
Perlahan, Chaca melangkah masuk diikuti sang suami. Dokter menyambut keduanya dengan senyuman hangat. Hembusan udara dingin dari AC membuat Chaca merinding seketika.
"Silahkan duduk, ada keluhan apa, Chatrine?" tanya seorang dokter wanita di hadapan mereka.
"Dokter, kami sudah menikah hampir satu tahun. Tapi, kenapa sampai sekarang belum juga hamil ya, Dok? Padahal usia kami termasuk usia produktif.
Chaca meremas jari jemarinya, Gandhi yang melihat kecemasan istrinya menggenggam erat salah satu tangannya.
"Baiklah sebelumnya, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah pernah menggunakan alat kontrasepsi selama berhubungan?" tanya dokter itu pelan.
Chaca menggeleng cepat, "Tidak pernah, Dok," sahutnya.
"Baik, lalu apakah selama ini siklus menstruasi Anda lancar?" tanya dokter itu kembali.
Chaca terkesiap, ia menelan saliva dengan susah payah. Matanya berkaca-kaca. Ketakutan mulai menghinggapi dirinya. Gandhi yang melihat istrinya tiba-tiba pucat, segera merangkul pundaknya.
"Apa itu sangat berpengaruh, Dok? Se-sebenarnya, sejak sebelum saya menikah, siklus menstruasi saya tidak teratur. Kadang sebulan sekali, kadang dua atau tiga bulan sekali. Setelah menikah, bulan kemarin saya mendapati menstruasi, dan bulan ini tidak Dok," ujar Chaca dengan nada bergetar.
Dokter mengangguk pelan, "Tentu saja. Semua masalah siklus haid ini terkadang dipengaruhi kondisi tubuh pada waktu tertentu, seperti karena kelelahan," sahut dokter.
"Masalah siklus haid yang memengaruhi kesuburan disebabkan beberapa faktor diantaranya; infeksi, berat badan yang nggak stabil, diet berlebihan, stres berat, kanker rahim, fibroid rahim, penyakit akibat gangguan perdarahan, dan penggunaan obat yang mengakibatkan fluktuasi kadar hormon," imbuh dokter itu lagi.
__ADS_1
"Pernahkan Anda merokok atau minum-minuman beralkohol?" Pertanyaan dokter itu membuat Chaca seolah dihantam beban yang sangat berat.
Kepalanya terasa berdenyut hebat. Air matanya mulai membasahi kedua pipinya. Ia terus menunduk sampai terisak. Gandhi memeluknya erat dan mengusap punggungnya pelan.
"Sayang, tenanglah. Kita dengarkan dulu penjelasan dokter. Jangan berpikiran yang tidak-tidak," ujar Gandhi pelan.
Chaca mengusap air matanya pelan, kedua mata dan puncak hidungnya memerah. Ia melepaskan pelukannya sesaat, "Maafkan saya, Dok. Saya dulu sering mengkonsumsi minum-minuman keras. Bagaimana caranya biar saya mendapatkan kesuburan saya kembali?" tanya Chaca kembali meneteskan air mata.
Dokter tersebut tersenyum, "Selain melakukan perawatan medis, beralihlah pada gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bernutrisi seimbang. Kemudian, jauhi pencemaran radikal bebas, seperti polusi udara dan asap rokok. Yang terakhir, rutin berolahraga dan istirahat yang cukup sangat membantu mendapatkan siklus haid yang lancar tanpa gangguan," jelasnya dengan lembut.
Dokter menawarkan apakah ia mau melakukan tes kesuburan? Diantaranya pemeriksaan fisik, catatan riwayat kesehatan, dan pemeriksaan ginekologi. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara diraba untuk mengetahui bentuk anatomi organ-organ reproduksi wanita, seperti payudara, kelenjar tiroid pada leher, serta **** *.
"Tidak, Dok!" tolak Gandhi cepat.
"Baiklah, saya akan menuliskan resep untuk membantu menormalkan siklus menstruasi Anda. Dan ikuti saran-saran yang sudah saya sebutkan tadi. Jika obatnya habis, jangan lupa untuk kontrol ke sini lagi," tukas Dokter tersebut sambil menyerahkan secarik kertas resep obat.
Gandhi menerimanya, "Terima kasih banyak, Dok," ucapnya menjabat tangan.
"Sama-sama. Sabar, usaha dan doa. Selebihnya serahkan yang di atas. Semangat ya Chatrine, kamu pasti bisa," ujar Dokter itu lagi.
Chaca mengangguk lalu menjabat tangannya. Mereka berdua berpamitan meninggalkan ruangan. Gandhi segera mengantri di loket obat. Chaca duduk di kursi tunggu, ia terus melamun.
__ADS_1
Hingga Gandhi kembali, Chaca tidak menyadarinya. Tatapannya kosong, sesekali air matanya menetes. Menyesal, satu kata itu kini mengakar di hatinya.
"Sayang," panggil Gandhi lalu merengkuh Chaca di pelukannya.
"Seandainya dulu aku nggak seliar itu, seandainya aku nggak pernah menyentuh minum-minuman itu, seandainya waktu bisa diputar kembali. Aku menyesal, Mas." Air mata Chaca membasahi kemeja Gandhi.
Gandhi tidak tega melihatnya seperti itu. Ia terus membelai rambut panjang Chaca.
"Sayang, harusnya kamu bersyukur, kalau kamu dulu tidak liar mana mungkin kita bertemu? Tenanglah, semua pasti baik-baik saja. Kamu pasti bisa hamil. Aku juga nggak nuntut agar cepat hamil 'kan? Tuhan akan memberikannya di waktu yang tepat. Ingat kata dokter, kamu nggak boleh stress. Fokus dulu sama kuliah ya, Sayang," tandas Gandhi.
Chaca melepaskan pelukannya, "Tapi gimana dengan Mommy dan Daddy? Mereka pasti kecewa aku nggak bisa memberinya cucu dengan cepat," ucap Chaca pelan.
Gandhi menghela napas panjang. Ia menyentuh kedua tangan istrinya dan menciumnya bergantian.
"Itulah salah satu alasanku membawamu tinggal sendiri. Supaya kamu nggak merasa tertekan. Nanti aku yang bicara, tolong jangan terlalu dipikirkan, Sayang," jelas Gandhi.
Chaca mendesah lega. Lagi-lagi ia bersyukur karena memiliki suami seperti Gandhi. Chaca menghadiahi kecupan di pipi suaminya. Gandhi terkejut karena dia melakukannya di tempat umum.
"Jangan di sini, Sayang. Ayo pulang sekarang, di rumah aja," bisik Gandhi.
Bersambung~
__ADS_1