Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 50


__ADS_3

Sakit, sesak kini melingkupi hati Chaca. Kenyataan yang mengguncangkan dunianya. Jika boleh berharap, Chaca lebih menginginkan pergi bersama kedua orang tua kandungnya. Dari pada hidup sengsara bersama orang asing.


"Aku nggak mau dilahirkan! Aku nggak mau hidup sama Mommy dan Daddy! Kenapa nggak biarin aku mati aja?" teriak Chaca terisak.


Gandhi mengeratkan pelukannya. Ia ikut menangis, karena ia pun mengalami hal yang sama. Bedanya, bunda menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, meski hidup dalam kesederhanaan.


Alice segera menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di kaki Chaca, meraih tangan Chaca yang melingkar erat di pinggang Gandhi.


"Maafin Mommy dan Daddy, Nak!" ucapnya penuh sesal juga disertai dengan isak tangisnya.


Tangan Gandhi terus menekan kepalanya Chaca di dadanya. Mengusap rambutnya lembut, memberinya kekuatan dengan kasih sayangnya.


"Sayang, tenangin diri kamu," bisik Gandhi.


"Maaf, Cha," ulang Alice sekali lagi.


"Tante, bangunlah. Jangan seperti ini," sergah Gandhi meminta Alice berdiri.


Alice menggeleng, ia bersikukuh tetap bersimpuh sebelum mendapatkan maaf dari Chaca. Menempelkan telapak tangan Chaca di pipinya yang sudah dibanjiri air mata.


"Cha," mohon Gandhi memelas. Ia tidak tega melihat orang tua seperti itu.

__ADS_1


"Sakit, Om. Sakit banget hati aku," lirih Chaca dengan suara seraknya.


Hingga tiba-tiba pelukan Chaca mengendur, isak tangisnya tak terdengar lagi, tubuhnya semakin berat ditopang lengan Gandhi.


"Astagfirullah, Cha! Chaca bangun, Sayang!" Gandhi menepuk-nepuk pipi Chaca. Ia panik karena Chaca tiba-tiba pingsan.


"Cha! Cepat bawa dia ke kamar. Dad, telepon Dokter!" teriak Alice yang ikut panik.


Direngkuhnya tubuh kecil itu dalam gendongan Gandhi ala brydal style. Alice berlari ke lantai atas membukakan pintu kamar Chaca.


Perlahan, Gandhi meletakkannya di atas ranjang besar milik Chaca. Melepas sandal rumahnya. "Tante, ada minyak angin?" tanya Gandhi meluruskan kaki Chaca.


Alice mengangguk-angguk lalu berlari  mencari apa yang diminta Gandhi. Tak lama berselang, ia pun sampai. Tangannya gemetar saat menyerahkan minyak tersebut.


"Sayang," panggilnya membelai puncak kepala Chaca.


"Om," balas Chaca kembali menangis.


"Jangan nangis, ada aku yang selalu bersamamu. Kita lewatin sama-sama ya," ucap Gandhi mendekatkan kepalanya pada Chaca.


Alice dan Alexander menyaksikan anak angkatnya itu. Melihat ketulusan Gandhi yang sepertinya memang sangat mencintai Chaca.

__ADS_1


Kemudian Dokter menyela kemesraan dalam kesedihan mereka. Mulai memeriksa keadaan Chaca, Gandhi pun sedikit menjauh.


"Tensinya sangat rendah nih," ujar dokter setelah memeriksa tensi darah Chaca. "Chaca lagi shock ya? Jangan terlalu banyak pikiran. Saya resepkan obat tambah darah dan vitamin. Diminum sehari sekali ya. Untuk obat lainnya bisa diminum 3x sehari." Dokter menuliskan resep obat.


Chaca hanya mengangguk, dokter menyerahkan resep pada Alexander lalu berpamitan pergi.


"Cha, jangan gini ya, Nak. Maafin Mommy, biar bagaimanapun Chaca anak Mommy dan Daddy." Alice mendekat dan menggenggam jemari lemah Chaca.


"Di mana Chaca lahir, Mom?" tanyanya.  Alice sempat terdiam.


"Di mana Chaca lahir?" ulangnya sekali lagi.


"Rumah Sakit Harapan Bunda, Nak. Memangnya kenapa?"


Chaca beranjak bangun, Alice mencoba membantu namun ditepis olehnya. Chaca menoleh pada Gandhi.  "Om," ucapnya.


Gandhi pun segera mendekat, menopang tubuh lemah Chaca. Kedua kakinya hendak turun dari ranjang.


"Kamu mau ke mana, Cha? Istirahat dulu, kamu belum pulih," cegah Alice menyentuh lengan Chaca.


Namun Chaca melempar tatapan tajam ke arahnya. Gandhi mengerti bagaimana perasaan Alice, ia pun mengusap lengan Alice perlahan, sambil mengangguk. Berharap semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Tante, percaya sama kamu." Alice berucap pelan saat Gandhi berjalan melaluinya sambil memapah Chaca.


Bersambung~


__ADS_2