Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Chandi's Cafe


__ADS_3

6 Bulan Kemudian ....


Restoran yang telah dibangun, kini sudah 100% jadi dan bersiap untuk beroperasi. Gandhi puas dengan hasil kerja kontraktor, desain interior juga arsitek yang telah menyulap restonya dalam waktu kurang dari target.


Semua perlengkapan juga telah disetting sedemikian rupa, letak kitchen set, kasir, mereka juga menambah toilet demi kenyamanan pelanggan.


Pada lantai 2, mereka atur sebagian untuk ruang kerja Gandhi, sisanya untuk ruangan bernuansa klasik sesuai keinginan Gandhi.


Sedangkan lantai dasar, adalah induknya. Yang mana di sini sesuai permintaan Chaca. Semuanya serba modern, termasuk sofa juga mejanya.


Selain itu dapur, kasir dan arena karaoke ada di lantai dasar juga. Di belakang tersedia kolam renang yang mana terdapat pula beberapa saung/bangunan kecil-kecil untuk makan lesehan.


"Sayang, kita kasih nama apa? Aku belum memesan plank. Tinggal itu aja," ucap Gandhi yang berdiri tegap melihat sekelilingnya.


Chaca berjalan ke depan resto. Dia duduk diayunan tunggal. Gandhi mengikutinya dan mengayunkan tubuh istrinya perlahan setelah Chaca nyaman dalam posisinya.


Di halaman yang luas itu, kini telah dibangun juga arena bermain untuk anak-anak. Diantaranya, ayunan, jungkat-jungkit, perosotan dan masih banyak permainan lainnya. Lantainya diberi rumput sintetis yang lembut, agar tidak kesakitan saat anak-anak terjatuh.

__ADS_1


"Gimana kalau gabungan nama kita aja, Mas? Chandhi's Cafe," ujar Chaca mendongakkan kepala menatap suaminya.


"Chandhi, Chaca Gandhi?" Gandhi memastikannya.


"Heem," jawabnya terayun dengan kepala mendongak.


Gandhi menghentikan ayunannya, mengecup kening Chaca sekilas. "Okay, as your wish, Baby," sahut Gandhi mantap.


Mereka lalu masuk ke ruang kerja Gandhi untuk mencetak selebaran lowongan kerja. Selain itu ia juga memasang di internet agar banyak yang mengetahuinya.


Sementara plank belum jadi, Gandhi mencetak nama cafenya di kertas lalu menempelkannya di kaca depan. Mereka juga menyediakan tempat untuk meletakkan surat lamaran nantinya.


"Sayang, nanti ajarin Santi jadi kasirnya ya, biar dia nggak jenuh di rumah terus," ucap Gandhi di dalam mobil saat perjalanan menuju panti.


"Lhaa ... nanti aku ngapain?" cebik Chaca.


"Kamu 'kan kuliah, Sayang. Kalau pulang nanti baru bisa bantu. Tapi nggak usah lah, kamu nggak boleh capek-capek," ujarnya mencium punggung tangannya.

__ADS_1


Chaca menggerutu, Gandhi sekarang menjadi lebih protektif terhadapnya. Tapi, dia bisa apa selain menurutinya. Bakti seorang istri 'kan ada pada suami.


Sesampainya di panti, keduanya disambut dengan hangat dan ceria oleh adik-adik. Karena kebetulan hari libur. Mereka menghambur memeluk Gandhi dan Chaca bergantian. Santi juga menyambut kedatangan Chaca dengan seulas senyum lalu saling berpelukan. Hubungan keduanya semakin baik.


"Intan, Erik, Lana sama Isty mana? Kok tumben? Biasanya mereka nomor satu nih kalau kami datang," tanya Chaca memperhatikan adik-adiknya satu per satu.


Pertanyaan Chaca membuat semua orang menunduk, Gandhi menghampiri Chaca lalu merangkul bahunya dan menggiring masuk ke rumah.


Setelah mendudukkan diri, Gandhi menggenggam jemari istrinya. "Sayang, keempat adik kita sudah diadopsi," ujarnya pelan.


"Apa?!" Mata Chaca mulai berkaca-kaca.


Tak dapat dipungkiri, Chaca memang menyayangi semua adik-adik panti layaknya adik kandungnya sendiri. Gandhi tidak memberitahu saat ada beberapa adiknyaa yang harus diadopsi.


"Kamu kenapa nggak kasih tahu aku, Mas!" teriak Chaca diiringi dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.


Bersambung~

__ADS_1


Dear Kak Faticha Farichah terima kasih ya inspirasi nama kafenya 😚😚


Makasih semua yang masih setia selalu support Mas Gandhi 😍😚


__ADS_2