
"Apa itu, Ma?" tanyaku bingung melihat sebuah kotak kecil berhias pita dan mawar berwarna pink. Ya meskipun cuma bunga plastik tapi tetap terlihat indah.
"Ini hadiah pernikahan kalian berdua dari Mama dan Papa." Mama menyerahkannya ke tanganku dengan senyuman yang kian merekah.
Aku menyerahkan pada Chaca. "Sayang, kamu saja yang buka," ucapku memiringkan tubuh memberikan kotak itu kepada Chaca.
Ia berbinar menerimanya. Lalu menarik pita itu dan membukanya dengan bersemangat. Chaca mengeluarkan isinya. Tiket penerbangan dua orang untuk pulang pergi, dengan tujuan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Aku mengerutkan kening, ngapain jauh-jauh ke sana? Apa ada saudara di sana?
Jemari lentik Chaca kembali mengambil kertas yang terletak di bawahnya. Ada tiket masuk bertuliskan Pulau Moyo, juga booking penginapan selama satu minggu.
"Apa ini artinya kami akan ....," ucap Chaca menggantung.
"Iya, Sayang. Kalian harus berbulan madu. Mama sama Papa tidak sabar ingin segera menggendong cucu," sambung Mama memegang erat kedua tangan Chaca.
Aku meraih kertas-kertas itu dan meletakkan kembali ke dalam kotak. Kemudian menyerahkannya pada Mama.
"Maaf, Ma kami tidak bisa melakukannya," tolakku secara halus karena takut Mama tersinggung.
Tampak wajah Chaca kecewa dan murung. Dia hanya menundukkan wajahnya. Sedangkan Papa yang tadi bersandar menegakkan duduknya.
"Kenapa? Apa kamu mau destinasi lainnya? Kalian maunya ke mana?" tanya Papa menatap kami bergantian.
"Sayang, Pulau Moyo itu masih asri. Belum terlalu banyak tersentuh oleh manusia. Suasananya sangat bagus di sana masih alami. Tidak terlalu ramai dan tidak ada polusi tentunya. Cocok banget untuk honeymoon, Sayang," terang Mama meyakinkanku.
Aku meneguk minumanku pada gelas yang sudah dipenuhi embun lalu meletakkannya lagi. "Ma, Pa, bukan karena tempatnya. Tapi Gandhi cuma cuti 3 hari, harus segera kembali bekerja," elakku menjelaskan.
Papa menghela napas kasar, beliau tidak pernah menyerah untuk membujukku mengelola perusahaannya.
"Gandhi, Papa heran sama kamu. Banyak orang-orang di luar sana sangat mengidam-idamkan posisi menjadi CEO. Tapi kamu? Terus-terusan menolaknya," ucap Papa dengan nada serius.
"Pa, masalahnya bukan pada pekerjaannya. Namun pada tanggung jawab. Sayang nggak apa-apa 'kan kalau kita nggak usah honeymoon?" Kepalaku memutar melihat Chaca.
Ia tersenyum kaku dan mengangguk. Raut wajahnya mengatakan jika saat ini ia kecewa. Ya, dia tidak pandai menyembunyikan perasaannya.
"Gandhi mah nggak peka!" sindir Andra setelah dari tadi mendengarkan perdebatan kami.
"Gandhi, kalau aku jadi kamu tanpa pikir panjang langsung berangkat. Honeymoon itu penting banget buat pengantin baru tau nggak? Ini waktu quality time bersama pasangan. Semua wanita pasti menginginkannya. Lagian kerjaan biasanya kamu limpahin ke Mas Andra," jelas Mbak Amel.
__ADS_1
Iya juga sih, tapi kemarin 'kan atasan masih bapaknya. Lah sekarang anaknya super garang. Tapi, kasihan Chaca. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Aku menghela napas panjang, tanganku meraih kedua jemari Chaca menciumnya bergantian. Ia masih menunduk tidak menatapku.
"Sayang, kita siap-siap," ucapku membuatnya mendongak seketika.
"Ma--maksudnya?" tanya Chaca.
"Kita berangkat honeymoon," seruku meremas tangannya.
Semua orang di meja makan akhirnya mendesah lega dan turut bahagia. Terutama Mama, beliau justru paling antusias.
"Nanti Mama bantuin packing ya," ujar Mama menepukkan kedua telapak tangan.
"Nah gitu dong. Buat istrimu bahagia Gan. Kamu harus mengganti kesedihan Chaca selama ini. Pasti dia sangat menderita karena Papa," sesal Papa menundukkan kepala.
Chaca melepaskan tanganku, beranjak dari duduknya dan memeluk Papa dari belakang.
"Daddy sudah melakukan yang terbaik buat Chaca. Terima kasih banyak Dad, udah jagain dan merawat Chaca selama ini. Chaca sayang banget sama Daddy," ucapnya menopangkan dagu pada bahu Papa.
Papa mengusap sebelah pipi Chaca, kemudian beralih menyentuh lengan wanita yang selama ini ia besarkan.
Mama turut beranjak dan memeluk Chaca dengan satu lengannya. Sedang lengan satunya memeluk Papa.
"Maafin Mommy juga ya, Sayang," ucap Mama mencium kening Chaca.
Takdir dari Allah yang begitu indah.
Aku, Andra dan istrinya ikut terharu melihatnya. Setelahnya kami segera pulang. Keadaanku yang membaik, memutuskan untuk menyetir sendiri.
Sesampainya di rumah, Chaca mengobati dan membersihkan luka-lukaku. Aku terus menatapnya, bahkan tidak berkedip.
Aku menurunkan lengannya yang sedari tadi sibuk di wajahku. Kedua mataku menatapnya lekat. Kepalaku semakin mendekat, hingga kedua bibir kami bertabrakan. Tidak mau menyia-nyiakannya, aku ******* bibir kecil itu. Tangan kiriku menahan tengkuknya untuk memperdalam ciumanku.
Sampai pada akhirnya, Chaca mendorong dadaku dengan napas terengah-engah. Hingga membuat tubuh kami menciptakan jarak. Detak jantungku sudah berlarian sedari tadi.
"Mas, aku harus berkemas dulu," ucapnya berdiri mengambil koper.
Lalu ia memilah dan memilih beberapa pakaian, termasuk pakaianku. Ia begitu bersemangat mengemasinya beserta perlengkapan kami selama di sana.
__ADS_1
Kini Chaca duduk di tepi ranjang melipat pakaian dan memasukkan ke dalam koper. Aku memeluknya dari belakang, menyibak rambut panjangnya dan menghirup aroma tubuh di pundaknya.
"Sayang, ihh. Geli!" pekiknya terus menggerakkan bahunya.
Aku tidak menghiraukannya, masih terus melakukannya. Salah sendiri membuatku terus kecanduan. Aroma tubuhnya memabukkan.
"Ss--sayang! Nanti nggak akan selesai sampai besok kalau kamu kayak gini terus!" pekik Chaca membalikkan tubuhnya.
Tubuhku sudah bergejolak sejak tadi menahan hasrat yang sudah merebak. Namun, karena tidak mau mengganggu Chaca, aku merebahkan tubuhku dengan posisi tengkurap.
Aku memejamkan mataku, karena malas jika harus mandi sekarang. Jadi aku menahannya beberapa saat untuk menetralkan keinginanku itu.
Sampai entah berapa lama aku terpejam, aku merasakan sapuan bibir pada pipiku. Dan belaian lembut pada kepalaku.
"Sayang," bisik seseorang di telingaku.
"Hem!" Aku hanya berdehem, namun enggan membuka mata.
"Bangun," imbuhnya lagi.
Aku merasakan hembusan napas hangat pada bibirku. Lalu memaksa kedua mata ini untuk terbuka. Siapa lagi kalau bukan istri cantikku.
Astaga! Aku membelalak saat mataku terbuka sempurna. Ia baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh mungilnya.
Aku segera meraih bantal menutup kepalaku, "Sayang, jangan menggodaku kalau kamu tidak mau!" gerutuku di balik bantal.
"Yaudah!" Terdengar suaranya yang semakin menjauh. Aku kembali tertidur.
Pagi harinya, kami telah bersiap untuk berangkat. Setelah selesai sarapan, Papa dan Mama turut mengantar keberangkatan kami ke Bandara.
"Sayang, bersenang-senanglah. Jangan pikirkan apapun. Dan Mama harap akan ada kabar bahagia saat kepulangan kalian nanti," ucap Mama di mobil menyentuh tangan Chaca sambil tersenyum.
"Ma, doakan saja. Jangan terus membicarakannya, nanti malah buat Chaca kepikiran. Yang penting kita udah berusaha. Masalah hasil kita serahkan sama Allah," jelasku menoleh ke belakang. Karena aku duduk di depan bersama Papa.
"Iya, Ma. Biarlah mereka menikmati masa-masa berdua dulu," imbuh Papa masih fokus menatap ke depan.
"Ya, 'kan maksud Mama biar kalian tambah bersemangat. Tapi kalau seperti itu, Mama nggak akan bahas lagi. Pokoknya Mama selalu doakan yang terbaik untuk kalian dan keluarga kita pastinya."
Bersambung~
__ADS_1
Aamiinin deh doa Mama. Semoga cepet berhasil ya Mas Gan ❤