
"Aaa ... apa? Maksudnya?" tanya Chaca terbata.
"Setelah aku menjadi duda nanti, aku segera melamarmu. Tunggu aku," ucapnya lagi mengecup punggung tangan Chaca.
Kedua sudut bibir Chaca tertarik sempurna. Senyum lebar disertai debaran jantung yang kuat tak dapat disembunyikan Chaca.
Kepalanya mengangguk-angguk mantap, memberi jawaban yang sangat meyakinkan.
"Yaah, baksonya dingin," keluh Chaca mengembuskan napas pelan setelah pandangannya mengarah pada dua mangkuk di hadapannya.
"Aku pesen lagi," jawab Gandhi hendak beranjak dari duduknya.
Chaca menyambar lengan Gandhi hingga ia terhenti. "Enggak usah, Om. Mubazir nanti, makan dulu yuk, laper," rengek Chaca.
Gandhi mengusap puncak kepala gadis itu. Lalu mereka mulai menikmati bakso yang dingin, es yang sudah hambar itu. Tapi tetap saja, bagi keduanya terasa nikmat karena kebahagiaan yang menyelimuti hati keduanya.
Setelahnya, Chaca berpamitan pulang. Ia tidak mau kehadirannya justru membuat masalah baru bagi Gandhi. Sedangkan pria itu menghubungi keluarga Ayu.
"Kalau kamu kabur dari tanggung jawab lagi, aku jeblosin kamu ke penjara!" ancam Gandhi ketika mereka sudah berada di kamar rawat inap Ayu.
__ADS_1
"Hmmm...." Anjar mendengkus.
Keheningan tercipta selama beberapa saat. Mereka terdiam dengan lamunan masing-masing. Lenguhan Ayu, mengalihkan perhatian mereka.
Gandhi berdiri menyandarkan punggungnya di dinding, sembari meletakkan kedua tangannya di kedua saku celana. Hanya kepalanya mendongak, menatap ranjang di mana Ayu terbaring.
"Mas Anjar?" gumam Ayu lirih, lalu menitikkan air mata.
Derap langkah beberapa pasang kaki menggema, lalu menerobos masuk ke ruangan. Pintu terbuka, menampakkan sepasang paruh baya yang dipenuhi amarah.
"Apa yang kamu lakukan, hah? Kalau kamu tidak bisa membahagiakannya kembalikan dia dengan cara baik-baik! Jangan disakiti seperti ini!" teriak ayah mertuanya membentak Gandhi.
Gandhi masih bersikap tenang, tidak mengelak maupun melakukan pembelaan. Matanya kembali mengarah pada Ayu dan Anjar.
"Pak," panggil Ayu lirih.
Ibunya bergegas mendekat, berdiri di seberang Anjar, mengusap kepalanya dan menggenggam tangannya. "Apa yang terjadi, Nak?"
Ayu hanya menangis, tanpa bisa bersuara.
__ADS_1
"Maafkan saya, gara-gara saya, Ayu kehilangan janinnya. Saya tidak sengaja melakukannya," ucap Anjar menundukkan kepala.
"Apa?! A ... aku keguguran?" pekik Ayu histeris. Tangisnya pecah, hingga sang ibu kesulitan untuk menenangkannya. Sehingga Gandhi harus memanggil dokter untuk memberinya suntikan penenang.
"Biarkan pasien beristirahat, dia masih shock. Mohon hanya satu orang saja yang menunggunya," pesan sang dokter sebelum meninggalkan ruangan, usai melakukan pemeriksaan.
Mereka semua mengangguk paham, keluar ruangan meninggalkan ibu Ayu saja.
Suparman, ayah dari Ayu sudah menggeram marah sedari tadi melontarkan tatapan tajam pada Anjar. Ia seperti hendak mengintrogasi pelaku kejahatan.
"Pak, mungkin jika hanya saya yang berbicara, Anda tidak akan percaya. Karena saat itu saya tidak punya bukti apa-apa. Sedangkan saat ini, di hadapan Anda, adalah kekasih Ayu sekaligus pria yang menghamili Ayu."
Gandhi menghela napas panjang. Mengingat kembali bagaimana ia terjerumus dalam masalah pelik dalam hidupnya. Mengorbankan cinta dan kebahagiaannya. Suparman menengadahkan kepalanya.
"Dulu, saya menikahinya karena panik melihat dia mau bunuh diri dalam keadaan hamil. Ketika saya sudah mengucap janji, saya akan berusaha menepatinya. Saya bahkan rela Anda pukuli demi menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Meski saya harus menanggung atas kesalahan yang tidak pernah saya perbuat."
"Saya akan mengembalikan putri Anda kembali secara baik-baik. Maaf jika selama ini saya tidak bisa menjadi suami dan menantu yang baik," tutur Gandhi.
Bersambung~
__ADS_1