Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 39


__ADS_3

"Mas Anjar!" pekik Ayu dengan mata berkaca-kaca.


Sang pemilik nama berbalik badan. Bergeming sesaat sebelum seorang wanita menghambur ke dalam pelukannya.


"Mas, kamu kemana saja. Kamu jahat, ninggalin aku dan anak kita. Kamu tiba-tiba menghilang begitu saja disaat aku ingin memberimu kabar bahagia ini," ucap Ayu sesenggukan, semakin mengeratkan pelukannya.


"A... apa?! Ha ... mil?" Kata pertama yang terucap dari pria itu dengan terbata-bata.


Ayu menjauhkan kepalanya dari dada Anjar. Ia mengulum senyum sambil mengangguk. Kedua tangannya mencengkeram lengan kekar pria yang ada di hadapannya.


Anjar membelalakkan mata. Mulutnya pun terbuka. Ia sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Di sini, ada anak kita," gumam Ayu meletakkan telapak tangan Anjar di perutnya yang masih rata.


"Mas, aku kangen banget sama kamu," ucap Ayu manja kembali menempelkan pipinya di dada bidang Anjar.


"Eng ... iya, aku juga kangen sama kamu," balas Anjar membalas pelukan Ayu.


Tak cukup sampai di situ, Ayu mengajaknya pulang ke rumah Gandhi. Ia berpikir bahwa Gandhi tidak akan pulang di siang hari. Karena memang selama sebulan ini, Gandhi selalu berangkat pagi pulang di malam hari.


Banyak hal yang ingin dibicarakan dengan sang mantan kekasih. Entahlah disebut apa, karena tidak ada kata putus sebelumnya. Dan pada kenyataannya pria itu adalah ayah dari bayi yang dikandungnya.


Mereka turun dari honda jazz berwarna merah tepat di halaman rumah minimalis. Ayu dengan semangat membuka kunci dan menutupnya rapat. Ia bahkan sampai lupa berbelanja, padahal isi kulkasnya sudah kosong.

__ADS_1


"Duduk sini, Mas. Aku ambilin minum dulu ya," ucap Ayu meletakkan tasnya di sofa berjalan menuju dapur.


Tak lama ia membawa dua gelas jus jeruk beserta biskuit dalam toples. Anjar nampak mengedarkan pandangannya pada rumah yang teramat sepi itu. Ayu tahu dia pasti bertanya-tanya.


"Minumlah dulu, Mas." Ayu duduk di sebelahnya setelah meletakkan di meja.


Anjar mengangguk, ia meraih gelas itu dan meneguk isinya perlahan.


"Ini, rumah suami aku, Mas," aku Ayu.


"Pfffttt!" Anjar lekas menyemburkan minuman yang belum melalui kerongkongannya itu.


"Suami?" tanyanya mengernyit heran.


Ia pun akhirnya menceritakan bagaimana frustasinya ketika tahu ia tengah hamil, sulit mencari keberadaan Anjar sampai keinginan untuk bunuh diri yang digagalkan oleh Gandhi.


"Maaf, Mas. Sungguh aku nggak berniat sedikit pun mengkhianati kamu. Tapi aku benar-benar tidak punya pilihan lain. Anak ini butuh pengakuan seorang ayah. Aku tidak mau mengandung tanpa suami," jelas Ayu berderai air mata.


"Sungguh, aku hanya mencintaimu, Mas. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Kami bahkan tidak pernah tidur seranjang." Ayu memberanikan diri mengangkat pandangannya.


Tanpa diduga, Anjar menyeka air mata di kedua pipi Ayu. Lalu menariknya ke dalam pelukan. "Maaf, maafin aku. Pasti berat kamu melaluinya sendiri," bisik Anjar memberi beberapa kecupan di puncak kepala Ayu.


"Bawa aku pergi, Mas. Aku maunya nikah sama kamu aja," rengek Ayu dalam dekapan Anjar.

__ADS_1


Tampak pria itu tengah berpikir keras mencari alasan. Ia menjauhkan tubuhnya, menangkup kedua pipi Ayu. "Belum bisa. Kamu masih berstatus istri orang, Sayang. Aku nggak bisa bawa kamu," terang Anjar memberi pengertian.


"Aku akan melayangkan gugatan cerai," cetus Ayu tanpa mikir.


Anjar terpaku sejenak, keduanya terdiam larut dalam lamunan masing-masing. Pria itu menatapnya intens.


Entah bisikan setan dari mana, ia mendekatkan kepala, mencium bibir Ayu. Ciuman yang semula lembut semakin menuntut. Ayu pun terbuai dengan permainan Anjar seperti sebelum-sebelumnya. Kemudian ciuman itu turun ke leher jenjang Ayu, membuat banyak jejak di sana.


Kedua pakaian mereka sudah berserak di lantai. Kedua tangan mereka menyatu dan saling meremas. Tubuh Ayu ambruk tepat di atas Anjar. Hingga, terjadilah apa yang seharusnya tak terjadi.


***** yang berkobar menutupi segala pikiran jernih mereka. Keduanya tidak sadar tempat yang digunakan untuk berzina. Hanya bersemangat menggebu-gebu, bagaimana caranya mereka saling memuaskan satu sama lain.


Hampir satu jam mereka melakukannya hingga mencapai ******* bersama-sama. Anjar mengecup kening wanita itu. "Terima kasih, Sayang," ucapnya dengan deru napas memburu.


Ayu mengangguk beberapa kali seraya mengurai senyum. Ia juga sedang terengah-engah. Keringat mengguyur seluruh tubuh mereka.


Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan mereka berdua. Mereka terperanjat, sama-sama membelalakkan mata dengan degub jantung yang berdetak kuat.


"Ba ... bagaimana ini, Mas?" Ketakutan melingkupi hati Ayu. Ia gugup, sedangkan Anjar mengenakan pakaiannya dengan cepat.


"Pakai pakaianmu!" seru Anjar setengah berbisik.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2