Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Penjara


__ADS_3

Chaca POV


Sepanjang perjalanan, aku terus menghubungi Mas Gandhi. Aku bahkan tidak fokus melihat jalan. Namun puluhan kali masih tidak ada jawaban. Aku merasa gusar karenanya. Sampai motor yang dikendarai Bryan sudah memasuki pelataran rumah Daddy.


Ngga apa deh pulang ke sini dulu.


Aku segera turun ketika motornya terhenti. "Thanks ya, mau mampir?" tawarku.


"Enggak, Mommy sama Daddy pasti pada ngantor. Duluan ya. Jaga diri baik-baik," ucap Bryan mengusap kepalaku namun aku segera menghindar.


Bryan hanya tersenyum, lalu kembali mengenakan helmnya dan menyalakan motornya. Ia sempat melambai sesaat, yang hanya kubalas anggukan kepala.


Aku melangkah menuju pintu utama. Beberapa kali memencet bel, pintu terbuka. Terlihat Nancy sedang berdiri terkejut melihatku.


"Non!" serunya membelalakkan mata.


Aku hanya menyengir kuda, "Hai Nancy," sapaku lalu memeluk tubuhnya.


Saat hendak melangkah, dering ponselku berbunyi. Aku buru-buru mengangkatnya.


"Halo," ucapku setelah menerima panggilan.


"Cha, kamu di mana? Sudah pulang kuliah?" suara berat orang di seberang telepon.


"Udah di rumah, Bang. Ada apa ya? Tumben telepon? Oiya, Mas Gandhi ke mana sih? Kenapa dari tadi nggak angkat telepon aku?" tanyaku bertubi-tubi pada Andra sahabat suamiku.

__ADS_1


"Cha, tolong kamu tenang ya. Jangan panik."


"Apa sih Bang? Jangan bikin penasaran!" seruku berjalan keluar lagi mengurungkan niatan masuk ke rumah.


"Gandhi ... Gandhi di penjara," ucapnya lirih diseberang.


Aku sangat terkejut, kedua kakiku melemas hingga tubuh ini luruh ke lantai. Ponselku sudah mendarat di lantai sedari tadi.


"A--apa? Penjara? Tapi kenapa?" gumamku.


Air mataku luruh seketika. Nancy yang tadi sudah masuk keluar lagi, mungkin karena mendengar ponselku yang telah terjatuh.


"Astaga, Non! Ada apa?" tanya Nancy merengkuh kedua pundakku.


Aku menangis di pelukannya. Aku sangat mengkhawatirkan Mas Gandhi. Apa kesalahannya hingga ia harus mendekam di penjara?


Beliau turun dari mobil dan terkejut melihatku berantakan di lantak. Sontak Mommy berjalan setengah berlari menghampiriku.


"Sayang! Ada apa?" pekiknya turut bersimpuh lalu memelukku.


"Mommy! Mas ... Mas Gandhi dipenjara," seruku ditengah isakan.


Mommy sama terkejutnya. Beliau menutup mulut dengan tangannya. Lalu melepaskan pelukan kami.


"Sayang, tenang kita harus tenang ya. Mommy telepon Daddy dulu. Kamu bersiaplah kita ke sana sekarang," titah Mommy mengusap air mataku.

__ADS_1


Aku mengangguk, segera beranjak lalu berlari ke kamar. Buru-buru mandi dan bersiap untuk menemuinya. Dalam otakku masih penuh dengan pertanyaan.


Kesalahan apa yang ia perbuat hingga menyebabkannya berada di balik jeruji besi?


Setelah berganti pakaian, aku segera mencari keberadaan Mommy. Ia baru keluar dari kamar saat aku hendak mengetuk pintunya. Beliau juga mandi dan berganti pakaian yang lebih santai.


"Kita tunggu Daddy dulu ya, Sayang. Daddy sudah dalam perjalanan pulang," ucapnya lembut menarik lenganku ke ruang tamu.


Aku hanya mengangguk saja. Kami mendudukkan diri di sofa. Mommy kembali memelukku. Mengusap rambutku panjangku perlahan.


"Mommy, sebentar lagi resepsi pernikahan akan digelar. Tapi kenapa harus ada cobaan seperti ini?" ucapku kembali meneteskan air mata.


Aku tahu, Mommy juga sangat sedih, tapi beliau pandai menyembunyikan perasaannya. Persis sekali sama anaknya. Mas Gandhi juga seperti itu. Jadi sangat sulit mengetahui perasaannya yang sebenarnya.


"Sabar Sayang, Mommy yakin semua pasti baik-baik saja. Dan resepsi kalian pasti akan tetap terlaksana," tuturnya dengan nada bergetar.


Aku semakin mengeratkan pelukan. "Aku takut Mom," ujarku lirih.


Tak lama kemudian, suara pintu terbuka. Daddy tergopoh-gopoh masuk ke rumah. Beliau langsung menghampiri kami.


"Kita ke sana sekarang!" seru Daddy tanpa basa basi.


Daddy menyerahkan tas kerjanya pada Bi Sumi yang kebetulan tadi membukakan pintu. Masih mengenakan pakaian lengkap beserta jas, Daddy kembali melangkah keluar.


Terlihat jelas emosi Daddy. Langkahnya yang tegas, membuka pintu dengan kasar dan napasnya yang kian memburu.

__ADS_1


Aku dan Mommy masih saling berpelukan. Kami duduk di kursi penumpang belakang. Aku tentu saja masih terus menangis. Mobil segera meninggalkan halaman rumah.


Bersambung~


__ADS_2