Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Bryan Atmaja


__ADS_3

Seorang pria yang mungkin seumuranku keluar dari rumah. Siapa dia? Kenapa dia manggil Mama dengan sebutan Mommy. Bukannya Mama bilang, aku tidak ada saudara.


"Mom, dia Chaca?" tanya pria itu.


Mama melepas pelukannya, lalu menoleh ke belakang. Ia mengangguk mengiyakan. Chaca masih diam saja, seolah dia juga bertanya-tanya siapa pria itu.


"Iya Bry, dia Chaca," sahut Mama.


"Oh My God, kamu udah gede Sayang, makin cantik aja sih," serunya memeluk Chaca dan memutar tubuh Chaca yang terkejut.


"Hei! Apa yang kamu lakukan? Lepasin!" pekikku menarik lengannya.


Dia melepaskan Chaca, aku segera merengkuh pinggangnya. Aku enggak rela ada laki-laki lain yang menyentuh Chaca.


"Kamu siapa?" tanya Chaca merapatkan tubuhnya padaku.


"Bry, ini Gandhi anak kandung Mommy yang tadi Mommy ceritain. Gandhi, dia Bryan sepupu kamu Sayang. Selama ini Bryan tinggal di Bandung. Cha, kamu lupa sama Bryan?" tutur Mama menjelaskan.


"Hai, salam kenal ya aku Bryan. Saudara sepupu kamu yang paling tampan," ucapnya.


Chaca tiba-tiba mendekati laki-laki itu, matanya menelisik dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Ia menatap Chaca genit menaik turunkan alisnya. Lalu Chaca mendorongnya, memukuli dada pria itu dengan tangan kecilnya.


"Kamu! Ngapain kamu di sini? Pulang sana! Kamu dulu selalu mengerjaiku. Kamu suka menggodaku, menyembunyikan semua mainanku bahkan mau merebut Mommy dariku. Pergi dasar kodok!" pekiknya masih meluapkan emosi.


"Ampun! Ampun incess, udah dong masih dendam aja. Udah gede juga," sahut Bryan mencolek dagu Chaca yang langsung diusap kasar olehnya.


Aku hanya diam, memperhatikan apa yang terjadi. Karena aku memang tidak mengerti apa-apa di sini.


"Sudah sudah, ayo masuk Sayang. Daddy pasti seneng banget kamu bisa jalan," ujar Mama menengahi merangkul Chaca masuk.


Aku mengikutinya dari belakang. Bryan turut merangkul Chaca dari sisi kirinya, namun selalu ditepis kasar oleh Chaca. Aku enggak suka ada yang peluk-peluk Chaca selain aku. Tapi enggak enak sama Mama.


Aku menghela napas kasar. Aku benci melihat ini. Entahlah aku benar-benar tidak mengerti saudaraku siapa aja dan orang mana aja. Kecuali saudara-saudaraku di panti.


Kami berhenti di depan kamar Papa. Mama mencoba mengetuk pintu, sedangkan Chaca bersembunyi di balik punggung Mama.


"Diem kodok ih, mau bikin kejutan buat Daddy nih," bisik Chaca pada Bryan yang sedari tadi masih menjahilinya. Cuaca mendadak jadi panas banget gini.


Tak lama pintu terbuka. Daddy terlihat bingung karena semua orang berkumpul di depannya. Aku hanya tersenyum ketika beliau menatapku begitu juga dengan Mama.


"Pa, Mama ada kejutan. Papa pasti seneng banget," ucap Mama.


"Apa Ma? Dan ini kenapa pada kumpul di sini?" tanya Papa membenarkan kaca matanya.

__ADS_1


Dalam hitungan ketiga Mama menggeser tempat berdirinya hingga terlihat Chaca yang menundukkan kepalanya.


"Cha! Ini kamu?" tanya Papa melangkah mendekati Chaca. Ia menggoyangkan kedua bahu Chaca, lalu memeluknya penuh syukur.


"Syukurlah, kamu sudah sembuh Sayang," ucapnya.


"Iya Dad, maafin Chaca ya selalu ngrepotin," balas Chaca.


"Ish ngomong apa kamu? Kamu kan juga anak Daddy jangan pernah sungkan," ucap Papa lalu melepas pelukannya.


Setelahnya kami makan malam bersama-sama. Bryan selalu menjahili Chaca. Sungguh aku sangat membencimu Bry, coba aja di luar enggak ada Mama Papa habis kamu!


Aku makan penuh emosi. Tak butuh waktu lama makananku sudah habis. Bahkan aku sampai tidak sadar saking fokusnya sama mereka.


Seusai meletakkan gelas kosong yang telah kuminum airnya, aku mencoba membuka percakapan.


"Ehm! Ma, Pa ada yang mau Gandhi sampaikan," ujarku menyela makan malam mereka.


"Cepet banget makannya, Om?" ucap Chaca masih mengunyah.


"Jangan bicara kalau belum selesai makan!" seruku menatapnya tajam. Chaca menunduk, lalu menghabiskan makanannya.


"Gimana Sayang?" tanya Mama mengusap bibirnya dengan tissu, setelah meletakkan sendok.


"Minggu depan, Gandhi dan Chaca mau menikah," ucapku pelan.


"Apa?" teriak Papa, Mama dan Bryan bersamaan.


Seketika aku menjadi gugup. Kenapa? Apa mereka tidak setuju dengan rencanaku. Susah payah aku menelan saliva, serasa ada batu yang nyangkut di tenggorokan.


Chaca pun terdiam, ia langsung meletakkan sendoknya dan tidak melanjutkan makan. Raut wajahnya penuh kekhawatiran.


"Ke-kenapa Ma? Pa? A-apa kalian tidak setuju?" tanyaku gugup.


Sedetik kemudian Papa dan Mama tertawa bersamaan. Tapi tidak dengan Bryan, nampak keterkejutan sekaligus kekecewaan.


"Sayang, Mama senang sekali. Mama hanya terkejut saja. Tapi apa ini tidak terlalu mendadak? Bagaimana dengan persiapannya?" ucap Mama pelan.


"Iya Gan, Papa juga terkejut. Kenapa mendadak sekali? Kita belum persiapan apa-apa loh!" tukas Papa menimpali.


Aku mendesah lega seolah batu-batu yang mengganjal tadi remuk dan menghilang seketika. Chaca juga langsung menyunggingkan senyum malu-malu.


"Persiapan sudah 60% Pa, Ma, untuk akadnya. Kami tidak mau acaranya terlalu berlebihan. Yang penting sudah sah di mata agama maupun hukum. Iya kan Sayang?" jelasku memegang jemari Chaca yang duduk di sampingku.

__ADS_1


"Iya Mom, Dad, aku enggak mau terlalu ramai," sahut Chaca.


"Tidak bisa! Kamu itu anak Papa satu-satunya. Relasi Papa dan Mama juga banyak. Kami harus memperkenalkan kalian ke khalayak publik. Jadi wajib ada resepsi besar-besaran. Papa mau mengumumkan pada dunia, bahwa Papa mempunyai anak laki-laki yang hebat dan ganteng seperti Papa," tegas Papa tidak terima.


"Iya, Mama juga setuju dengan Papa. Mama kan juga mau pamer sama temen-temen Mama. Punya anak dan menantu yang ganteng dan cantik," imbuh Mama.


Sebenarnya aku tidak suka dengan keramaian, aku juga tidak pengen dipamerkan atau ditunjukkan pada semua orang bahwa aku adalah anak Papa dan Mama. Aku lebih nyaman orang-orang mengenalku menjadi diri sendiri dengan kesederhanaan.


"Ta-tapi Pa ...."


"Tidak ada tapi-tapian! Untuk kali ini kalian harus nurut sama Papa dan Mama!" tukas Papa lagi.


"Gini aja Sayang, kalian akad minggu depan. Dan acaranya terserah kalian saja. Tapi untuk resepsi kita adakan bulan depan atau 2 bulan lagi, gimana? Semua resepsi harus Mama sendiri yang turun tangan. Tidak boleh menolak!" saran Mama menengahi.


"Eum ... yaudah kita ngikut aja Ma, Pa," desahku pasrah.


Chaca hanya mengangguk dengan senyuman yang tidak pudar sedari tadi. Sedangkan Bryan, diam saja tidak menanggapi apa-apa. Namun terlihat jelas, kedua tangannya mengepal di atas meja hingga terlihat otot-ototnya menegang.


Apa dia ada perasaan sama Chaca?


"Kalau begitu Gandhi permisi ya Pa, Ma, Gandhi mau istirahat," pamitku segera beranjak berdiri.


"Iya Sayang," sahut Mama sedangkan Papa hanya mengangguk menyelesaikan makannya.


Saat aku meniti anak tangga satu persatu, Chaca berlari mengikutiku dan menarik tanganku. Namun aku tidak peduli, aku terus berjalan menuju kamarku.


"Om tungguin ih!" serunya menarik kemejaku.


Aku menoleh melihatnya yang sedang berbinar-binar. Jangan tergoda Gandhi!


"Lepas!" pekikku membuatnya terkejut.


Aku kembali berbalik dan berjalan menuju kamar. Ternyata Chaca masih mengikutiku sampai ke kamar.


"Ngapain Cha?" ujarku ketus sambil duduk di ranjang.


"Om kenapa sih?" balasnya mendudukkan dirinya di sampingku.


Aku diam tidak menjawab, lalu melepas sepatuku dan mengambil handuk. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Chaca menggeram, ia turut berdiri dan mengikutiku lagi.


"Kamu mau ngapain Cha? Aku mau mandi. Sana balik kamarmu!" seruku menghentikan langkah.


"Om kenapa?" ucapnya berkaca-kaca.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2