
Derap langkah yang tegas menggema di sebuah lorong gedung tua. Wajahnya nampak tersirat amarah yang tersimpan. Matanya menyalang, tangannya mengepal sedari tadi.
Hingga sampailah di depan ruangan dengan penjagaan ketat. Para pengawal itu menunduk hormat melihat kedatangan Xander dan istrinya. Alice sedari tadi khawatir, ia sampai kesulitan menyamakan langkah suaminya.
"Buka pintunya!" perintah Xander.
Dua pengawal membukakan pintu ruangan tersebut. Terlihat, seorang wanita berambut panjang yang acak-acakan menunduk di kursi dalam keadaan terikat.
Langkah Xander dan Alice semakin dekat. Alice menyentuh lengan suaminya, lalu menggelengkan kepala. Mengisyaratkan agar Xander tidak meluapkan emosinya.
Pria itu melepaskan jemari istrinya perlahan. Kemudian berdiri tepat di depan wanita yang terikat di kursi. Xander menjambak rambutnya hingga kepala wanita itu mendongak.
"Berani-beraninya kamu bermain-main dengan Keluarga Abraham?" berang Xander menatapnya tajam.
Awalnya wanita itu sama terlihat marah, melototkan kedua matanya. Namun ia kembali menangis dan berteriak. Xander sudah mengetahui motif orang itu melakukannya.
"Dia ... dia jahat, dia membuat aku kehilangan calon suamiku," ucapnya diiringi tangis, tanpa berani menatap Xander.
Tiba-tiba wanita itu tertawa dengan keras, kemudian menangis lagi. Xander dan Alice saling menatap satu sama lain.
"Pa, sepertinya dia nggak waras. Jangan lanjutin, Pa. Jangan buang waktu dan tenaga hanya untuk meladeni orang gila," bisik Alice tepat di telinga suaminya.
"Jangan pernah mengusik Gandhi lagi, atau kamu akan terima akibatnya!" geram Xander tepat di depan muka wanita itu. Dia hanya menunduk ketakutan.
Alice mengajak suaminya keluar dari ruangan itu, Xander berpesan pada pengawalnya untuk menghubungi pihak RSJ. Jika hasil pemeriksaan baik-baik saja, Xander memintanya untuk menahan di kantor polisi atas kasus pencemaran nama baik.
Beruntung Alice mengikutinya jika tidak, Xander mungkin akan melakukan kekerasan untu meluapkan kemarahannya. Keduanya kemudian melenggang pergi, masih banyak persiapan untuk acara beberapa hari lagi.
...----------------...
Suara isakan dan tangisan semakin keras terdengar. Gandhi tak terlihat, semua rekan kerja berkerumun mengelilinginya.
"Jadi acara intinya farewell, Pak?" ucap seseorang lemah dijawab anggukan oleh Gandhi.
"Pak, kenapa mendadak gini sih?" tanya orang satunya lagi di tengah isakannya.
__ADS_1
"Kalian harus selalu menjaga kekompakan. Siapapun atasan kalian nanti, jangan pernah mempengaruhi kinerja kalian. Tetap tunjukkan performa yang terbaik," pesan Gandhi membiarkan air matanya tumpah.
Karena sedari tadi, kedua lengannya dipeluk oleh masing-masing rekannya. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
"Jangan sombong, kalau ketemu di jalan tetep nyapa, jangan pura-pura nggak kenal," imbuh Gandhi mengulas senyum.
Lama mereka saling bertautan, tidak dapat menerima kenyataan. Bahwa mereka akan kehilangan sosok pemimpin yang merakyat pada semua bawahannya. Tidak semena-mena juga selalu menyelesaikan setiap masalah dengan kepala dingin. Itulah sebabnya mereka berat jika harus kehilangan Gandhi.
"Ruangan meeting akan terasa dingin, Pak. Karena sudah nggak ada kehangatan dari Bapak," celetuk yang lainnya.
Gandhi hanya menghela napas panjang. Ia mendengarkan semua keluhan rekan-rekannya yang terkejut sekaligus sedih ditinggalkannya.
"Setiap pertemuan pasti ada yang namanya perpisahan. Terus semangat ya buat kalian," ucap Gandhi.
Hampir satu jam mereka saling menumpahkan kesedihan dan unek-unek, tibalah waktunya benar-benar berpisah. Satu per satu memeluknya erat, pria wanita sama saja. Mereka sudah seperti saudara. Gandhi memberikan wejangan pada setiap orang.
"Jangan lupa besok minggu ya," seru Gandhi menatap kepergian rekan-rekannya di ambang pintu.
Mereka semua mengangguk serentak, lalu melajukan mobil masing-masing. Kini, hanya Andra dan Amel yang tersisa di rumah Gandhi.
"Ayo masuk, Sayang," ucap Gandhi merangkul istrinya.
"Mbak Amel, tumben manja banget sama suami," tanya Gandhi merebahkan tubuh di pangkuan istrinya.
"Iya, manja banget dia sekarang, Gan," sahut Andra meliriknya.
"Anak kamu nih pengen deket-deket ayahnya terus," gerutu Amel menyebikkan bibir.
Gandhi terperanjat, ia memperbaiki posisi duduknya. Chaca dan Gandhi saling melempar senyuman. Mereka turut bahagia dengan kabar tersebut.
"Mbak Amel hamil?" tanya Chaca memastikan.
Amel menganggukkan kepalanya, mengusap perutnya yang masih datar. "Iya Cha, setelah sekian lama akhirnya penantian kami terwujud, baru 8 minggu. Kami juga baru tahu beberapa hari lalu," ucapnya menatap suaminya.
Chaca segera beranjak dari duduknya. Ia sangat antusias mendengarnya. Chaca duduk pada ujung sofa di samping Amel.
__ADS_1
"Selamat ya Mbak, Bang semoga sehat terus sampai lahiran nanti," ujar Chaca turut mengusap perut Amel yang masih rata.
"Semoga kamu juga segera hamil ya, Cha," balas Amel menyentuh kedua tangan Chaca yang segera diaminkan oleh Gandhi dan Chaca.
Andra mengajak mereka untuk double date. Ia juga ingin mengajak istrinya jalan-jalan. Apalagi ada bakal janin di rahim istrinya, sedikit demi sedikit Andra berubah lembut.
Gandhi dan Chaca pun dengan senang hati mengiyakan. Mereka berencana nonton. Chaca dan Gandhi segera bersiap. Mereka pergi membawa satu mobil saja.
Chaca duduk di belakang bersama Amel. Ia gencar menanyakan seputar tanda-tanda kehamilan dan keluhannya selama ini. Amel pun menceritakan semua yang ia rasakan.
Kehamilan yang dinanti setelah sekian tahun lamanya. Amel dan Andra sudah melakukan berbagai pemeriksaan, hasilnya keduanya baik-baik saja. Namun, bertahun-tahun mereka baru mendapatkannya.
Allah akan menitipkan anak ketika kita telah benar-benar siap menjadi orang tua yang baik.
Sesampainya di sebuah mall, dua pasangan suami istri itu terlihat sangat romantis. Keduanya berjalan saling menautkan jemari mereka.
Apalagi Gandhi yang selalu bersemangat menggoda Chaca. Hingga seringkali dihadiahi cubitan oleh istrinya itu. Namun setelahnya semakin terlihat mesra karena Gandhi selalu menghadiahi kecupan di keningnya.
"Sayang tunggu di sini. Ndra, kamu beli makanan sama minuman ya. Aku antre tiket biar cepet," ujar Gandhi berjalan menuju antrean. Sedangkan Andra mengantri popcorn juga minuman.
Amel mendekati Chaca, tangannya meraih kedua tangan Chaca. Tiba-tiba ia menginjak jari kaki Chaca. Untungnya mereka mengenakan flat shoes.
"Semoga nular ya, Cha," bisik Amel di telinga Chaca. Ia terkejut, tidak mengerti apa yang dilakukan Amel padanya.
"Kata orang-orang kalau ibu jari kita diinjak sahabat yang sedang hamil, bisa nular loh kehamilannya," jelas Amel setelah menyingkirkan kakinya.
"Benarkah Mbak? Ayo lakulan lagi Mbak, tapi jangan pakai sepatu biar lebih afdhol Mbak," ujar Chaca melepas sepatunya.
Amel menggelengkan kepalanya, namun menuruti kemauan Chaca. Mereka melepas sepatu dan melakukannya lagi. Setelahnya mereka tertawa lalu kembali mengenakan sepatu dan mendudukkan diri.
Banyak mata yang menatap keduanya. Namun mereka tidak peduli, masih asyik ngobrol berdua. Sampai suami mereka telah berdiri di hadapannya.
Pintu bioskop telah terbuka pada waktu yang telah ditentukan. Banyak orang berbondong-bondong untuk masuk. Chaca masih menggandeng lengan Amel.
Andra dan Gandhi terkejut dengan apa yang dilihatnya. Keduanya saling menatap lalu memalingkan kembali mukanya ke depan.
__ADS_1
"Anjar!" seru mereka bersamaan.
Bersambung~