
"Baiklah. Mama izinkan, tapi ada syaratnya," cetus Mama mengangkat jari telunjuknya tepat di wajahku dengan sorot mata yang tajam.
"Apa syaratnya, Ma?" tanyaku penasaran.
"Kamu harus cetakin cucu yang banyak buat Mama dan Papa! Kalau perlu 11 buat kapten kesebelasan," selorohnya memalingkan muka dan melipat kedua lengannya di dada.
Aku terkejut lalu menahan tawa, 'Lah, dikira bikin kue? Bisa cetak segitu banyak?' Aku berusaha menguasai perasaan. Takut jika mama tersinggung.
"Ketawa aja nggak usah ditahan!" celetuknya lagi tanpa menoleh.
Seketika tawaku pecah dan menggelegar, aku merebahkan kepala pada bahunya. Dan melingkarkan tanganku menangkup tubuh Mama.
"Ma, kasihan Chaca dong kalau harus melahirkan sebanyak itu," ucapku mengecup pipinya sekilas.
"Biar nggak kayak Mama. Punya anak cuma satu dan sekarang malah mau ninggalin Mama," cebiknya masih terlihat kesal.
Aku merasa bersalah. Kulonggarkan pelukan lalu berjongkok di depan Mama. Kuraih kedua jemari beliau dan menciumnya.
"Ma, doakan yang terbaik untuk Gandhi dan Chaca. Gandhi tidak mau menjadi ketergantungan dengan Mama dan Papa. Gandhi takut terlena dan menjadi suami yang tidak bertanggung jawab atas keluarga Gandhi."
Aku mendongak menatap wajah sendu wanita yang telah melahirkanku. Tanganku tak henti-hentinya mengusap air mata yang terus membanjiri pipinya.
"Setiap weekend kamu harus nginap di sini! Titik!" tegasnya sambil menyebikkan bibir.
"Iya mamaku sayang, Gandhi janji. Makasih ya Ma," ucapku beranjak berdiri.
Setelahnya, kami melangkah ke kamar. Membantu Chaca berkemas. Hanya membawa pakaian saja, karena rumahku sudah ada perabotnya juga. Ya sebagian sih ada yang dari rumah lama.
Eh Ayu sama Anjar gimana kabarnya ya? Yah, semoga mereka mendapatkan hidayah dan bisa berubah. Maaf Ayu, aku tidak bisa membuka blokiran nomor kamu. Aku mau mengubur kenangan pahit dan sakit hatiku dulu. Mengganti dengan kebahagiaanku.
"Sayang, kamu jangan bawa semua pakaian. Setiap weekend kita nginep di sini ya," ucapku mendudukkan diri di sampingnya yang sibuk melipat baju.
"Iya Sayang," ujarnya bersemangat.
Mama membantu Chaca melipatnya. "Jaga diri kalian ya. Setiap pernikahan pasti akan bumbu-bumbu dalam menjalani bahtera rumah tangga. Kalian harus saling mendukung satu sama lain. Kalau ada apa-apa cepat-cepat hubungi Mama ya. Dan ingat pesanan Mama Gan," tutur Mama pelan mengulas senyum.
Aku dan Chaca mengangguk mengiyakan. Sejurus kemudian Chaca menghentikan gerakannya. Ia menatapku dan Mama bergantian.
__ADS_1
"Pesanan? Pesanan apa Ma?" tanya Chaca bingung.
"Jelasin Gan," tukas Mama sibuk memasukkan pakaian ke koper.
Aku mendekati Chaca, kemudian menunduk mendekatkan bibir pada telinganya, "Mama pesen cucu 11, Sayang," bisikku pelan.
Chaca membelalak mendengarnya. "Mommy! Dikira makanan pesen sebanyak itu dengan mudah?" ucapnya sambil tertawa.
"Nggak mau tau dan nggak mau dibantah!" tegas Mama melipat tangannya di depan dada.
"Doain aja ya Mom," ucap Chaca memeluk Mama. Aku juga turut memeluk dan mencium pipi Mama. Chaca juga melakukannya.
Kemudian, aku dan Chaca segera berpamitan karena hari sudah semakin siang. Mama mengantar kami sampai depan rumah. Tak lupa kami juga berpamitan dengan Bi Ratih. Beliau juga sama beratnya melepas kepergian kami. Terutama Chaca, karena Bi Ratih sudah menganggap Chaca seperti anaknya sendiri.
Lalu kami berjalan masuk ke mobil. Aku hanya membawa mobilku saja, karena aku mau antar jemput Chaca.
"Sayang, kita mampir ke panti ya," ucap Chaca antusias sambil memasang sabuk pengaman.
"Iya Sayang, aku juga kangen dengan adik-adik," ucapku mulai melajukan mobil perlahan.
Chaca dan Mama saling melambai, aku membunyikan klakson mobil. Bahkan Mama masih berdiri sampai bayangannya tidak terlihat dari kaca spion.
Lalu ia berlari kecil menuju pintu. Wajahnya berseri-seri, senyumannya tidak memudar sejak tadi. Aku kemudian turun, dan segera mengikuti Chaca.
"Bun! Bunda! Chaca pulang!" teriaknya berulang mengetuk pintu.
DEG!
Jantungku berpacu sangat kuat. Aku menyentuh lengannya. Kutarik tubuhnya dalam dekapanku. Ia memberontak, namun aku tetap tidak melepasnya.
"Sayang lepasin! Aku nggak sabar pengen ketemu Bunda," serunya berusaha mendorong tubuhku.
Suara pintu terbuka, Chaca membalikkan tubuhnya. "Santi, Bunda lagi apa? Aku bawain oleh-oleh nih," ujarnya memperlihatkan paper bag yang ada di tangannya.
Santi bergeming, ia terlihat bingung menjawab. "Masuklah!" ucap Santi membuka pintu lebar.
Chaca berlari ke kamar Bunda. Ia terus berteriak memanggilnya. Aku hanya mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Bunda, Chaca punya oleh-oleh. Chaca masuk ya Bun?" serunya membuka pintu.
Gelap, rapi, sunyi seperti tidak dihuni. Chaca melangkah masuk. Senyum yang sedari tadi mengembang seketika menghilang. Tubuhnya luruh ke lantai.
Bayang-bayang kebersamaan Bunda dan Chaca seolah memutar di hadapanku. Mungkin Chaca menyadari dan mengingat semuanya.
Air matanya mulai mengalir begitu deras. Ia memeluk paper bag tersebut sangat erat. Seiring tangisnya yang semakin keras.
"Bundaaaaaaaa! Chaca sangat merindukan Bunda. Chaca rindu peluk hangat Bunda. Chaca rindu semua nasehat dan petuah Bunda, Chaca rindu semua hal bersama Bunda," teriaknya menangis pilu.
Aku tidak tega melihatnya. Aku berjongkok, meraih tubuh kecil wanita itu ke dalam dekapanku. Aku memeluknya dan mengusap punggung yang bergetar hebat. Mencium puncak kepalanya.
Tenggorokanku turut tercekat. Aku juga sangat merindukan Bunda. Aku juga merasakan hal yang sama seperti Chaca.
Lama kami terdiam saling berpelukan dan saling menguatkan di lantai. Sampai pada akhirnya, Santi masuk dan membawakan nampan berisi dua cangkir teh hangat.
Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja. Lalu berjalan menyusuri tembok dan menekan saklar yang tertempel di sana. Sehingga membuat kamar ini menjadi terang.
"Diminum dulu Mas, Cha," ucapnya lalu berpamitan keluar. Bayangannya menghilang seiring suara pintu tertutup.
Aku menyibak rambut Chaca yang berantakan menutupi wajahnya. Lalu mengusap kedua pipinya lembut. Setelah lebih tenang, aku membangunkan dan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Minum dulu ya," ujarku mengambilkan cangkir dan menyerahkan padanya.
aIa menghabiskan teh itu dalam sekali minum. Mungkin menangis dari tadi membuatnya haus.
"Bunda sudah bahagia di sana, Sayang. Kita terus kirimkan doa ya," ucapku menyentuh kedua bahunya.
"Iya, maaf aku tidak bisa mengontrol emosiku, Mas," sahutnya serak.
"Aku mengerti," ucapku pelan.
Kami lalu melangkah keluar. Suasana sepi karena adik-adik berangkat sekolah. Samar-samar, aku mendengar percakapan di dapur. Chaca sudah lebih dulu ke sana.
Ternyata Santi dan istri Paman Dul sedang memasak makan siang. Chaca ikut bergabung di sana.
"Hai Tante, Santi apa kabar?" tanya Chaca ketika sudah berhadapan dengan mereka.
__ADS_1
Bersambung~
Thankyou for like, coment and vote ❤❤🌹