
Gandhi mengangguk, mengiyakan. Sorot mata keduanya saling menatap penuh kehangatan. Pandangan Gandhi yang meneduhkan. Alice merasakan sesuatu yang aneh menelusup hatinya.
Saat menuruni tangga, mereka berpapasan dengan Alexander. Gandhi menghentikan langkahnya, Chaca menatap lurus ke depan, tidak mau melirik ke arah ayah angkatnya sedikit pun.
"Om, kami pamit sebentar," ucap Gandhi tidak melepaskan lengannya dari pinggang Chaca.
"Mau ke mana? Chaca belum pulih," ujar Alexander.
"Siapa nama ibu kandung Chaca?" balas Chaca pelan, menoleh sejenak tanpa ekspresi.
"Namira Setyaningsih," balas Alexander singkat dan jelas.
"Ayo, Om." Tanpa menunggu pertanyaan lain, ia meneruskan langkahnya yang masih sempoyongan.
Mau tidak mau Gandhi turut melangkah turun. Alexander hanya membeku, melihat perubahan Chaca. Ia menyesal, tak seharusnya berbicara seperti itu. Harusnya menunggu waktu yang tepat dan dengan ucapan yang tidak menyinggungnya.
"Pelan-pelan," ujar Gandhi menutupi puncak kepala Chaca saat memasuki mobil, lalu memakaikannya sabuk pengaman.
Segera ia beralih di balik kemudi. Melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Chaca diam dengan pikiran kosong. Tangannya terus digenggam oleh telapak tangan lebar Gandhi. Bahkan ketika memasukkan gigi pun tangannya tetap saling bertautan.
__ADS_1
Gandhi pun diam, memberikan waktu sendiri untuk perempuan itu. Yang ia lakukan hanyalah selalu siap menjadi sandarannya. Mereka sampai di pelataran rumah sakit 30 menit kemudian.
"Kita ke bagian informasi ya, Om," pinta Chaca setelah turun dari mobil.
Gandhi mengangguk, melebarkan lengannya untuk menangkup pinggang kecil Chaca. Wajahnya masih pucat, kepalanya berkunang-kunang, berjalan saja serasa tak menapak di tanah.
"Permisi, Sus. Saya bisa meminta data pasien 18 tahun yang lalu? Tolong, ini mengenai keberadaan keluarga saya." Chaca berucap tanpa basa-basi setelah duduk di kursi yang agak tinggi di depan meja informasi.
Para perawat itu nampak kebingungan. Karena data pasien merupakan hal yang menjadi privasi setiap pasien.
"Orang tua saya adalah korban kecelakaan saat itu. Beliau meninggal setelah melahirkan saya. Setidaknya, saya masih punya saudara dari kedua orang tua saya. Tolong," pinta Chaca mulai mengeluarkan air mata.
Suster mengetikkan jari jemarinya di keayboard dengan cepat. Sesekali menscroll, matanya terus menatap tajam ke layar komputer, mengulik data belasan tahun yang lalu.
"Pak, boleh minta tolong," ucap Gandhi pada OB yang dilaluinya.
"Iya, Mas. Apa yang bisa saya bantu?"
"Tolong belikan air mineral sama roti sobek ya," ujar Gandhi menyerahkan satu lembar seratus ribuan, dengan satu tangan masih merengkuh Chaca.
__ADS_1
Melihat keadaan Chaca, OB itu segera mengiyakan. Tak berselang lama, ia kembali dengan pesanan Gandhi.
"Kembaliannya buat Bapak aja. Makasih banyak ya, Pak," ucap Gandhi setelah menerimanya.
"Sama-sama, Pak. Permisi," pamit OB tersebut.
Gandhi membuka tutup air mineral yang masih tersegel itu. Lalu mendekatkan ke bibir Chaca yang sudah memejamkan matanya. Pusing yang mendera memudarkan pandangannya.
"Minum dulu, Sayang," ucap Gandhi.
Chaca mengerjap, merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Lalu membuka sedikit mulutnya untuk meneguk air tersebut.
Begitupun dengan rotinya. Gandhi memaksa Chaca untuk memakannya, karena sedari tadi ia belum makan apa pun. Sedikit demi sedikit Gandhi berhasil menyuapkannya. Hingga keadaan Chaca sedikit membaik dari pada tadi.
"Mbak, saya menemukannya," panggil suster tersebut menyerahkan satu buah kertas print out pada Chaca.
Chaca menatap Gandhi, menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum penuh harap.
Bersambung~
__ADS_1