
Gandhi dan Chaca melangkah dengan cepat menuju parkir. Chaca bahkan setengah berlari. Ingin menangis saat itu juga, ingin menghindar juga sudah terlambat.
Akhirnya ia pasrah menurut saja kemana pun pria itu akan pergi. Gandhi masih menggenggamnya hingga sampai di parkiran. Ia membukakan pintu penumpang di sebelah kemudi.
Meski tanpa berbicara, Chaca mengerti dan ia pun duduk di kursi penumpang itu, diikuti Gandhi yang duduk di belakang kemudi.
"Pakai seatbeltnya, Cha." Gandhi fokus melajukan mobilnya.
"Emm...."
Pandangan gadis itu mengarah pada pria di sebelahnya. Entah sudah berapa lama ia tak bertemu dengan laki-laki yang mencuri hati dan pikirannya itu.
Gandhi berhenti ketika melihat Ayu dalam gendongan satpam mulai mendekat. Ia segera turun dan membukakan pintu mobil.
"Aaarrggghh sakit sekali!" jerit Ayu.
Chaca meringis mendengar jerit kesakitan Ayu. Ada rasa iba dalam hatinya. Meski kebenciannya lebih besar.
"Kamu! Ikut juga!" tegas Gandhi.
__ADS_1
"Tidak, aku bawa mobil sendiri," elak Anjar melenggang pergi.
Gandhi menarik kerah kemeja pria itu lalu memberinys bogem mentah. "Kamu yang buat dia seperti ini! Ikut ke rumah sakit atau aku jebloskan ke penjara!" teriak Gandhi yang hendak memukul Anjar lagi.
Namun ditahan oleh dua satpam yang masih berdiri di sana. Kemarahannya memuncak kala mengetahui perselingkuhan istrinya, ditambah saat ia tahu bahwa pria di depannya ini adalah pria yang tidak mau bertanggung jawab hingga menyeretnya dalam penderitaan atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.
Gara-gara dia, Gandhi harus melepaskan Chaca, Gandhi harus menanggung apa yang seharusnya menjadi tanggungan pria itu.
"Jika saja tidak ada hukum di negara ini, sudah kubunuh kamu! Pengecut! Bangsat!" teriak Gandhi terus memaki.
Chaca yang ada di dalam mobil tersentak, mendengar semua kemarahan Gandhi. Ia melihat sisi lain dari pria itu. Memang benar kata pepatah, kemarahan orang sabar lebih menyeramkan dibanding orang yang terbiasa marah.
Deru napas kasar masih terdengar, bahkan tangan Gandhi gemetar saat kembali mencengkeram kemudi. Chaca memberanikan diri menyentuh jemari pria itu.
Menyalurkan kehangatan melalui genggaman lembutnya. Pria itu tersentak lalu menoleh, "Sabar," ucapnya pelan dan singkat namun mampu menenangkan gemuruh di dada Gandhi.
Urat-uratnya yang sempat menegang, perlahan mengendur, kedua sudut bibirnya mengembangkan senyuman. Ia segera melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.
Chaca memang tidak mengerti permasalahan mereka. Melihat Gandhi yang semarah itu, ia menduga masalah yang mereka hadapi sangat berat.
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama, mereka sampai di pelataran UGD sebuah rumah sakit. Perawat jaga segera mendorong brankar menyambut pasien mereka.
"Dia hamil dan tadi terjatuh," terang Gandhi sambil ikut mendorongnya masuk ke dalam. Chaca dan Anjar menunggunya di luar.
Chaca melirik dengan ekor matanya. Ia tak mau mengira-ngira, hanya merapatkan bibirnya sembari mengamati ekspresi pria itu.
Tampak kekacauan di wajahnya. Tampan memang, tinggi, dan kulitnya bersih. Berkali-kali ia mengembuskan napas berat dan mengusap wajahnya kasar.
"Apa kamu pacarnya?" Suara barinton terdengar di telinga Chaca. Chaca memutar tubuhnya, memastikan pertanyaan itu untuknya. Tidak ada orang lain di lorong UGD itu selain mereka berdua.
Anjar bangkit dan berdiri di samping Chaca, gadis itu menggeserkan tubuhnya menjauh. Tak lama sebuah menarik Chaca agar semakin jauh darinya.
"Jangan dekati dia! Aku akan segera mengurus perceraianku dan Ayu. Sedangkan kamu, datanglah sebagai pria gentle. Jangan lempar batu sembunyi tangan. Sampai aku yang harus benjol babak belur." Gandhi merapatkan Chaca pada tubuhnya.
Belum sempat Anjar membalas, seorang dokter keluar memanggil keluarga Ayu.
"Bagaimana, Dok?" tanya Gandhi masih tak melepaskan Chaca.
"Maaf, Ibu Ayu mengalami keguguran, kandungannya lemah, dan benturan yang keras tidak bisa mempertahankannya. Kami harus segera melakukan kuretase untuk membersihkan rahimnya. " jelas wanita yang mengenakan jas putih itu.
__ADS_1
Bersambung~