
Tidak ada sahutan, deru napas yang teratur menandakan Chaca sudah tidur. Gandhi menggelengkan kepalanya, "Bisa-bisanya tidur dengan posisi duduk," gumamnya merengkuh tubuh Chaca.
Langkahnya pelan, meski gadis itu kurus bukan berarti bebannya ringan. Gandhi agak kesusahan membuka pintu utama. Tiba-tiba pintu itu berderit, muncul sosok perempuan yang menatapnya tajam sambil melipat lengannya di dada.
"Hah, untung ada kamu, San. Makasih ya," ucap Gandhi melewatinya begitu saja.
Pintu kamar bunda terbuka sedikit. Gandhi menggerakkan dengan punggungnya, melebarkan benda persegi panjang itu untuk memudahkannya masuk.
Dengan perlahan Gandhi meletakkan Chaca di samping bunda. Menaikkan selimut hingga dadanya. Saat hendak membelai puncak kepala Chaca, bunda mengerjapkan mata.
"Chaca udah tidur ya," gumam bunda perlahan menoleh ke samping, sontak saja membuat Gandhi terkejut. Ia mengusap wajah lalu memasukkan tangan pada kantong celana jeansnya.
"He'em, Bun. Gandhi balik kamar ya, Bun," pamit Gandhi yang masih salah tampak salah tingkah.
Di kamar, Gandhi duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh bibirnya, lalu tersenyum sendiri. Bahkan jantungnya berdenyut kuat ketika mengingat ciuman pertamanya dengan gadis yang ia suka dari dulu.
Ya, selama ini ia memendam rasa, memendam rindu pada gadis cilik yang selalu membeli brownisnya semasa sekolah dulu.
__ADS_1
Meski ia tak berani berharap lebih, bahkan sekedar bermimpi pun tak berani. Sadar diri dengan posisinya saat itu. Lama kelamaan ia pun tertidur mendekap erat guling di sampingnya. Membayangkan seolah-olah itu adalah Chaca. Hati yang berbunga-bunga, membuat tidurnya lelap seketika.
***
Satu hari setelahnya, di kediaman Chaca.
Sudah berkumpul di meja makan, Alexander beserta istrinya yang sudah berpakaian rapi. Mereka terus menengok ke atas menunggu putri semata watangnya.
"Chaca mana, Bi?" tanya Alexander meletakkan cangkir, setelah meneguk kopinya.
"Eee ... anu, Tuan," ujar Bi Ratih terbata menundukkan kepalanya.
"Non Chaca ... Ti ... tidak ada di kamar, Pak," jawab Bi Ratih terbata-bata menahan napas.
"Apa?" teriak Alexander menggelegar, membulatkan kedua matanya.
Begitupun Alice yang sedari tadi sibuk menyendokkan makanan, menghentikan gerakannya. Kepalanya menoleh seketika.
__ADS_1
"Ke mana?" tanya Alice mengerutkan keningnya.
"Ma ... maaf, Bu. Tapi Non Chaca belum pulang sejak kemarin. Tidak ada pesan apa-apa sebelumnya. Ponselnya juga nggak bisa saya hubungi," jelas Bi Ratih ragu dengan raut penuh ketakutan.
Alexander memukul meja sekuat tenaga membuat Alice terlonjak kaget. Begitu pun Bi Ratih. Wajah pria itu memerah menahan amarah.
"Kurang ajar. Mau jadi apa perempuan itu! Tidak pulang semalaman. Seharusnya aku benar-benar menyerahkannya pada Papa waktu itu!" gumamnya dengan dengusan napas kasar.
Ia lalu merogoh ponsel di saku jasnya. Menekan salah satu nama di kontaknya. Lalu meletakkan di telinga menunggu orang di seberang mengangkatnya.
"Cepat cari di mana keberadaan Chaca. Seret dia ke rumah. Saya nggak mau tahu bagaimana pun caranya!" geram Alexander setelah terdengar suara teleponnya diangkat. Ia lalu menutup telepon sepihak sebelum mendapatkan jawaban dari orang tersebut.
"Sabar, Pa. Mungkin dia lagi nginep di rumah temennya. Dan HPnya kehabisan daya kali," bela Alice mengusap lengan sang suami.
"Sabar kamu bilang? Dia itu perempuan, Ma! Mau jadi apa pelajar kok seenaknya sendiri. Kaya nggak punya rumah aja. Apa rumah ini masih kurang besar untuk dia tinggali? Kayak ****** aja!" Masih dengan nada penuh amarah.
Alice membulatkan kedua matanya. "Papa!" pekiknya saat mendengar kalimat terakhir sang suami.
__ADS_1
Bersambung~