
Saat tiba makan malam, Chaca berbaur dengan keluarga Amel. Ia terlihat lebih ceria dibanding saat baru datang ke sana. Meskipun hanya makan sedikit saja. Gurat kesedihan masih terlihat jelas di wajahnya. Meski disamarkan dengan senyuman.
Setelahnya Andra berpamitan kembali ke Malang karena besok harus bekerja. Semua keluarga mengantarnya ke depan.
"Bang, ingat ya," tutur Chaca di depan rumah.
"Iya, Cha," sahutnya mengacak rambut Chaca.
Andra mencium tangan kedua mertuanya, lalu memeluk sang istri begitu lama. Mencium kening serta bibirnya. Chaca yang melihatnya seketika teringat dengan Gandhi.
Ia membayangkan bagaimana setiap hari berjauhan dengan pasangan. Bahkan bertemu hanya beberapa jam. Sedangkan ia merasa kurang bersyukur karena setiap hari bisa bertatap muka dan bermesraan dengan suaminya. Meski akhir-akhir ini sering pulang terlambat.
"Boy, kamu harus kuat biar bisa jagain mama ya," pesan Andra pada sang putra tercinta yang belum tertidur itu.
Baby Al tertawa gemas mencium kedua pipi papanya. Andra segera bergegas agar nanti masih ada waktu beristirahat. Mereka melambai hingga mobil tak terlihat. Lalu semuanya masuk ke kamar masing-masing.
Setelah Baby Al tertidur, Amel mendatangi Chaca di kamarnya. Chaca masih terduduk merenung di ranjang memeluk kedua lututnya. Amel mendudukkan diri di ujung ranjang.
"Eh, Mbak. Baby Al tidur?" ucap Chaca terkejut.
"Sudah, kamu nggak ada yang mau diceritakan?" Amel merasa tidak tahan melihat Chaca seperti itu.
"Mbak? Apa yang Mbak rasakan sebelum bisa hamil Baby Al?" tanya Chaca merangkak mendekati Amel.
Sekarang Amel tahu arah pembicaraannya. Amel sangat mengerti bagaimana perasaan Chaca saat ini. Karena dia juga mengalaminya. Setelah penantian panjang selama bertahun-tahun baru dikarunia sang buah hati.
Amel segera merengkuh Chaca dalam pelukannya. Menepuk punggung Chaca pelan. Chaca kembali menangis tersedu-sedu.
"Jangan pernah dengarkan omongan orang. Tutup mata dan telinga jika ada yang menyinggungnya. Aku tahu itu sulit. Namun, beban itu akan bertambah berat ketika kamu terus memikirkannya," tutur Amel pelan.
"Mbak ...." Chaca sesenggukan tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia hanya mengeratkan pelukan tersebut.
__ADS_1
"Teruslah berjuang bersama suami kamu, pergi bukan solusi menyelesaikan masalah. Justru akan menambah masalah. Namun aku tahu, kamu butuh waktu sendiri dulu. Jangan lama-lama ya, jauh dari suami itu nggak enak lho," tukas Amel.
Chaca teringat semalam ia justru meminta suaminya untuk meninggalkannya, bahkan menyuruhnya untuk menikah lagi. Hal yang memancing kemarahan sang suami.
Lama sekali Chaca baru reda dari tangisannya. Amel memberikan banyak nasehat berdasarkan pengalamannya menghadapi para netizen. Amel juga meminta Chaca agar tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.
"Ingat, ikhtiar, doa dan tawakkal. Terus percaya bahwa kamu bisa, kamu mampu. InsyaAllah, akan segera terkabul."
"Di sini nggak boleh nangis-nangis. Besok ikut ibu ke sanggar ya. Seru loh membatik dari tangan kita," hibur Amel menghapus air mata Chaca.
Chaca mengangguk, Amel memintanya untuk beristirahat. Butuh waktu memang, untuk membangun rasa percaya diri kembali. Amel tahu, Chaca butuh pengalihan untuk menenangkan hatinya kembali. Seorang perempuan apalagi istri pasti sangat sensitif jika disinggung masalah keturunan.
Malam semakin larut, udara di Pekalongan saat itu sangat dingin. Karena hujan turun begitu derasnya. Seolah tahu apa yang sedang Chaca rasakan.
"Mas, apa kamu mencariku? Apa kamu merindukanku?" gumam Chaca memeluk tubuhnya sendiri.
Chaca sulit sekali memejamkan mata. Ternyata jauh dari suami teramat menyiksa karena rindu yang membelenggu. Ia rindu akan pelukan sang suami. Rindu salat berjamaah bersama. Rindu semua tentangnya.
Hampir menjelang pagi, Chaca baru bisa terlelap. Ia sudah sedikit lega bercerita pada Amel.
Mama Alice kembali ke kamar Gandhi. Ia membelai lembut wajah pucat putra kesayangannya. Ia ikut merasakan sakit dalam hatinya. Air matanya terus menetes, tidak tega melihat anak semata wayangnya seperti itu.
"Chaca, kamu ke mana, Nak? Suamimu sungguh hancur tanpamu," ucap Mama Alice berlinang air mata.
Tubuh Gandhi terasa lemah, ia hanya bangun waktu salat saja lalu tertidur kembali. Pikiran dan hatinya sangat kacau. Sudah tidak ada semangat lagi dalam menjalani hidupnya.
Rasa rindu mencekik lehernya, hingga terasa amat sesak. Gandhi terus mengigau menyebutkan nama Chaca.
Hari silih berganti. Gandhi semakin tidak bisa menopang tubuhnya. Ia menyerahkan urusan hotel dan kafe pada managernya masing-masing. Andra menepati janjinya tidak bercerita apa pun pada Gandhi. Namun dia belum tahu kondisi Gandhi.
Di pagi hari, Mama Alice datang membawakan sarapan. Beberapa hari terakhir Gandhi hanya makan satu dua suap saja. Mama Alice meletakkan nampan di nakas.
__ADS_1
"Sayang, ayo sarapan dulu," tutur Mama lembut menyentuh keningnya.
"Astaga! Kamu panas sekali, Nak!" jerit sang mama terjingkat.
Permukaan kulit Gandhi terasa sangat panas. Ia segera keluar meminta pelayan untuk mengambilkan air hangat dan washlap untuk mengompres. Tak lama pelayan datang membawanya.
Mama begitu panik, sudah tiga hari Gandhi tidak keluar dari kamar. Hanya tidur sambil memeluk bingkai foto pernikahannya dengan Chaca. Entah sebenarnya benar tertidur atau hanya sekedar terpejam.
"Sayang kita ke dokter ya," bujuk sang mama mulai mengompres keningnya.
Gandhi menggeleng pelan, "Gandhi nggak apa-apa. Gandhi cuma mau Chaca, Ma," ucapnya begitu lirih.
Mama menangis menutup mulutnya. Suruhan Papa sampai sekarang tidak bisa melacak kepergian Chaca. Ia pun merasa kebingungan bagaimana caranya menemukan Chaca?
"Chaca pasti akan pulang, kamu harus sembuh. Dia pasti sedih kalau lihat kamu terbaring seperti ini. Sekarang ayo makan dulu," bujuk mama lagi masih berusaha menyuapkan nasi sup.
"Chaca pasti pulang 'kan Ma? Apa dia juga merindukan Gandhi?" tutur Gandhi lemah membuka matanya yang begitu sayu.
"Pasti!" Mama mengangguk menghapus air matanya kasar.
Mendengar ucapan mama, Gandhi lalu berusaha mendudukkan tubuhnya. Dia tidak mau melihat istrinya bersedih. Mama membantu, meletakkan bantal untuk dia bersandar. Perlahan mama menyuapinya sedikit demi sedikit.
Baru dua sendok makanan masuk mulut Gandhi, ia merasakan perutnya memberontak karena mual. Gandhi menutup mulutnya, dengan sempoyongan ia berlari menuju kamar mandi.
"Ya Tuhan, ada apa, Sayang?" Mama semakin panik dan khawatir terjadi sesuatu pada Gandhi.
Gandhi memuntahkan seisi perutnya di kamar mandi. Pintunya dikunci sehingga Mama Alice tidak bisa masuk. Ia menjadi sangat panik takut terjadi sesuatu dengannya.
Mama Alice segera menelepon dokter keluarganya meminta untuk segera datang. Lalu menggedor pintu saat Gandhi sudah menyalakan kran wastafel.
Tak lama, Gandhi membuka pintu. Tubuhnya begitu lemah, wajahnya pucat pasi, matanya redup. Gandhi terjatuh, tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Gandhi! Nak, bangun, Sayang! Astaga, Tolong! Tolong!" jerit Mama Alice membalik tubuh Gandhi yang terjerembab.
Bersambung~