Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Dunia A2


__ADS_3

Author POV


Setelah kematian sang ayah tak lama usai perceraiannya dengan Gandhi, Anjar melamar Ayu sesuai janjinya. Meskipun tidak dilakukan pesta yang besar, tak berapa lama ia pun hamil lagi.


Kini, mereka menempati rumah Gandhi. Ayu sangat malu dengannya, dia sadar dengan semua sikapnya. Meskipun Ayu menyakiti hati mantan suaminya itu, Gandhi masih berbesar hati memaafkan semua kesalahannya. Bahkan sekarang ia memberikan rumah hasil jerih payahnya sebagai hadiah pernikahan.


'Ya Tuhan, begitu mulia sekali hatimu Mas. Aku sungguh tidak pantas mendapatkan ini semua. Kesalahanku sangat fatal, mendapatkan maaf darimu saja aku sudah sangat bersyukur.' gumam Ayu melamun di kamarnya.


Ayu tidak menempati kamar Gandhi. Ia hanya membersihkannya setiap hari tanpa mau tinggal. Karena setiap Ayu memasukinya, ia teringat akan perilaku buruk pada mantan suaminya. Yang hanya berujung pada sesak di dadanya karena menangis penuh penyesalan.


Dia dan Anjar yang sudah berstatus suaminya itu memilih kamar di sebelahnya. Sedangkan Sofi yang tak lain adalah ibunya Anjar menempati kamar tamu yang ada di kamar bawah.


Awalnya Sofi terkejut dengan pernikahan Anjar yang tiba-tiba. Namun lama-kelamaan dia bisa menerimanya karena Anjar pandai berkilah. Entah kenapa Sofi terlihat tidak menyukai Ayu.


'Hati kamu terbuat dari apa Mas Gandhi? Kamu bahkan bersusah payah mencari Mas Anjar agar mau bertanggung jawab. Kamu mau memberikan rumah ini, kamu juga sudi merawatku ketika aku sedang sakit. Aku sungguh malu dan menyesal. Maafin aku Mas,' gumamnya sambil menangis tersedu-sedu. Jemarinya mencengkeram kuat tralis besi yang terpasang di jendela.


Penyesalannya semakin dalam ketika sikap Anjar berubah setelah menikah. Dia menjadi pria yang tidak peduli dengan segala keluh kesah isterinya itu.


Padahal kehamilannya sudah memasuki usia 3 bulan. Belum terlalu membuncit, hanya kelihatan jika orang memperhatikannya dengan seksama. Apalagi ia sering mengenakan baju longgar semakin tidak menunjukkan kehamilannya.


"BRAK! BRAK! BRAK!"


Ayu terjingkat mendengarnya. Dengan cepat, ia menghapus air mata yang menetes sedari tadi. Ayu berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


"Ibu," ucapnya lirih melihat mertuanya berdiri di depannya.


"Ngapain aja kamu? Dasar pemalas! Masak sana kasihan suamimu kalau pulang enggak ada makanan!" pekiknya melotot tajam.


Hampir setiap hari Ayu selalu diomeli oleh Sofi. Apa yg dilakukannya selalu salah di mata ibu mertuanya itu.


"Maaf Bu, aku sedang ...."


"Jangan mengelak, pergi ke dapur sekarang juga!" belum sempat menyelesaikan ucapannya, Sofi sudah memotongnya lebih dulu.


Ayu menunduk lalu berjalan ke arah dapur. Ia tidak bisa membantah. Air matanya kembali menetes, ibunya saja tidak pernah memperlakukannya seperti itu.


"Tuhan ... apakah ini yang dinamakan karma?" ratap Ayu mengenakan celemek dan membuka kulkas mengambil bahan-bahan untuk dimasak.


Sejak awal pertemuannya hingga sekarang, Sofi tidak pernah bersikap lembut pada Ayu. Anjar juga tidak pernah melayaninya setelah tahu wanita itu mengandung lagi. Lelaki itu selalu beralasan sibuk. Pulang ke rumah tidak menentu. Hanya sekedar memberikan nafkah lahir saja.


Hal itu semakin membuatnya teringat akan Gandhi. Pria sempurna yang selalu memperlakukannya dengan lembut meskipun Ayu terus menyakitinya.


"Mas Gandhi," lirihnya ditengah isakan sembari memotong sayuran.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya, Anjar pulang lebih awal. Ayu buru-buru menyelesaikan masakannya. Ia juga menghapus air matanya kasar.


Derap langkah yang mendekat membuat detak jantungnya berdegub kencang. Ia merasa ketakutan. Benar saja, Sofi sudah ada di depannya. Ayu menundukkan kepalanya.


"Tuh suami kamu sudah pulang! Masih belum siap juga? Dasar lelet!" sindir Sofi bersedekap.


"Ma ... maaf Bu, biasanya Mas Anjar pulangnya malam. Jadi ...."


"Jangan banyak alasan! Harusnya kamu sudah siapkan dari tadi. Kalau dia pulang kamu tinggal panasi saja. Gimana sih? Gitu aja harus dikasih tau. Ampun deh, kok bisa sih Anjar nikah sama wanita seperti kamu," sinisnya lagi.


Ayu hanya diam saja tidak mau menjawab apapun. Karena setiap ucapan yang terlontar dari bibirnya pasti selalu disalahkan. Ia mengaduk-aduk sup mendidih di panci dengan gemetar. Dadanya sesak dan bergemuruh.


"Aku hamil anaknya saja diperlakukan seperti ini. Bagaimana kalau aku tidak hamil? Pasti lebih parah dari ini," gumamnya ketika ibu mertuanya sudah menjauh.


Ayu sudah menyiapkan makan malam di meja. Lalu bermaksud memanggil suaminya. Ia berjalan perlahan meniti anak tangga. Sesekali mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


"Sayang kamu harus kuat ya, anak mama kan pinter," ucapnya terus berjalan menuju kamarnya.


Tanpa mengetuk, Ayu membuka pintu perlahan. Anjar yang sedang berganti pakaian, terkejut dengan pintu yang terbuka.


"Kenapa enggak ketuk pintu sih?" ketus Anjar melihat Ayu berjalan mendekatnya.


"Maaf Mas, aku enggak tahu," sahutnya pelan.


Anjar malah langsung membaringkan tubuhnya di kasur membelakangi Ayu. Wanita itu memejamkan matanya dan menghela napas panjang.


"Mas, makan dulu," ucapnya menyentuh bahu suaminya.


"Aku udah makan. Aku capek jangan ganggu aku!" sahut Anjar menarik selimut hingga menutupi lehernya.


Ayu berbalik kecewa, mencoba menahan emosinya. Dia takut akan mempengaruhi kondisi janinnya. Ayu kembali ke meja makan, di sana tidak terlihat ibu mertuanya.


Dia mengambil sedikit makanan di piring dan mulai memakannya. Lagi-lagi air matanya menetes, teringat akan Gandhi yang menyuapinya ketika sakit. Tapi sekarang? Suaminya saja tidak pernah menanyakan kabarnya.


"Mas Gandhi, aku merindukanmu. Kamu lelaki terbaik Mas. Aku sungguh menyesal." Tangisnya sesenggukan.


Ayu tidak dapat melanjutkan makannya. Tenggorokannya tercekat, tak mampu menelan makanan. Dia menopangkan kepalanya di meja makan. Menangis dalam kesendirian.


Beruntung bayinya tidak rewel. Selama kehamilannya, Ayu tidak pernah merasakan mual muntah atau pusing dan semacamnya. Mungkin memang jabang bayi sangat mengerti ibunya.


Setelah lelah menangis, Ayu kembali membereskan makanan yang sudah dingin. Ia membuang makanan sisanya dan mencuci piring-piring kotor.


Kemudian beranjak ke kamar. Anjar terlihat sudah tertidur pulas. Ayu merebahkan tubuhnya di belakang Anjar. Matanya menatap langit-langit.

__ADS_1


"Mas, besok waktunya kontrol kehamilan. Kamu tolong temenin aku ya," ucap Ayu menyentuh pundak suaminya.


Tidak ada jawaban dari Anjar. "Hmm ... besok sajalah bilangnya. Mungkin dia memang lelah," gumam Ayu lalu memejamkan matanya.


***


Keesokan harinya, Ayu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan. Saat kembali ke kamar terlihat Anjar sudah rapi dengan kemeja panjang, celana jeans dan begitu wangi.


"Mas, pagi sekali mau ke mana?" tanya Ayu.


"Cari duitlah!" jawabnya ketus.


"Sarapan dulu Mas, sudah siap. Aku tunggu di meja makan," balas Ayu pelan dan bersabar dengan suaminya.


Ayu kembali ke meja makan, Sofi sudah terlihat sedang menyantap makanan. Ayu segera duduk di tempatnya, tidak berani menyapa ibu mertuanya.


"Mana suami kamu?" tanya Sofi melirik Ayu.


"Sedang bersiap Bu," balasnya menunduk menyiapkan makanan di piring suaminya.


Tak lama kemudian, Anjar turut bergabung di meja makan. Lalu memakan makanan yang ada di hadapannya.


"Mas, aku hari ini jadwal kontrol kandungan. Bisa tolong anterin aku enggak?" tutur Ayu ragu-ragu.


"Tidak, aku sibuk," tolak Anjar tanpa melihat isterinya.


Ayu terdiam seketika. Dia berusaha keras menelan makanannya dan menahan air mata agar tidak terjatuh.


'Kenapa kamu berubah drastis Mas? Kenapa kamu tidak peduli? Ini darah daging kamu Mas.' Ayu hanya mampu berucap dalam hati.


Sofi bergeming, tidak menanggapi obrolan anak dan menantunya. Masih asyik menyantap makanannya.


Anjar dan Sofi beranjak ketika selesai makan. Sofi pergi ke kamarnya, sedangkan Anjar pamitnya pergi bekerja.


Setelah membereskan semuanya, Ayu bersiap hendak ke dokter. Lalu dia mencoba menghubungi seseorang.


Bersambung~


^Kali aja ada yang kangen ular betina 🀣🀣


Inget yaa ... apa yang kamu tabur itu pula yang akan kamu tuai 😎


Terima kasih banyak supportnya ya semuanya 😚 Terima kasih juga yang bersabar menunggu. Om Gandhi dan Chaca lagi masa tenang. Kembali hadir besok 😚

__ADS_1


__ADS_2