Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 30


__ADS_3

Suara pecahan piring dan gelas yang menggelegar menyita perhatian semua orang di ruangan itu. Karena suara sound system berada jauh di ujung pelataran rumah.


"Kak Chaca?" pekik semua anak-anak panti.


Pandangan Chaca sudah mengabur akibat air mata yang menyeruak. Kakinya lunglai, ingin sekali berlari dari tempat itu tapi rasanya lemas sekali. Ia terduduk di lantai.


Anak-anak panti menghambur padanya, termasuk Gandhi juga berlari dan berjongkok di sampingnya. Tangan pria itu hendak menyentuh lengan Chaca, namun segera ditepis dengan kasar oleh gadis itu.


Tatapan keduanya saling beradu, pandangan menyakitkan tertoreh dari manik keduanya. Gandhi pun mulai berkaca-kaca.


"A ... aku bisa jelaskan semuanya, Cha," lirih Gandhi dengan suara bergetar.


Dada Chaca sudah merasa sesak. Teramat sesak seolah pasokan oksigen di sekitarnya sudah habis. "Gue benci banget sama lo!" ucap Chaca penuh penekanan.


"It's oke. Tapi tolong dengerin penjelasan aku," ucap Gandhi memohon.


"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi. Semuanya udah jelas. Thanks udah jadi penyumbang sakit hati terbesar gue!" sahut Chaca berteriak. Ia berusaha berdiri lalu berlari meninggalkan tempat yang teramat menyakitkan itu.


"Chaca! Cha!" pekik Gandhi mengerang frustasi. "Aaaaarghh!" Kakinya menendang tembok di depannya. Mengusap kasar wajahnya lalu berkacak pinggang. Sungguh perasaannya juga sama hancurnya dengan Chaca.

__ADS_1


"Maafin aku, Cha," gumamnya menundukkan kepala. Dan beberapa tetes bulir air matanya terjatuh ke lantai.


Bunda yang masih menerima tamu segera bangkit dari duduknya, berusaha mengejar Chaca. Namun langkah gadis itu sangat lincah.


"Cha! Tunggu, Nak!" teriak Bunda menaikkan jarik yang terbalut di kakinya. Napasnya sudah terengah-engah. Namun Chaca seolah tuli, ia terus mempercepat langkah menuju mobilnya.


"Jalan, Mang!" seru Chaca.


Mang Maman yang terpaku melihat keadaan majikannya, tidak segera menjalankan mobilnya.


"Buruan jalan, Mang!" pekik Chaca sekali lagi.


"I ... iya, Neng," sahut Mang Maman terbata lalu menjalankan mobilnya.


"Kenapa? Kenapa kalian tega sama gue?" desis Chaca memejamkan mata.


Ia tak menyangka, satu-satunya orang yang dijadikannya sandaran ternyata mengkhianatinya.


"Tuhan! Kenapa Kau ambil orang-orang yang aku cintai? Tidak cukupkah kesendirianku selama ini? Ambil saja nyawaku Tuhan!" jerit Chaca dalam hati menghentakkan kepalanya pada sandaran mobil.

__ADS_1


Ditengah perjalanan, tiba-tiba Mang Maman mengerem mendadak. Membuat Chaca terhuyung ke depan dan terbentur jok mobil di depannya.


"Apasih, Mang?" geram Chaca menyentuh keningnya.


"Maaf, Non. Ada yang menghalangi jalan kita," sahut Mang Maman ragu.


Chaca berdecak kesal. Ia turun dari mobil dan membanting pintu dengan kasar. Langkahnya lebar menghampiri sebuah mobil HRV yang berhenti di depannya.


"Buka pintunya! Brengsek! Ngapain lo seenak jidat ngalangin jalan gue?" umpat Chaca berkacak pinggang sambil menggedor jendela mobil yang masih tertutup. Sang pengendara masih bergeming.


Chaca memutar pandangan, matanya menangkap sebuah pecahan batu cukup besar. Diambilnya batu itu lalu diayunkan mengarah ke mobil HRV tersebut.


"Heh! Buka atau gue pecahin ni kaca mobil lo?!" ancam Chaca mengangkat batu di atas kepalanya.


Seorang laki-laki kini menyembul dari dalam mobil. Mata Chaca membelakak, tangannya melemas lalu melepaskan batu yang ada di kedua tangannya.


Sampai tanpa sangaja menjatuhi kakinya yang masih terbalut sepatu cets kesayangannya.


"Awwhh!" ringis Chaca berjongkok memegangi kakinya.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa, Cha?" tanya pria yang sedari tadi hanya mengamatinya. Kini ia buru-buru melangkah dan turut berjongkok di samping Chaca.


Bersambung~


__ADS_2