
Mentari pagi mulai menyembul dari peraduan, menghangatkan setiap insan yang berpijak di bumi. Sepasang suami istri masih terpejam bersisian di ranjang.
Mereka kembali tidur selepas melaksanakan ibadah subuh tadi. Lembur semalaman membuat mereka kekurangan waktu istirahat. Namun biar bagaimanapun keduanya begitu menikmatinya.
Gandhi menggeliat mengerjapkan kedua matanya. Ia menggeser tubuhnya mendekati sang istri, merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukannya.
Chaca terbangun, ia lalu membalikkan tubuh menghadap suaminya. Lalu melesakkan kepala pada dada suaminya.
"Selamat pagi sayangku," ucap Gandhi mengecup kening istrinya mesra.
"hmmm," gumam Chaca malas.
"Ayo bangun, ada jam pagi 'kan?" Gandhi menyentuh dagu wanitanya. Lalu memberikan kecupan mesra pada bibir Chaca.
Chaca masih terasa berat membuka mata. Gandhi membelai lembut rambut panjang Chaca. Ia tidak pernah bosan menatap wajah imut sang istri sekalipun baru bangun tidur.
"Kamu kenapa semakin cantik sih, Sayang. Rasanya aku mau di kamar terus seharian sama kamu," ucapnya gemas menghujani ciuman di pipi Chaca.
"Udah dong sayang, geli," elak Chaca menutup mulut suaminya, ia kembali membelakangi suaminya.
Gandhi hanya tertawa melihatnya. Baginya mau bagaimanapun dan dalam kondisi apa pun, Chaca tetap wanita yang paling cantik di matanya juga selalu terlihat menggoda.
"Mandi bareng yuk," ajak Gandhi menyeruakkan hidung pada pundak istrinya. Hembusan napas hangat terasa di leher dan telinga wanita itu membuat tubuhnya meremang.
Chaca terus menggeliat karena kegelian. "Enggak! Nanti makin lama, sana mandi duluan!" sanggahnya menutup seluruh tubuh dengan selimut.
Gandhi mengacak rambut Chaca gemas, ia lalu turun dari ranjang dan bergegas mandi. Karena mentari semakin meninggi.
Setelah keluar dengan tubuh yang segar, pria itu berganti pakaian lalu berjalan pelan ke dapur. Ia meneguk air minum lalu mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak. Ia sadari semalam tidak membiarkan istri cantiknya itu beristirahat. Sehingga, kini ia akan membuatkannya sarapan.
Ketika sedang asyik menumis, tiba-tiba ada dua tangan melingkar di perutnya. Sehingga membuat pria itu terjingkat.
"Sayang! Ngagetin," seru Gandhi meletakkan spatula. Ia berbalik menangkup kedua pipi istrinya, menciumi seluruh wajahnya.
Chaca memeluk pria itu sangat erat, "Maaf, aku belum jadi istri yang baik," ucapnya pelan.
"Siapa yang bilang? Kamu wanita terbaik yang diciptakan dari tulang rusukku," sahut Gandhi menggeser tubuh keduanya, meraih kembali spatula.
Gandhi sedikit kesulitan melanjutkan masaknya, karena Chaca tidak mau melepaskan pelukannya. Namun dia juga bahagia, masakannya penuh cinta.
__ADS_1
"Aku nggak pernah masak untukmu, nyuci nyetrika juga loundry, bersih-bersih semauku, pokoknya cuma bisa ngrepotin kamu," ujarnya lagi.
"Sayang, kamu itu istriku bukan pembantuku. Selama aku masih bisa mengerjakannya, tidak masalah bagiku. Aku sudah terbiasa sejak kecil. Jangan pernah berpikiran macam-macam," tandas Gandhi mematikan kompor.
Gandhi mengajaknya duduk di meja makan. Sedangkan ia berjongkok di depan istrinya, sambil memegang kedua tangan Chaca.
"Terima kasih suamiku. Aku sangat beruntung ditakdirkan menjadi pendampingmu, aku sangat mencintaimu," tutur Chaca lembut dengan pancaran penuh cinta.
"I love you more, Sayang. Aku tidak pernah menuntut kamu menjadi istri yang sempurna. Karena aku sendiri masih banyak kekurangan. Aku hanya minta satu hal. Apapun yang terjadi kelak, tetaplah di sampingku menjalani semua ujian pernikahan kita, tetaplah setia menjaga cinta kita, menua bersama saling menjaga. Kamu adalah sumber kebahagiaanku. Jangan pernah tinggalin aku," ucap Gandhi mencium kedua tangan Chaca.
Chaca terenyuh dengan semua ucapan Gandhi, ia mengangguk meneteskan air mata bahagia. Berulang kali rasa syukur ia panjatkan, karena dipertemukan dan disatukan dengan laki-laki yang nyaris sempurna di matanya.
Gandhi berdiri mengusap air matanya lembut, lalu mendekapnya. "Terima kasih banyak, Mas," hanya itu kalimat yang mampu terucap. Kebahagiaannya saat ini tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Jangan cengeng, jadilah wanita yang kuat. Mandi sana! Apa mau aku mandiin?" goda Gandhi menangkup kedua pipinya.
Chaca menggeleng, ia beranjak dari duduknya lalu mencium bibir suaminya. Wajahnya bersemu, ia berlari ke kamarnya. Gandhi menatapnya dengan senyum bahagia.
Pria itu melanjutkan masakan yang tertunda. Tak butuh waktu lama, semua sudah terhidang di meja makan. Chaca juga sudah turun dengan buku-buku dalam dekapannya.
Mereka sarapan pagi dengan berbincang hangat. Sesekali Gandhi menyeka mulut istrinya yang belepotan, karena makannya terburu-buru.
"Masakanmu enak banget, Mas. Selalu bikin nafsu makan aku bertambah. Nggak kalah sama resto-resto di luar sana. Mau sesederhana apapun makanan buatanmu, rasanya istimewa," puji Chaca melayangkan dua jempol di hadapan suaminya.
Gandhi mengusap rambutnya gemas. "Karena buatnya penuh cinta, Sayang," akunya terus melanjutkan makan.
"Sayang, gimana kalau kita bikin restoran aja," saran Chaca dengan mata berbinar.
Gandhi mengerutkan kening, ia berpikir sejenak. Ada benarnya juga ucapan Chaca. Karena orang-orang yang mengetahui statusnya, pasti tidak mungkin jika bekerja di perusahaan atau tempat lainnya milik orang lain. Apalagi ia selalu menolak tawaran papanya untuk memegang perusahaan.
"Ide bagus, Sayang. Nanti kita bahas bareng ya, kamu harus kuliah dulu," tandas Gandhi lalu meneguk air putih di hadapannya. Chaca mengangguk bersemangat.
Gandhi lalu mengantarkan Chaca ke kampus. Setelah sampai, Chaca mencium tangan suaminya dibalas kecupan di kening dan bibirnya.
"Hari ini mau ke mana, Mas?" tanya Chaca merapikan tas di bahu dan buku di pelukannya.
"Kasih tau nggak ya," canda Gandhi bersandar pada setir menatap Chaca dengan senyuman menawan.
"Nggak usah deh, kasih duit aja," balas Chaca bercanda juga.
__ADS_1
"ATM 'kan kamu yang pegang, Sayang," ujar Gandhi menegakkan tubuh, mengusap puncak kepala Chaca.
Chaca tertawa, "Oh iya ya!" ujarnya lalu berpamitan untuk turun.
Keduanya saling melambai, Gandhi lalu memutar mobilnya meninggalkan kampus istrinya itu.
...----------------...
Andin sangat malu mengingat apa yang ia lakukan semalam. Selama ini, dia tidak pernah berkeluh kesah atau pun bercerita pada siapapun tentang hidupnya.
Chaca saja hanya mengetahui sedikit tentangnya, karena Andin orang yang tetutup. Entah kenapa dia bisa bercerita hingga akar-akar kehidupannya. Andin benar-benar malu, apalagi semalam dia memeluk pria itu sangat erat.
Terdengar derap langkah kaki cepat menuju kamar. Berlari lebih tepatnya.
"Ada apa?" tanya Bryan panik mendengar jeritan Andin.
Bryan duduk di tepi ranjang membuka selimut perlahan, namun ditahan oleh Andin. Gadis itu bingung sekaligus malu.
"Andin, ada apa?" ulang Bryan lagi.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka selimut dan mendudukkan dirinya.
"Ma ... maaf, Pak. Eee ... saya harus pulang. Anggap saja semalam saya tidak berbicara apapun. Terima kasih banyak tumpangannya, Pak." Buru-buru Andin mencari tasnya berlari keluar.
"Hei, Andin!" teriak Bryan yang tidak digubris olehnya. Andin terus berlari keluar, sungguh ia merasa ingin tenggelam di dasar laut saja. Bryan bingung dengan tingkah Andin.
Kemudian, Bryan bergegas mandi. Ia lalu membuat sarapan dan menyantapnya. Setelahnya ia segera bersiap berangkat ke kampus. Saat berlalu hendak keluar, ekor matanya menangkap sesuatu di meja.
"Apa ini ponsel Andin?" gumam Bryan pelan.
Ia memberanikan diri membuka ponsel itu. Tampak jelas layarnya menampakkan seorang gadis polos yang tersenyum sangat cantik. Bryan tanpa sadar ikut tersenyum, jemarinya mengusap layar benda pipih itu.
"Cantik," celetuknya.
"Eh, ngapain aku!" ucapnya saat tersadar dengan kelakuannya.
Ia kemudian mengetikkan nomor dan menyimpan nomornya di sana. Tak lupa mendial nomornya juga sebelum akhirnya mengantongi ponsel keduanya.
Bryan berdiri di tepi jalan hendak menghentikan taksi. Tiba-tiba dihadang sebuah mobil sedan berwarna merah, berhenti tepat di depannya.
__ADS_1
Bersambung~