
Gandhi turun dari mobilnya menarik kaos yang dikenakan Anjar dari belakang. Anjar menepis kasar tangan Gandhi, lalu membalikkan tubuh. Seketika matanya membelalak, terkejut dengan kehadiran Gandhi.
"Ga-Gandhi?" ucap Anjar gugup. Ia melepaskan tautan jemari dengan wanita di sampingnya.
"Kenapa kamu belum berhenti juga?" geram Gandhi penuh penekanan.
Anjar mengusap tengkuknya kasar. Sedangkan tante-tante itu bingung dengan kedatangan Gandhi yang terlihat sedang menahan amarah.
"Tante, maaf. Aku pinjam pacarmu dulu," ujar Gandhi menarik lengan Anjar.
Tanpa mendengar jawaban, Gandhi menyeret Anjar agar mengikutinya. Tangannya mencengkeram kuat lengan pria itu. Kini mereka berada dalam mobil, napas Gandhi masih memburu. Dia teringat masa lalunya ketika melihat Anjar masih bermain dengan tante-tante.
Anjar diam saja sedari tadi, ia tidak bisa mengelak lagi. Wajahnya nampak gusar karena terpergok oleh Gandhi.
"Mana janji kamu dulu?" geram Gandhi menatap tajam pria di sampingnya.
"Jawab!" bentaknya lagi sambil memukul setir mobil setelah tidak ada jawaban.
Anjar tersentak, susah payah rasanya ia menelan saliva. Anjar tidak berani menatap Gandhi, apalagi mengetahui kenyataan bahwa Gandhi adalah putra dari Alexander Abraham. Hal itu semakin membuatnya tak berkutik.
"Gila kamu, Njar. Kamu kasih makan anak istrimu uang haram!" pekiknya memegang erat kemudi.
"Di mana Ayu?" tanya Gandhi penuh emosi.
"Di-di rumah Gan," sahutnya gugup.
Gandhi melajukan mobilnya ke rumah lamanya. Ia mengendarai dengan kecepatan tinggi. Anjar terlihat semakin gugup, ia meremas jari jemarinya bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin.
Tiga puluh menit berlalu, keduanya terdiam. Gandhi diam menahan emosinya sedangkan Anjar diam karena ketakutan dan kegugupannya.
Sampailah mobil Gandhi di pelataran rumah lamanya. Rumah penuh luka yang ia tinggalkan beberapa bulan yang lalu.
Gandhi bergegas turun dari mobil. Ia mengetuk pintu sambil memencet bel dekat pintu. Anjar terlihat gusar, ia tidak berani mendekat. Masih berdiri di samping mobil.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Ternyata ibu Anjar yang membukakannya. Gandhi menyapanya dengan sopan. Namun Sofi, ibunya Anjar masih saja bersikap sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Dingin, angkuh dan kasar.
"Panggilkan Ayu, Njar," ucap Gandhi penuh ketegasan. Dia tidak mau berlama-lama berdebat dengan orang yang lebih tua. Biar bagaimanapun, Gandhi tetap menghormatinya.
__ADS_1
"Heh, Ayu? Dia sudah lama meninggalkan rumah ini. Dasar menantu tidak tahu diri!" seru ibu Anjar dengan nada sinis.
Gandhi mengerutkan kening, ia melihat Anjar dengan tatapan nyalang. Yang dilihat hanya menundukkan kepala semakin dalam.
"Di mana Ayu, Njar?" pekik Gandhi dengan nada lebih tinggi.
"Jawab!" geramnya lagi.
"Di-di rumah ibunya," ucap Anjar asal.
Gandhi meraih ponselnya. Ia menghubungi Andra dan menghidupkan loudspeaker sambungan telepon tersebut.
"Ya Gan," sahut Andra di seberang.
"Apa Ayu di rumah ibunya?" tanya Gandhi tanpa basa basi.
"Ayu? Aku setiap hari nganter Amel ke sana. Dia sering mual muntah kasihan kalau di rumah sendiri. Tapi sejak menikah dengan Anjar, Ayu nggak pernah pulang ke sana Gan. Ada apa?" sahut Andra.
"Oke, terima kasih, Ndra," tukas Gandhi mematikan ponselnya.
Gandhi semakin menatap Anjar dengan tajam. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya. Gandhi berjalan mendekati Anjar. Lalu, melayangkan sebuah bogem mentah tepat pada wajahnya.
"Brengsek! Ke mana Ayu? Dia tidak ada di rumah orang tuanya. Apa kamu tidur waktu pembagian otak? Ayu sedang mengandung anakmu! Darah dagingmu, Njar! Kamu biarkan dia menderita atas perbuatan kamu. Hei mikir! Anak dalam kandungan Ayu tidak bersalah. Kalian orang tuanya lah yang harusnya menderita. Bukan bayi itu!" teriak Gandhi penuh dengan emosi mendorong tubuh Anjar sampai terbentur mobil.
"A--aku pikir dia ke rumah ibunya," ujar Anjar pelan.
"Di mana tanggung jawab kamu, hah? Mana janji kamu meninggalkan dunia kotormu itu? Kamu bahkan tidak pantas menghirup oksigen di bumi ini! Ayah dan suami macam apa kamu! Istri pergi dari rumah tapi tidak ada usaha sedikitpun mencari tahu. Kamu bahkan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa!" tegas Gandhi dengan geramnya.
Anjar membelalakkan mata, sedangkan ibunya tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Dia hanya merangkul putra kesayangannya itu. Sedangkan Gandhi masih dipenuhi emosi.
"Anjar, silahkan angkat kaki dari rumah saya!" ucap Gandhi pelan namun penuh penekanan.
Anjar bergeming, masih dengan keterkejutannya. Sedangkan Sofi membelalakkan mata. Ia menutup mulutnya yang menganga. Barulah dia sadari bahwa rumah yang selama ini ia tempati ternyata bukan milik anaknya. Tapi milik laki-laki yang sedari tadi ia maki.
"Angkat kaki dari rumah saya!" teriak Gandhi sangat keras membuat ibu dan anak itu terlonjak kaget.
"Maafin aku Gan," ucap Anjar pelan masuk ke rumah. Gandhi membuntutinya dari belakang. Ia mengambil ponselnya, mendokumentasikan setiap interior rumahnya itu.
__ADS_1
Anjar dan Sofi membereskan barang-barangnya. Gandhi menyusuri setiap ruangan dan memotretnya. Anjar dan ibunya, kini telah selesai berkemas. Mereka duduk di kursi tamu.
"Gandhi, sekali lagi aku minta maaf," ujar Anjar penuh sesal.
"Maafin ibu juga ya, Nak," imbuh Sofi dengan suara bergetar.
Gandhi tidak mau menatap keduanya. Ia tidak akan tega melihat orang tua menangis. Namun mengingat sikapnya yang kasar, angkuh seperti itu tidak mampu menyurutkan keinginannya untuk mengusirnya. Ditambah kelakuan putranya yang sudah keterlaluan.
Gandhi berdiri membelakangi mereka. Kedua tangannya berkacak pinggang. Pandangannya lurus ke depan, napasnya masih memburu karena emosi.
"Pergi!" tegas Gandhi tanpa menoleh sedikitpun. Ia takut goyah jika menatap mereka.
"Terima kasih banyak Gan atas kebaikanmu selama ini. Sekali lagi aku minta maaf," ujar Anjar pelan.
"Ayo, Ma," ajaknya pada sang mama yang masih menangis sedari tadi.
Mereka tidak tahu mau ke mana lagi. Untuk sementara, Anjar kembali ke rumah kecilnya terlebih dahulu. Barulah dia mencari rumah baru untuk mereka tempati. Yang terpenting ada tempat untuk bermalam dengan aman.
Gandhi mengusap wajahnya kasar. Ia melempar tubuhnya di sofa, pandangannya menerawang ke atas. Walaupun ia sangat membenci Ayu, namun tetap saja ada rasa kasihan menyelimuti hatinya.
Bercermin dari Amel, ia melihat betapa sulit dan sakitnya wanita hamil. Dia tidak bisa membayangkan Ayu sendirian di luar sana. Bagaimana dengan bayinya? Apakah sekarang sudah lahir? Hati nurani Gandhi tergelitik karena mengkhawatirkan mantan istri yang tidak pernah ia sentuh itu.
Walaupun Gandhi pernah hancur karenanya, pernah diinjak-injak harga dirinya, jauh dalam sanubarinya tetap ada rasa kasihan. Apalagi dia seorang wanita hamil.
"Tunggu! Jika dihitung, ini sudah lebih dari 9 bulan. Apakah dia sudah melahirkan? Astaga kasihan sekali kamu Yuk. Semoga kamu dan bayimu selalu diberi kesehatan dimanapun kamu berada," gumam Gandhi menegakkan duduknya.
Gandhi keluar rumahnya, lalu memotret dari halaman. Kemudian ia mengunggah dalam sebuah situs jual beli rumah. Ia memutuskan menjual rumah tersebut. Rumah yang menurutnya penuh luka.
Namun semuanya sudah terbalaskan dengan kebahagiaan yang saat ini ia rasakan. Bahkan kebahagiaan itu berkali-kali lipat ia dapatkan. Mendapatkan istri yang cantik, setia dan sangat mencintainya. Juga dipertemukan dengan kedua orang tuanya.
Sungguh takdir Tuhan memang begitu indah. Setiap cobaan yang terlewati, Tuhan selalu menyelipkan hadiah tak terkira saat kita mampu melaluinya. Sabar, ikhlas dan tawakkal adalah kunci.
Suara hati Gandhi, "Kenapa kasihan dengan ayu? Karna istriku seorang perempuan ... ibuku perempuan... punya banyak adik perempuan ... aku membayangkan bagaimana jika seandainya itu menimpa orang2 yg kucintai. Apalagi sedang mengandung."
Bersambung~
udah panjang aja partnya hemmm gemes sendiri...wkwkwk
__ADS_1
Makasih banyak yg selalu support ya. Thanks like, komen dan votenya. Apalagi yg kasih tip juga... tak bisa berkata2... thankyouu banget ❤❤