Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 47


__ADS_3

"Ke mana kamu kemarin? Ditelepon nggak diangkat! Chat nggak dibalas! Kamu sudah menggagalkan proyek besar Gandhi!" teriak salah seorang direktur pemasaran sambil menggebrak meja.


"Kamu pikir ini perusahaan bapakmu apa? Waktunya masuk, ya masuk. Bukan malah menghilang tanpa kabar. Kita kehilangan klien penting gara-gara kamu," sentak Pria bernama Muji itu tepat di depan wajah Gandhi.


Gandhi sudah menyiapkan diri sejak semalam. Ia tahu ini akan terjadi. Ini adalah kesalahan pertamanya selama menjadi manager di tempat itu.


"Maaf, Pak. Saya...."


"Maaf! Maaf! Kamu pikir dengan maafmu itu kerugian kita bisa ditutupi? Kesalahanmu sungguh fatal. Enggak profesional!" Muji berkacak pinggang.


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Seorang perempuan berdiri di ambang pintu dengan sebuah surat di tangannya.


"Masuk Mita!" ujar Muji tanpa menoleh, menatap tajam pada pria muda di depannya.


Dengan tangan gemetar, Mita menyerahkan kertas itu dibalut amplop putih pada Gandhi. "I ... ini surat untuk Bapak," ucap Mita dengan suara bergetar.


Gandhi mengambil kertas berlogo Perusahaan Abraham itu dengan yakin. Segera dibuka dan dibaca dengan seksama.


"Pak, tapi...." Gandhi mencoba menjelaskan.


"Tidak ada tapi-tapian! Detik ini juga kosongkan meja kerjamu!" bentak Muji lagi.

__ADS_1


Mita menggigit bibir bawahnya. Ia mengenal Gandhi dengan baik selama bertahun-tahun. Rasanya tidak rela ketika melihat pria itu harus angkat kaki dari sana.


"Baik, Pak," ujar Gandhi mengangguk.


Tanpa permisi Muji meninggalkan ruangan Gandhi. Gandhi segera membereskan meja kerjanya. Meletakkannya di sebuah kardus.


"Mita, kembalilah, nanti kamu kena tegur," ucap Gandhi tanpa memperhatikan perempuan itu.


"Pak," panggil Mita lirih.


"Aku nggak apa-apa, Mita. Ini sudah konsekuensi dari kesalahanku. Terima kasih ya, segera kembali ke mejamu!" tegas Gandhi menyunggingkan senyum.


"Baik, Pak. Semoga Bapak segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi." Mita menyeka air mata yang mulai menetes.


"Hei, aku yang dipecat kenapa kamu yang nangis?" Gandhi terkekeh melihat rekan kerjanya sejak menjadi OB itu.


"Enggak ada seger-segeran lagi," celetuk Mita menyeka air matanya.


"Semangat ya Mita." Hanya itu yang diucapkan Gandhi saat melaluinya dengan membawa satu karton berisi barang-barangnya.


Baru dua langkah meninggalkan ruangan, seseorang memanggilnya.

__ADS_1


"Gandhi, tunggu!" Sebuah suara berat terdengar.


*****


Satu bulan kemudian, sidang perceraian Gandhi dan Ayu digelar. Dalam sidang ini, merupakan upaya perdamaian. Namun Ayu tidak menampakkan batang hidungnya dalam sidang pertama itu.


Perempuan itu malu, terutama pada Gandhi. Menghina, mencaci dan memaki laki-laki yang pernah menjadi menyelamatkan nyawanya, menutupi aibnya, namun ia balas dengan hal-hal keji seperti itu. Rasanya ia sudah tidak punya muka untuk bertemu Gandhi.


Satu minggu setelahnya, sidang kedua pun digelar. Lagi-lagi, Ayu tidak hadir di meja persidangan. Namun dengan ketidak hadirannya, justru mempercepat proses perceraian. Pengadilan mengeluarkan putusan verstek.


Putusan verstek merupakan putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim tanpa hadirnya tergugat dan tanpa alasan yang sah meskipun telah dipanggil secara resmi dan patut. 


Dan tibalah dalam sidang ketiga. Dimana dalam sidang kali ini, merupakan sidang ikrar talak. Ayu dan Gandhi hadir dalam sidang tersebut.


Ketukan 3 kali oleh hakim menggema, menandakan berakhirnya sidang cerai mereka.


Gandhi tersenyum sambil mengulurkan tangannya, "Terima kasih, dan maaf ya jika selama kita berumah tangga kamu tidak bahagia,"   ucap Gandhi setelah sidang berakhir.


Ayu menoleh dan menatap nanar pria itu, ia berdiri namun tidak menyambut uluran tangan Gandhi. Melainkan memeluk pria itu dan menumpahkan tangisannya.


"Maaf, Mas. Maaf!" ucapnya sesenggukan.

__ADS_1


Pada saat yang bersamaan, Chaca hadir tanpa diketahui oleh Gandhi. Ia baru saja pulang, setelah acara perpisahan sekolah, bermaksud memberi kejutan untuk mensupportnya. Namun, justru ia yang terkejut.


Bersambung~


__ADS_2