chaca mulai berjalan ke singgasana mereka. Diikuti oleh kedua orang tuanya. Mamanya juga terlihat anggun, papanya tidak kalah gagah meski keduanya sudah tidak muda lagi.
Acara demi acara perlahan dimulai. Banyak band-band ternama yang diundang untuk memeriahkan acara. Tak lupa banyak wartawan yang meliput acara bersejarah di Keluarga Abraham itu. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh orang tua Gandhi.
Tibalah saatnya acara pelemparan buket bunga pasangan pengantin. Para jomlowers segera merapat di depan panggung. Gandhi dan Chaca berdiri membelakangi mereka. Lengan kanan Gandhi melingkar pada pinggang Chaca, sedang tangan satunya turut memegang buket tersebut dan bersiap untuk melemparkannya.
Pasangan pengantin itu saling menatap, lalu dengan kompak melempar bunga tersebut ke arah para tamu. Kemudian keduanya berbalik melihat siapa kiranya yang mendapatkannya. Konon katanya, mereka akan segera menyusul ke pelaminan.
Banyak para penonton yang mendesah kecewa. Bunga itu jatuh dipangkuan laki-laki yang sedari tadi hanya duduk saja.
"Bryan?" seru Gandhi dan Chaca bersamaan.
Bryan cuek saja, dia tidak percaya dengan mitos tersebut. Dewi menghampiri pria itu mencoba meminta buket bunga tersebut.
"Mas, buat saya aja ya bunganya. Mas 'kan cowok. Nggak cocok pegang kayak gituan," celetuk Dewi merayu.
Bryan menatap gadis yang berdiri di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kedua tangannya melipat di depan dada.
"Ambil aja!" ucapnya dingin.
Dewi nampak ragu-ragu. Pasalnya bunga tersebut tepat di pangkuan Bryan diantara kedua pahanya. Ia takut akan menyentuh sesuatu.
"Eee ... siniin Mas, nanti anu ...," ujarnya meremas kedua jemarinya.
Bryan meraih tangan Dewi dan menuntunnya pada bunga itu. Dewi membelalakkan mata dan mengambilnya dengan cepat. Ia pun segera berbalik dan buru-buru duduk di tempatnya. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Bryan masih stay cool menatap ke depan.
Gandhi dan Chaca kembali mendudukkan diri di kursi singgasana mereka. Kedua tangannya tidak pernah terlepas sedetikpun. Gandhi sesekali mencium kening istrinya semakin menambah iri para jomlowers.
Xander melangkah tegas ke tengah panggung, ketika MC menyebutkan namanya untuk mengutarakan sambutan yang diikuti oleh istrinya. Pasangan itu juga terlihat sangat serasi. Keduanya sama-sama pekerja keras hingga bisa mencapai kesuksesan seperti ini.
"Selamat siang para hadirin semuanya, terima kasih banyak atas kehadirannya. Langsung saja ke intinya karena saya tidak suka berbasa-basi," ucapnya lantang.
"Pada acara bahagia ini saya mengumumkan bahwa, laki-laki yang duduk di panggung itu adalah putra kandung saya yang selama ini telah menghilang. Karena keajaiban dari Tuhan, kami dipertemukan kembali dan menjadi keluarga yang utuh. Gandhi Bagaskara Abraham adalah putra tunggal penerus keluarga Abraham. Terima kasih," tegasnya lagi.
Ia kembali ke panggung singgasana pengantin, ia meraih Gandhi dalam pelukannya lalu mendudukkan diri di samping putranya.
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, terutama rekan-rekan Gandhi. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa ternyata Gandhi-lah anak dari pengusaha terkenal itu. Para wartawan dan kameramen tidak mau ketinggalan berita besar tersebut. Mereka berlomba-lomba mengabadikan momen penting itu.
Andra sendiri yang tidak terkejut karena ia telah mengetahui sebelumnya. Ia berdiri lalu mulai bertepuk tangan diikuti oleh semua tamu undangan yang hadir.
Dibalik kebahagiaan itu, ada seorang pria paruh baya yang lemas setelah mendengar berita tersebut. Wajahnya memucat, keringat dingin bercucuran di wajahnya.
Bersambung~
__ADS_1
Big thanks yang selalu like, komen dan vote. ❤❤
Betewe pegel nggak gengs bacanya? kalo pegel aku bagi dua....wkwkwk