Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 33


__ADS_3

Desir angin berembus kuat. Mentari juga semakin menampakkan rona jingga. Gandhi menceritakan semua yang terjadi. Chaca menyembunyikan wajahnya bertumpu di atas kedua lutut yang ditekuk. Deraian air matanya tak terbendung.


Hilang, ia sudah kehilangan semua impiannya. Ia kalah sebelum berperang. Hancur, hatinya bahkan sudah tak berbentuk lagi. Sesak di dadanya kian membuncah.


Ia terus memukul-mukul rongga dadanya yang teramat sesak. Isakan memilukan, bahu yang bergetar hebat membuat Gandhi semakin merasa bersalah. Ia juga sama hancurnya dengan keputusan mendadak yang dibuatnya. Hanya demi menyelamatkan 2 nyawa.


Ingin sekali pria itu merengkuh tubuh Chaca. Mendekap erat dalam pelukannya. Namun Chaca terus menepisnya. Ia benar-benar marah. Sangat marah. Seluruh tubuhnya sudah bergetar hebat, antara sedih, marah, emosi melebur menjadi satu.


"Maaf." Satu kata terucap lirih setelah keduanya saling berdiam diri cukup lama. Kepala Gandhi semakin tertunduk dalam. Menahan sesak di dadanya.


"Pergi," lirih Chaca bahkan nyaris tak terdengar.


Gandhi mengangkat kepalanya, hatinya teramat sakit akan penolakan Chaca begitu tegasnya. Ia sadar, sepenuhnya adalah kesalahannya sendiri. Ini resiko yang harus ia tanggung.


"Aku ...."


"Pergi!" sentak Chaca memotong ucapan Gandhi.

__ADS_1


Pria itu menghela napas panjang. Rasanya tak tega meninggalkan gadis di sampingnya itu sendirian. Tapi ia juga tak bisa memaksa agar Chaca bisa mengerti keadaannya.


Perlahan, Gandhi beranjak. Mata sayunya terus menatap Chaca dengan penuh rasa bersalah juga sakit di hatinya. Tangannya menyeka air mata yang berjatuhan dari sepasang manik matanya.


Satu langkah, dua langkah, ia meninggalkan Chaca. Berhenti, lalu kembali berbalik melihat Chaca yang masih menyembunyikan wajahnya. Tidak menoleh sedikit pun pada pria itu.


Helaan napas berat Gandhi hembuskan, tenggorokannya kering kerontang hingga kesusahan menelan saliva. Ia kembali melanjutkan langkahnya yang terseok.


Tiba-tiba Chaca berdiri dan berlari mengejarnya. Tubuhnya menubruk punggung Gandhi. Tangan kurus itu melingkar erat di perut Gandhi. Kepalanya tenggelam di sana, bersandar dengan nyaman. Bahkan kemeja putih pria itu sudah basah dengan air mata Chaca. Tubuh Gandhi terpaku, ia bergeming tak bergerak.


"Bolehkah aku egois, Om? Aku ... aku enggak mau kehilangan kamu. Bisakah kamu melepaskannya demi aku suatu saat nanti? Kamu ... kamu sudah membawa separuh hatiku, Om. Dan kini tiba-tiba kamu hancurkan separuh lagi hatiku. Kamu jahat, Om. Bahkan lebih jahat dari Daddy." Chaca berucap dengan nada bergelombang dan serak karena terlalu banyak menangis.


Ini pertama kalinya Chaca berbicara aku-kamu. Yang artinya dia memohon dengan lembut. Tangisan yang tak juga mereda semakin membuat Gandhi sulit bernapas.


"Aku mencintaimu, Om. Meski selama ini aku sering punya pasangan, namun di hatiku cuma ada kamu. Enggak pernah bergeser sedikitpun sejak dulu. Aku cuma mau kamu, Om," pintanya lagi. Bahkan suaranya hampir menghilang.


Seketika Gandhi berbalik, memeluk tubuh Chaca dengan erat. Menciumi puncak kepala Chaca. Keduanya larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Takdir telah mempermainkan keduanya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Cha. Sangat. Tapi, inilah jalan hidup yang harus kita jalani. Jika kita memang berjodoh, Tuhan akan kembali mempersatukan kita dengan caranya. Namun jika kita tidak berjodoh, aku selalu berdoa agar kamu mendapat penggantiku yang lebih baik dalam segala hal. Bersabarlah, aku yakin kamu gadis yang kuat." Suara Gandhi yang berat dan terbata, semakin menusuk gendang telinga Chaca hingga menghujam jantungnya.


Chaca menggelengkan kepala. Semakin menenggelamkan kepalanya di dada Gandhi. Lengannya mencengkeram kuat kemeja Gandhi. "Aku enggak mau! Aku cuma mau sama kamu, Om. Jangan tinggalin aku," isak Chaca.


Tangan lebar Gandhi membelai lembut rambut panjang Chaca yang terurai. "Berjanjilah satu hal," ucap Gandhi setelah lebih tenang.


"Apa?" tanya Chaca dengan nada manjanya.


"Fokuslah pada sekolahmu terlebih dahulu. Kamu harus bisa lulus dengan hasil yang bagus. Buat orang tuamu bangga. Sekalipun mereka tidak melihat, tapi aku yakin suatu saat mereka akan menyadarinya." Tidak ada suara bantahan dari gadis itu.


"Masa depan kamu masih panjang, aku menunggu kabar baik itu tiba. Dan, aku akan memutuskan apakah kamu layak menjadi ibu dari anak-anakku, atau tidak."


Gandhi sengaja berucap seperti itu. Ia tidak tahu lagi bagaimana membesarkan hati gadis yang masih labil itu. Ia merasa, alasan itu cukup logis agar Chaca tidak putus asa melanjutkan pendidikannya. Karena memang masa depannya masih panjang.


Pria itu tidak mau, Chaca hancur dan terpuruk hanya gara-gara dia. Meskipun ia sendiri ragu bagaimana nasibnya selama beberapa bulan ke depan.


"Bagaimana?" tanya Gandhi ketika Chaca tak bersuara.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2