Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 23


__ADS_3

Tubuh Chaca menegang seperti tersengat aliran listrik. Ia memang sering bergonta ganti pacar. Tapi, jangankan berciuman, berpegangan tangan saja jarang ia lakukan.


Karena memang selama menjalin hubungan ia tak pernah serius. Sehingga banyak dari mereka yang memutuskan hubungan itu secara sepihak. Tentu saja bukan masalah besar bagi Chaca. Justru ia malah bahagia.


"Om, I love you sejak pertama kali kita bertemu," gumam Chaca menatap dalam kedua mata Gandhi.


Senyum lebar tampak terurai di bibir Gandhi. Dibelainya lembut rambut panjang Chaca, lalu dipeluk erat tubuh ramping itu. Menghirup dalam-dalam aroma shampo yang menguar di indera penciumannya.


"Cepatlah lulus," bisik Gandhi di telinga Chaca.


Gadis itu memundurkan tubuhnya, "Memangnya kenapa, Om?" Keningnya berkerut bingung.


"Aku mau lamar kamu, biar enggak ada orang-orang yang bakal ganggu kamu. Karena kamu cuma milikku, mulai hari ini sampai selamanya," terang Gandhi mencubit dagu lancip Chaca.


"Iya, Om Ganteng, nggak sampe satu tahun bakal lulus kok," jawab Chaca memegang kedua pipi Gandhi.

__ADS_1


Gandhi mengembuskan napasnya lega. Ia kembali menghadap lurus ke depan. Lengannya tak berpindah dari bahu Chaca, sehingga gadis itu bersandar nyaman di dada Gandhi.


"Kenapa kamu suka sama aku, Cha? Padahal dulu aku culun, juga enggak sekaya kamu. Bahkan sebenarnya aku minder," ungkap Gandhi menggaruk kepalanya.


Seolah baru tersadar bahwa terdapat jurang pemisah yang amat jauh. Status sosial, juga harta bisa jadi penghalang restu orang tuanya.


Chaca menggenggam jemari kanan Gandhi. Kepalanya sedikit mendongak untuk menatap wajah tampan itu. "Yang kaya itu orang tua gue, Om. Lagian, selama ini mereka nggak peduli sama gue. Bahkan kalaupun gue mati sekalipun keknya mereka nyantai-nyantai aja."


Chaca tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Gandhi membungkam bibirnya dengan ciuman lembut.


Terharu, yah. Bari kali ini Chaca merasa diperhatikan dan diprioritaskan. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Gandhi.


"Makasih ya, Om. Seenggaknya, gue merasa ada yang ngarepin kehadiran gue setelah 16 tahun hidup di dunia ini." Kepalanya bersandar nyaman di dada Gandhi.


Gandhi mencium keningnya, "Selama ini kamu ke mana?" tanya Gandhi mengalihkan pembicaraan sembari memainkan rambut Chaca. Menggulung-gulung dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Mmm ... lulus SD tadinya mau dibuang ke Singapure. Daddy marah-marah sepulang gue dari proyek dulu. Tapi pas mau berangkat, gue kabur, hehehe," jawab Chaca menyengir.


"Em? Kabur ke mana?" Gandhi mengernyitkan keningnya.


"Kemana aja. Yang penting mah nggak ketangkep sam Daddy. Gue lari terus naik taksi. Diturunin paksa sama sopir gara-gara nggak punya duit." Chaca tertawa terbahak-bahak kala mengingat itu.


Ia pun kembali meneruskan ceritanya, ketika ia menangis di tepi jalan, ditemukan seorang ibu-ibu pemulung dan diajak pulang. Hampir sebulan ia menginap dengan ibu yang tinggal seorang diri. Sampai Alexander--Daddy Chaca bisa menemukan gadis itu dengan bantuan bodyguard.


Sejak saat itu, Alice--Mommy Chaca melarang keras suaminya membawa Chaca ke luar negeri. Alhasil, ia meneruskan sekolahnya di kotanya.


Lama kelamaan, suara Chaca melirih sampai tak terdengar. Gandhi merasa beban di dadanya semakin bertambah seiring dengan Chaca yang semakin terpulas. Sepertinya dada Gandhi menjadi tempat yang nyaman untuk bersandar.


"Cha," panggil Gandhi menundukkan pandangannya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2