Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Cemburu


__ADS_3

Gandhi POV


"Dari siapa Om?" tanya Chaca ketika aku selesai menerima telepon.


"Jangan dipikirin, enggak penting buat kamu," jawabku membelai kepalanya lembut.


Chaca terlihat memanyunkan bibirnya. Aku mulai menjalankan mobil perlahan. Aku sangat bahagia, ini benar-benar sebuah keajaiban. Chaca bisa kembali berjalan secepat ini.


Tak lama mobil telah terparkir di halaman rumah sakit. Aku segera memapah Chaca berjalan. Sebenarnya mau aku gendong, tapi Chaca memberontak katanya malu.


"Kamu duduk sini dulu Sayang, aku mau urus pendaftaran dulu. Ingat, jangan banyak jalan ya!" tukasku memberi peringatan.


"Iya iya Om," jawabnya sambil tersenyum manis.


Aku bergegas ke bagian pendaftaran dan mengambil nomor antrian. Antriannya panjang sekali, Chaca harus menunggu agak lama nih.


Aku tidak mau duduk ketika menunggu, masih berdiri di barisan paling belakang sambil memainkan ponsel. Aku terkejut, tiba-tiba ada yang memelukku erat di balik punggung. Ia menangis sesenggukan, bahkan kemejaku sampai basah.


"Mas Gandhi," panggilnya di sela tangisnya.


DEG!


Suara itu? Aku segera berbalik dan benar saja, Ayu berdiri di depanku dengan keadaan yang kacau. Air matanya mengalir deras di kedua pipinya. Ngapain dia di sini? Aku melihat sekelilingnya, kenapa dia sendirian?


Belum sempat bertanya apa-apa, Ayu kembali memelukku erat. Aku mencekal kedua bahunya agar segera melepaskannya. Enggak mungkin jika aku mendorongnya dia sedang hamil. Aku takut menyakiti bayinya.


"Brengsek! Ngapain lo peluk-peluk tunangan gue?" pekik Chaca menjambak rambut Ayu dari belakang. Hingga membuat Ayu meringis dan melepaskan pelukannya.


"Sayang, lepasin! Jangan kasar dia sedang hamil," ucapku pelan mendekatinya.


"Apa? Kamu seneng dipeluk-peluk sama dia?Dan lo, jangan pernah berani deketin calon suami gue!" teriaknya lagi memperingatkan Chaca.


Ayu menatap kami berdua bergantian sembari memegang rambutnya yang ditarik oleh Chaca tadi.


"Bukan begitu Sayang. Ayu, tolong lain kali jangan seperti itu lagi. Aku takut terjadi apa-apa sama bayi kamu jika aku emosi. Dan lagi sebentar lagi aku akan menikah," ucapku mengalungkan tangan di leher Chaca.


Chaca masih geram, terlihat matanya menyalang dan rahangnya yang mengetat. Ayu semakin menangis. Ia menutup mulutnya dan air matanya semakin deras.


Aku tidak tega melihatnya, tapi kalau aku kasih hati nanti ngelunjak lagi.


"Kamu? Bukannya perempuan yang waktu itu ke rumah?" tanyanya sesenggukan melirik Chaca.


"Iya kenapa? Masalah? Lo udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Om Gandhi. Lo sendiri yang khianatin dan nyakitin hatinya. Lo sendiri yang minta pisah sama dia kan? Gue harap lo jangan deketin Om Gandhi lagi!" seru Chaca berkacak pinggang.

__ADS_1


Dalam hati aku tertawa. Secantik itu Chaca kalau lagi terbakar api cemburu. Makin sayang kan jadinya.


"Sayang udah, kita jadi pusat perhatian," bisikku memeluknya.


"Apa liat-liat?" teriak Chaca pada orang-orang yang melihat pertikaian kami.


Astaga Sayang, ingin kumasukkan karung deh kamu. Malu banget Cha, ini muka nggak ada serepannya.


"Ayu, mendingan kamu pergi dari sini," ucapku pelan. Ia mengangguk dan mendekatiku, Chaca masih memperhatikan orang-orang.


"Tolong buka blokir nomorku Mas, ada hal penting," bisiknya di depanku hampir tidak ada jarak.


"Jangan deket-deket! Pergi nggak?" teriak Chaca hampir menjambaknya lagi. Aku menarik Chaca dalam pelukan, lalu mencium keningnya.


"Sudah, abaikan Sayang. Noh antrian udah abis. Lets go!" Aku menariknya mengambil nomor lalu mencari ruangan Dokter Ortopedi.


Kami berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Chaca diam saja, terlihat emosi masih mengelimuti dirinya. Membuatku menahan senyum sedari tadi.


Sesampainya di ruang tunggu, pandanganku mencari tempat duduk yang kosong.


"Pojok aja Sayang," ucapku menarik tangannya.


Saat duduk, aku meraih jemarinya. Namun ditepis oleh Chaca. Dia memalingkan wajahnya.


"Sayang, kamu marah sama aku?" tanyaku merengkuh pinggangnya. Aku menopangkan dagu pada bahunya karena dia membelakangiku.


"Astaga Sayang aku udah enggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia," ucapku pelan agar tidak menjadi pusat perhatian lagi.


Napas Chaca masih memburu bahkan terdengar degub jantungnya yang berantakan. Ia membuang napas kasar.


"Kenapa diam aja waktu dipeluk? Cari-cari kesempatan ya?" ketusnya masih tidak mau menoleh.


Aku tertawa geli. "Sayang, aku terkejut tadi. Aku sampai bingung harus gimana? Mau aku dorong takut dia terjengkang. Kalau ada apa-apa sama bayinya gimana?"


Aku mencuri ciuman sekilas di pipinya. Kemudian dia berbalik dan menghadap ke arahku. Jemarinya menyentuh kedua pipiku.


"Jadi tadi kamu nelpon dia?" tanyanya sudah memelankan suaranya.


Kuraih tangannya kukecup bergantian lalu berkata, "Tidak Sayang. Tadi Andra yang nelpon. Ada sedikit masalah kerjaan. Nanti kita ketemu Andra sebentar ya."


"Oooh," ujarnya membulatkan mulutnya.


Aku mengusap rambutnya gemas. Tak lama kemudian giliran Chaca masuk ke ruangan karena nomor antriannya sudah dipanggil.

__ADS_1


"Selamat pagi Chatrine," sapa Dokter melihat history pemeriksaan Chaca.


"Chaca Dok!" protesnya.


Dokter itu mengerutkan keningnya bingung. Aku membenarkan jika Chatrine dan Chaca itu orang yang sama. Membuat Dokter itu tertawa.


Setelah menanyakan keadaan Chaca saat ini, Dokter mulai memeriksanya. Chaca berbaring di brankar, aku menunggunya di kursi. Aku meremas kedua tanganku, khawatir dengan hasil pemeriksaan.


Suara sibakan tirai setelah sekian lama membuatku menoleh. Aku berdiri membantu Chaca turun dan memapahnya duduk di kursi.


"Bagaimana Dok?" tanyaku penasaran melihat raut wajah Dokter itu sangat serius.


"Ini ... ini sangat luar biasa. Berdasarkan hasil diagnosis saya, tidak terdapat infeksi, kerusakan saraf akibat jaringan parut, dan penyembuhan tulang sudah sempurna. Juga tidak ada rasa nyeri yang timbul pada sekitar area penanaman pen. Bisa jadi karena kamu masih muda dan kondisi fisikmu bagus Cha, proses kesembuhan kamu lebih cepat. Jadi Chaca, kamu sudah dinyatakan sembuh," tutur Dokter tersenyum.


Aku memeluk Chaca yang berkaca-kaca. "Selamat Sayang," ucapku mengusap punggungnya.


"Tapi ingat, jangan berlari dulu, hindari mengangkat beban berat, dan jangan berdiri terlalu lama. Rajin kontrol setiap sebulan sekali ya," pesannya sambil menuliskan resep obat.


Kami mengangguk paham lalu mengambil resep tersebut. Setelahnya kami berterima kasih dan berjalan keluar.


"Tunggu di sini aku ambil obat dulu ya Sayang," tuturku mencium keningnya lalu meniggalkannya ke apotik.


Sembari menunggu dipanggil aku menelepon Andra memastikan pertemuan kami. Aku menempelkan ponsel pada telinga menunggu diangkat olehnya.


"Ndra, sekarang. Aku udah perjalanan," ucapku lalu kembali menutup telepon setelah mendapat jawaban dari Andra.


Kemudian aku dan Chaca pergi ke kafe tempat janjian dengan Andra. Aku selalu memegang tangan Chaca di sepanjang jalan.


"Om kita ketemuannya di mana? Aku laper banget dari pagi belum sarapan," ucap Chaca setelah mengenakan seatbelt.


"Di kafe nggak jauh dari sini Sayang, nanti makan yang banyak ya," ucapku mulai menjalankan mobil.


Disepanjang perjalanan, Chaca mulai cerewet lagi seperti sedia kala. Dia juga lebih keras sekarang, apalagi semenjak Bunda meninggal.


Sekitar 15 menit perjalanan, kami telah sampai di tempat yang telah dijanjikan. Aku turun terlebih dulu lalu berlari membukakan pintu untuk Chaca.


"Silahkan tuan putri," ucapku membukakan pintu dan membungkuk sambil meraih tangannya.


"Apaan sih Om, lebay," celetuknya cekikikan.


Aku hanya tertawa menanggapinya. Lalu kami segera masuk karena Andra sudah menunggu sedari tadi. Mataku mengeliling mencari keberadaannya. Aku menarik Chaca setelah melihat Andra. Lalu duduk di depannya.


"Maaf lama Mas," ucap seorang wanita bergabung di meja kami.

__ADS_1


Bersambung~


Like dan comennn ❤


__ADS_2