Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 36


__ADS_3

Gandhi menarik napas dalam. Menghirup oksigen sebanyak mungkin mengisi rongga paru-parunya yang menyempit.


Sedikitpun Ayu tak merasa takut, ia hanya terkejut saja. Lalu bersikap tak acuh. Sedangkan Gandhi berusaha tenang, barulah membuka pintu kamarnya.


"Eh, Bunda. Maaf," ucap Gandhi menggaruk kepalanya.


Mata Bunda menilik ke dalam. Meski hanya dibuka sebagian saja. Takut Gandhi melakukan kekerasan atau semacamnya.


"Ada masalah?" tanya Bunda penuh selidik. Bukan bermaksud ikut campur, namun bunda khawatir jika pertengkarannya terdengar oleh adik-adik di panti.


"Enggak, Bun. Maaf kalau ganggu," ujar Gandhi pelan.


"Pelankan suara ya, Nak. Adik-adikmu lagi belajar," pesan Bunda sambil berbisik takut menyinggung. Ia menepuk-nepuk bahu Gandhi. Bibirnya mengucap sabar tanpa suara yang langsung dipahami oleh Gandhi dan dibalas dengan anggukan.


Setelahnya Bunda kembali ke ruang tengah di mana anak-anaknya sedang belajar sesuai dengan kelas mereka masing-masing.


"Kak Santi. Bantuin dong! Susah banget nih tugas matematikanya," seru Edo yang masih duduk di bangku SMP.


"Iih, usaha dong, Dek. Kakak lagi fokus buat semester besok. Jangan ganggu dong!" tolak Santi masih sibuk dengan buku tebal di depannya.


"Kak Santi mah gitu tiap ditanyain. Coba ada Kak Chaca pasti semua jadi mudah. Huft, aku kangen sama Kak Chaca. Dia selalu sabar ngajarin kita belajar yang nggak ngerti," gerutu Edo menyibak bukunya dengan keras.


"Iya bener," seru yang lain kompak.


Santi memutar bola matanya malas. IQnya yang hanya berada di batas rata-rata memang membuatnya harus belajar dengan keras. Otaknya susah mencerna setiap pelajaran. Namun ia berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan bunda.


"Kenapa nih ribut-ribut?" tanya Gandhi turut bergabung duduk di lantai.


"Ajarin dong, Mas. Ini susah banget. Coba ada Kak Chaca pasti aku cepet pahamnya deh kayak sebelum-sebelumnya," gumam Edo menyodorkan buku tugasnya.


Gandhi terkesiap, ia teringat kembali dengan Chaca. Ia sempat terdiam sebentar, terpejam sambil menghela napas panjang sebelum bunda menyentuh bahunya. Menyadarkan kembali pada dunia nyata.


Pria itu menoleh, menatap bunda yang duduk di kursi tepat dbelakangnya. Tatapan mata mereka beradu, lalu mengangguk. "Enggak apa-apa, Bun," ucap Gandi sangat pelan.


Ia pun mulai mengajari adik-adiknya satu persatu. Sesekali sambil bercanda. Ayu yang mendengar kebisingan mengintip di balik pintu. Terdiam menatap kebersamaan keluarga ini. Tapi tetap saja ia ingin pindah. Tinggal di rumah sendiri.


Mentari mulai menyebul dari ufuk timur, seperti biasa penghuni panti sudah sangat ramai usai salat subuh.


Gandhi juga turut membantu berkutat di dapur bersama bunda. Justru Ayu masih bergelung di bawah selimut.

__ADS_1


"Bun," panggil Gandhi sambil memotong sayuran.


"Iya, Nak," sahut bunda sesekali menoleh mengalihkan fokusnya dari penggorengan.


"Nanti Gandhi mau pindah ya," ujarnya pelan tanpa berani menatap sang bunda.


Seketika bunda menghentikan aktivitasnya. Kebetulan tempe yang digoreng sudah diangkat. Ia matikan kompor sebentar lalu mendekat.


"Kenapa? Kamu sudah tidak mau tinggal bersama Bunda lagi?" balas Bunda dengan nada kecewa.


"Bu--bukan begitu, Bun. Ini juga rumaha Gandhi 'kan? Gandhi dibesarkan di sinis sejak bayi. Tapi, sekarang Gandhi sudah berumah tangga. Sebaiknya, kami tinggal sendiri saja," papar Gandhi takut jika sang bunda salah paham.


Bunda mengembuskan napas dengan kasar. Ia berat jika harus ditinggalkan putra sulungnya itu. Baginya Gandhi tetaplah anak kecilnya yang manja.


"Kamu sudah punya rumah?" tanya Bunda dengan mata berkaca-kaca.


Mengingat istrinya yang sulit dikendalikan, ia merasa kasihan dengan Gandhi.


Sebuah anggukan menjadi jawabannya, "Gandhi sudah membeli rumah. Kecil sih, Bun. Enggak terlalu besar. Baru bayar sebagian. Sebagiannya lagi masih dicicil."


"Yasudah kalau itu mau kamu. Bunda bisa apa? Tapi harus sering kunjungi Bunda. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita sama Bunda," pesan bunda mengusap kepala Gandhi dengan sayang.


Usai sarapan, ia mengajak Ayu segera berkemas. Ayu tampak bahagia. Menurutnya tinggal di sini seperti di penjara. Tidak bisa bebas bergerak. Padahal dia sendiri yang tidak mau berbaur dengan keluarga besar suaminya itu.


"Gan! Kamu nggak nungguin adik-adikmu pulang?" tanya bunda ketika mereka sudah siap di teras.


"Gandhi takut mereka sedih, Bun. Nanti Bunda aja yang ngomong. Hehehe," ujar Gandhi menyengir.


"Dasar. Hati-hati ya," tutur Bunda.


Gandhi mencium tangan bunda lalu berujar, "Jaga kesehatan ya, Bun."


Ayu yang masih fokus dengan ponselnya tampak tak acuh dengan perpisahan antara ibu dan anak itu. Ia berjalan menuju mobil. Namun Gandhi segera menarik kerah bajunya hingga wanita itu terpundur beberapa langkah.


"Apaan sih, Mas?!" geramnya melotot tajam.


"Yang sopan sedikit lah sama orang tua." Gandhi tak kalah berang.


Ayu berdecak namun tetap menuruti Gandhi dengan mencium tangan bunda sama sepertinya tadi. Meski dengan malas.

__ADS_1


"Hati-hati," ucap bunda pelan hanya dibalas anggukan.


"Kami pamit ya, Bun. Assalamualaikum." Gandhi menarik dua koper menuju mobilnya, diikuti Ayu di belakang.


"Waalaikumsalam," balas bunda mengusap dadanya. Dalam hati ia selalu berdoa untuk kesabaran berlebih pada putra kesayangannya.


Sementara itu di sepanjang perjalanan mereka saling terdiam. Keheningan mendominasi mobil tersebut.


Tak lama, Gandhi memarkirkan mobilnya di sebuah rumah minimalis berjajar dengan banyaknya rumah di sana. Ya, memang sudah lama Gandhi membelinya, ia pikir untuk investasi setelah pembayarannya lunas. Namun kejadian tak terduga menghampiri.


Ayu mengernyitkan dahinya kala Gandhi mematikan mesin mobil. Matanya menyapu sekeliling.


"Udah sampe?" tanyanya.


"Hemm," balas Gandhi melepas sabuk pengaman lalu keluar. Ayu segera mengikutinya.


"Yaampun kecil banget sih, Mas rumahnya!" decak Ayu berkacsk pinggang.


Gandhi meraih kunci di saku kemeja, lalu membuka pintu rumahnya yang belum pernah ia huni sekalipun.


"Uhuk! Uhuk!" Ayu langsung terbatuk-batuk begitu melewati pintu utama. Sambil tangannya menyibak debu-debu yang berterbangan.


"Udah kecil, pengap pula," gerutunya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Ia mengikuti langkah Gandhi yang menarik kopernya. Pandangannya tidak fokus ke depan sehingga, tidak menyadari jika Gandhi berhent. Hingga tabrakan pun tak terelakkan.


"Iih gimana sih, Mas?"


"Kamu yang jalan sambil melamun, Ayu!" geram Gandhi dengan jengkelnya.


Tanpa menjawab ia pun menyelonong masuk begitu saja. Sehingga membuat Gandhi menarik lengannya.


"Mau ke mana kamu?" tanya Gandhi.


"Masuklah istirahat."


"Kamu di kamar satunya. Ini kamarku! Valid, no debat!" jelas Gandhi memasuki kamar dan menutup pintu dengan keras.


Ayu masih terbengong dengan ucapan pria yang berstatus suaminya itu. "Iiih, nyebelin!" gerutunya dengan kesalkesal memutar tubuh menuju kamar yang berhadapan dengan kamar pria itu.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2