Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Kamar Baru


__ADS_3

"Hai Tante, Santi, apa kabar?" tanya Chaca ketika sudah berhadapan dengan mereka.


"Baik kok Cha," sahut mereka bersamaan.


Aku pikir Santi akan mengibarkan bendera perang sama Chaca seperti biasa. Tapi ternyata aku salah. Mereka sudah tampak nyaman satu sama lain. Tidak ada sorot kebencian diantara mereka.


Chaca terlihat membaur dan Santi pun menyambutnya dengan baik. Ah syukurlah kenapa nggak dari dulu seperti ini 'kan enak dilihatnya.


Setelah selesai membantu memasak, kami segera makan siang. Bersamaan dengan adik-adik yang sudah pulang sekolah. Mereka sangat bahagia dengan kehadiranku dan Chaca.


Apalagi Chaca membagikan oleh-oleh. Tentu saja itu membuat mereka sangat bahagia. Semoga kelak, kalian akan menjadi orang yang sukses.


"Mas, ada yang mau aku bicarakan," ucap Santi.


Saat ini kami sedang berkumpul di ruang keluarga. Chaca asyik bermain-main dengan adik-adik. Tatapan Santi mengisyaratkan ingin berbicara empat mata.


Aku mengangguk lalu beranjak berdiri, namun sebelum melenggang, aku mencium kening Chaca terlebih dahulu dan berpamitan dengannya.


Aku dan Santi duduk di kursi panjang yang terletak di teras depan. Ia menghembuskan napas kasar sebelum memulai percakapan.


"Ada apa, San?" tanyaku penasaran.


"Kemarin ada yang datang ke sini, Mas. Mereka bermaksud ingin mengadopsi Intan. Aku belum memberinya jawaban. Aku ingin menanyakan sama Mas terlebih dahulu," tutur Santi menatapku.

__ADS_1


Aku berpikir sejenak. Sebenarnya aku takut. Takut kalau orang tua yang ingin mengangkat adik-adik di sini tidak bertanggung jawab. Atau akan berbuat hal yang buruk pada adik-adikku.


Dulu Bunda mampu mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk kami semua. Sekarang? Perhatianku tentu tidak bisa terus tertuju sama mereka.


"Kalau mereka datang lagi, kamu hubungin aku ya, San? Aku akan berbicara dengan mereka," sahutku pelan.


"Apa Mas akan mengizinkan?"


Aku mendesah pelan, lalu menegakkan posisi dudukku. "Santi, jika memang itu yang terbaik untuk masa depan mereka kenapa tidak? Bukannya aku tidak mau bertanggung jawab. Namun, aku takut tidak bisa memantau perkembangan mereka. Kamu juga suatu saat pasti akan menikah," jelasku menerawang jauh ke depan.


"Adik-adik butuh kasih sayang, San. Aku tidak bisa memberikan itu sama seperti yang Bunda berikan. Namun sebelumnya aku akan menyelidiki latar belakang semua orang tua angkat yang mau mengadopsi mereka. Aku harus benar-benar memastikan mereka jatuh di tangan orang yang tepat," imbuhku lagi.


Chaca muncul dari balik pintu, ia mendudukkan diri di tengah-tengah kami. "Ngobrolin apa sih? Serius sekali," tanyanya menatapku dan Santi bergantian.


Chaca mengangguk bersemangat, "Tentu, semoga kamu segera menyusul dan mendapatkan jodoh terbaik ya," sahutnya.


Santi hanya mengulas senyum dan mengangguk menjawabnya. Setelahnya aku dan Chaca berpamitan pulang ke rumah.


"Kenapa nggak nginep Mas?" tanya Santi.


"Aku sama Chaca mau pindah ke rumahku. Jadi masih banyak yang harus diberesin. Kapan-kapan ya," sahutku melenggang masuk berpamitan dengan adik-adik.


Mereka memelukku dan Chaca bergantian. Dan turut mengantarkan kami keluar. Bahkan ketika aku melajukan mobil perlahan, mereka mengikuti sampai depan gerbang.

__ADS_1


Chaca membuka jendela mobil dan melambaikan tangan sampai tak adik-adik tak terlihat lagi. Ia menegakkan duduknya, memasang sabuk pengaman dan menutup jendelanya lagi.


"Sayang, kamu nanti yang cari pembantu aja ya Kamu milih sendiri sesuai kriteria kamu," ucapku memecah keheningan..


"Eh, iya Sayang. Tapi, jangan dulu deh. Bukannya kita belajar mandiri? Ya sama aja dong kalau pake pembantu?" elaknya menatapku.


Aku mengerutkan kening, melihatnya sejenak lalu kembali fokus ke jalan raya. Tangan kiriku menariknya dan menciumnya sekilas.


"Aku nggak mau kamu kecapekan, Sayang. Kamu 'kan harus kuliah?" ucapku membelai kepalanya lembut.


"Enggak apa, Sayang. Aku harus belajar. Aku pasti bisa asalkan terus sama kamu," sahutnya.


Tak berapa lama kami telah sampai di halaman rumah. Suasananya begitu rindang. Banyak pepohonan menjulang tinggi di sekitarnya.


Kami segera turun, Chaca menghirup udara segar sejenak di halaman. Meski mentari terik memancarkan sinarnya.


"Ayo masuk," ajakku saat sudah membuka pintu.


Chaca masih bergeming, aku berbalik menghampirinya. Ia masih betah dengan hawa sejuk di halaman.


Aku meraup tubuhnya dalam gendonganku membuatnya terkejut. Namun kemudian, ia mengalungkan tangannya pada leherku. Aku melangkah masuk, menutup pintu dengan dorongan satu kaki.


"Mau coba kamar baru?" godaku mengedipkan sebelah mata.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2