
Hening, gelap setelah beberapa detik balok kayu yang sangat besar menghantam tubuh Gandhi sebelum sempat menyelamatkan diri.
Gempa bumi yang berdurasi hampir 3 menit itu mengguncang hati Chaca. Bagaimana tidak? Saat ini, tubuh kecilnya tertindih oleh Gandhi.
"Om," panggil Chaca pelan karena ia merasa sedikit sesak. Apalagi kakinya juga tidak bisa digerakkan.
"Om, bangun. Kamu berat," panggil Chaca lagi.
Tak ada suara apa pun, Gandhi masih bersandar dengan nyaman di atas tubuhnya. Chaca berusaha menggerakkan tangannya, menyentuh kedua pipi Gandhi yang dingin, kotor dan....
Mata Chaca membelalak ketika tangannya menyentuh darah dari kepala Gandhi. "Darah?"
"Om, bangun! Jangan bikin aku takut, Om Gandhi! Om, jangan tinggalin aku. Tolooong! Toloooong!" jerit Chaca meminta pertolongan berlinang air mata.
Chaca meraih benda apa pun yang dapat menimbulkan bunyi. Ia memukul-mukulkan panci ke lantai yang kebetulan bisa ia jangkau.
Dan tepat disaat pemadam kebakaran bersama tim sar sedang melakukan penyisiran di sana. Bangunan satu lantai yang cukup luas itu sudah rata dengan tanah.
"Toloong! Siapa pun tolong kami!" Suara Chaca hampir habis.
Beberapa menit kemudian, seorang tim sar berhasil menemukannya. Mereka bergotong royong menyingkirkan balok kayu yang menindih mereka.
Setelah berhasil, Gandhi dan Chaca segera dievakuasi ke rumah sakit yang kebetulan tidak terlalu terdampak oleh musibah itu.
Chaca terpaksa ditandu karena kakinya terluka. Ia masih menangis, khawatir dengan keadaan Gandhi.
****
"Dad! Di Yogya lagi ada gempa," ucap Alice histeris saat membuka ponselnya melihat trending topik.
"Iya, Mom. Udah lihat tadi, semoga nggak ada korban jiwa," sahut Alexander santai.
"Dad! Kita harus ke sana sekarang juga!" Alice panik segera ke kamarnya.
Alexander mengerutkan keningnya. Pasalnya, ia tidak mengetahui jika Chaca pergi ke sana. Chaca hanya mengirim pesan pada Alice.
Saat sudah siap, menghampiri suaminya yang masih bersantai menonton berita televisi.
"Daddy! Ayo berangkat sekarang. Cari penerbangan tercepat!"
"Enggak bisa, Mom. Semua bandara ditutup. Tidak bisa beroperasi. Memangnya kenapa sih? Mau jadi suka relawan di sana?" tanya Alexander.
"Daddy! Chaca dan Gandhi sedang berada di Yogja sekarang! Ponselnya nggak bisa dihubungi!" teriak Alice dengan air mata berhamburan.
Alexander terkejut, ia berdiri tegap sambil membuka kacamatanya, "Apa? Kapan mereka berangkat ke sana?" tanya pria itu mengernyitkan dahi.
"Tadi pagi, dia ketemu sama nenek dan kakeknya. Dad, ayo cepat kita harus ke sana sekarang juga," rengek Alice menarik-narik lengan suaminya.
"Tunggu sebentar!"
"Cepetan, Dad!" pekiknya frustasi. Membayangkan hal buruk menimpa Chaca.
Perjalanan mereka terasa lama. Karena sedari tadi Alice terus marah-marah akibat kemacetan yang mengular.
"Mom, tenanglah, kita berdoa semoga baik-baik saja. Coba telepon udah bisa belum?" ucap Alexander menggenggam tangan istrinya yang dingin itu.
Berkali-kali mencoba menghubungi Chaca tapi tidak tersambung. "Enggak bisa, Dad!" Hatinya berdenyut nyeri, kedua tangannya menutup wajahnya yang berderai air mata.
Penyesalan menelusup hatinya. Selama ini ia tidak pernah memberikan kasih sayang penuh pada Chaca. Bahkan sering mengabaikannya.
Alexander memeluknya, berusaha menenangkan sang istri meski ia juga merasa takut dan khawatir. Satu tangannya mengerahkan anak buahnya untuk mencari informasi keberadaan Chaca. Ia menyebar puluhan agen menyelidiki setiap rumah sakit yang masih beroperasi.
***
Di Yogya, Chaca masih menunggu penanganan. Banyaknya korban harus membuatnya antri, didahulukan yang urgent terlebih dahulu.
Gandhi mengalami cedera cukup parah di kepala. Darah terus mengalir, membuat tim medis menyegerakan tindakan.
"Sus, tolong. Aku mau nemenin pasien itu, tolong," rengek Chaca melihat brankar Gandhi dipindahkan.
"Pasien harus diperiksa dulu, Mbak. Ini mau rongten sama CT-scan untuk penanganan lebih lanjut. Nanti saya kabari ya," ucap suster itu melenggang pergi.
Chaca menangis, tangannya gemetar mencari ponselnya yang kebetulan masih di dalam tasnya. Sayangnya, signal di ponselnya menunjukkan tanda silang. Tidak bisa digunakan menghubungi siapa pun.
Satu jam lamanya, suster tadi kembali dengan tergopoh-gopoh. Chaca yang sempat merebahkan tubuhnya segera beranjak duduk. "Gimana, Sus?" tanya Chaca khawatir.
"Mbak, pasien harus segera dioperasi. Mohon tanda tangan di sini ya. Terjadi pendarahan dalam kepalanya," seru suster menyerahkan selembar kertas dan bolpoin.
"A... apa dia akan baik-baik saja?" tanya Chaca semakin gemetar ketakutan.
"Semoga saja, Mbak. Ayo, Mbak. Harus segera dilakukan," desak suster tersebut menambah kepanikan.
Chaca menarik napas panjang, menggenggam tangan kanannya dengan tangan kiri, agar bisa tanda tangan menekan gemetarnya.
"Tolong bawa aku ke sana, Sus."
__ADS_1
"Tapi, Mbak belum dilakukan penanganan. Sebaiknya tunggu di sini dulu," cegah suster tersebut.
"Aku mau menunggunya!" teriak Chaca hingga menyita perhatian semua orang di sana.
"Baik, baik. Sebentar, Mbak. Saya ambilkan kursi roda." Suster segera mengambil kursi roda dan membantu mendorong Chaca sampai di depan ruang operasi.
Tak peduli rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Tak menghiraukan luka pada kakinya. Yang dia pikirkan hanyalah keselamatan Gandhi.
Satu jam, dua jam, terlewati begitu saja. Tubuh Chaca menggigil, ia menangis sendirian. Tak lama kemudian dua pasang kaki berlari mendekatinya.
"Chaca!" teriak Alice menghambur ke pelukannya.
Ya, salah satu bawahan Alexander berhasil menemukan Chaca di rumah sakit ini. Dan melaporkan bahwa Gandhi sedang menjalani operasi sekarang.
"Sayang, kamu mana yang luka? Mana yang sakit? Kamu demam, Nak. Ayo diobati dulu lukamu," ajak Alice memeriksa seluruh tubuh Chaca.
"Aaaa! Yaampun, Cha. Kaki kamu luka, Sayang! Dad, bawa Chaca ke ruang perawatan!" seru Alice dengan panik.
Chaca menggeleng lemah. "Aku mau di sini, aku mau lihat keadaan Om Gandhi. Dia terluka gara-gara aku, Mom. Dia ngelindungi aku!" teriaknya disertai isak tangis yang memilukan.
"Tapi ...."
"Mommy, please. Om Gandhi keadaannya mengkhawatirkan."
"Biar Daddy panggil perawat dan dokter ke sini." Alexander melenggang pergi.
Dengan kekuasaannya, akhirnya Chaca mendapat penanganan di sana. Kakinya terluka cukup parah, bahkan dokter terpaksa menggunting celana jeansnya hingga lutut untuk memudahkan pengobatan.
Pintu berderit, terbuka dengan kasar. Seorang suster berlarian keluar, ditahan oleh Chaca. "Tunggu! Apa yang terjadi?"
"Pasien membutuhkan golongan darah AB- segera. Sedangkan di rumah sakit ini sedang kosong. Saya harus segera menelepon bank darah atau rumah sakit lain. Permisi," pamit suster itu hendak berlari.
"Tunggu!" Suara barinton Alexander kembali menghentikannya.
"Ambil darah saya! Saya juga AB-," tegas Alexander.
"Baik, Pak. Mari saya periksa dulu." Suster itu melakukan serangkaian tes terlebih dahulu. Dan hasilnya memang cocok.
Ia segera dibawa masuk ke ruang operasi, menyalurkan darahnya pada Gandhi.
Alice mengernyit heran. Pasalnya AB negatif merupakan golongan darah yang langka. Hanya 0,1 % dari seluruh penduduk Asia.
Sejak melihat pria itu pertama kali, Alice sudah merasakan keanehan. Ada rasa yang berbeda ketika menatapnya. Dan lagi, sekarang ditambah golongan darahnya sama dengan sang suami yang mana itu merupakan golongan darah langka.
Hatinya berdebar, tangannya meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Ketika membenarkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Mbak, ini kita lakukan rongten dulu. Takutnya terjadi luka dalam yang berbahaya," ucap Dokter perempuan setelah membersihkan luka di kaki Chaca.
"Nanti saja, Dok. Setelah operasi ini selesai," jawab Chaca dengan kekeh. Ia tetap tidak akan beranjak sebelum operasi Gandhi dinyatakan berhasil.
Dokter pun mengalah, ia berpamitan dan akan segera kembali untuk melakukan pemeriksaan lanjutan pada Chaca.
Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi itu terbuka. Dokter membuka maskernya dan menyatakan bahwa operasi berjalan dengan lancar.
"Alhamdulillah," gumam Chaca lalu pingsan seketika.
"Cha! Dokter, tolong!" pekik Alice ketakutan.
Segera Chaca dipindahkan ke ruang rawat inap. Begitupun dengan Gandhi yang segera dipindahkan ke ruang rawat inap tak jauh dari Chaca.
****
Keesokan harinya, Chaca melenguh dan mengerjapkan kedua matanya ketika sayup-sayup mendengar isakan tangis seseorang.
Alice menangis sambil menatap sebuah kertas di tangannya. Alexander juga tampak menundukkan kepala.
"Mom, Dad, Om Gandhi mana? Keadaannya gimana?" lirih Chaca berusaha bangun. Namun ia tidak bisa menggerakkan satu kakinya.
Alice dan suaminya menoleh bersamaan. Mereka mendekat. "Jangan bergerak dulu, Sayang. Kakimu ada retak sedikit. Tapi tenang aja kamu bisa sembuh kok beberapa bulan ke depan," jelas Alice menghapus air matanya.
"Lalu Om Gandhi?" Tidak peduli dengan keadaannya sendiri. Chaca lebih khawatir dengan pria itu.
"Dia baik-baik saja, operasinya berjalan dengan lancar. Dan pemeriksaan pagi ini juga baik. Tidak terjadi komplikasi pasca operasi," ucap Alice dengan nada bergetar.
Chaca ingin mengunjunginya namun tak lama kemudian nenek dan kakeknya menghampiri. Mereka selamat, tidak terluka sedikit pun. Dan keadaan rumahnya hanya rusak sedikit.
"Kamu baik-baik saja 'kan, Cha?" ucap sang nenek memeluknya.
"Chaca nggak apa-apa, Nek," jawab Chaca yang kemudian menceritakan hal yang ia alami kemarin tanpa diminta.
Alice menunduk, ia merasa bersalah memisahkan Chaca dari keluarga kandungnya. Gadis itu tidak pernah seterbuka itu dengannya. Tapi, berbeda dengan neneknya.
Alice pun berpamitan ke ruangan sebelah bersama Alexander. Duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Gandhi dan menciuminya, diikuti deraian air mata.
"Mom, tenanglah."
__ADS_1
"Dad, 26 tahun kita berpisah dengannya. Dan kini kita dipertemukan dengan cara seperti ini. Mommy nggak mau kehilangan dia lahi, Dad. Mommy nggak mau!" Tangis Alice semakin tak terkendali.
Usai melakukan donor darah semalam, Alexander meminta untuk melakukan tes DNA melalui darah tersebut. Selain lebih cepat, juga lebih akurat hasilnya. Dan pagi ini, ia mendapatkan hasil bahwa Gandhi 99,8% adalah anak kandungnya.
Bayi yang hilang saat terjadi kebakaran di rumah sakit usai Alice melahirkannya. Saat itu Alexander hanya fokus dengan Alice yang masih lemah, sedangkan Babynya berada di ruang neonatal.
Ada seorang suster yang menyelamatkannya. Keluar dari kobaran api, menjauh dari lokasi kebakaran tersebut, namun di tengah jalan suster itu pingsan, Gandhi kecil terjatuh di semak-semak. Yang akhirnya ditemukan oleh Bunda Hanin, dirawatnya dengan tulus dan penuh kasih sayang.
Alice sangat terpukul. Mereka mengira putranya tidak akan selamat, namun Tuhan menyelamatkannya. Tuhan mengembalikan lagi buah hatinya yang sudah lama menghilang.
"Enggh," lenguh Gandhi yang mulai sadar.
Perlahan, kedua kelopak matanya terbuka. Ia mengumpulkan kepingan ingatannya sejenak, terdiam beberapa saat, "Chaca!" Kata yang pertama ia sebut. Dan hendak duduk namun, kepalanya berdenyut nyeri.
"Ka ... kamu sudah sadar, Nak?" ucap Alice tergagap.
"Dimana Chaca, Tan?" tanya Gandhi menyentuh kepalanya.
"Tenanglah, Chaca baik-baik saja." Air mata Alice kembali menyeruak. Ia bingung bagaimana menyampaikan kebenaran itu pada Gandhi.
"Gandhi, selama ini kamu tinggal di mana? Bersama siapa?" tanya Alice penasaran. Ia menelan ludahnya gugup.
Gandhi memicingkan mata. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya. Mungkinkah mereka akan menolaknya jika tahu dirinya hanya anak orang miskin?
"Nak," ucap Alice lagi dengan bahu bergetar, ia mengusap pundak kiri Gandhi menahan air matanya.
"Saya, tinggal bersama bunda dan banyak adik-adik. Tidak ada satu pun di antara kami yang terikat darah. Tapi kami saling menyayangi, terutama bunda yang mencurahkan semua kasih sayangnya tanpa pamrih." Gandhi menyunggingkan senyumnya.
"Maaf, Tan. Saya bukan orang kaya seperti Tante. Tapi saya akan berusaha keras untuk membahagiakanĀ Chaca," ujar Gandhi lagi. Ia masih berpikir, bahwa Alice dan Alexander tidak setuju Chaca menikah dengannya.
Alice menutup mulutnya, membayangkan putra satu-satunya menjalani hidup dengan susah payah selama ini.
Wanita itu menjatuhkan kepalanya di dada Gandhi. Memeluknya dengan erat, air matanya membasahi baju pasien yang dikenakannya. Gandhi terkesiap, ia terdiam bingung harus bagaimana bersikap.
"Kamu mau menikah dengan Chaca? Kamu mencintainya? Kamu bahagia bersamanya?" Kali ini Alexander yang membuka suara.
Gandhi mengangguk, "Iya, Om. Saya sangat mencintainya, saya ingin menikahinya, menua bersamanya," jawabnya mantap. Kesulitan menatap Alexander karena terhalang Alice. Meski ia tidak mengerti kenapa wanita itu bersikap demikian.
"Gandhi, dalam darahmu mengalir darahku. Saya akan melakukan apa pun untuk membuat kamu bahagia," ujar Alexander.
"Maksud Om?" tanya Gandhi bingung.
"Gandhi, kamu anak kandung kami!"
Jedarrr!!
Ucapan Alexander bagai palu raksasa yang menghantam kepalanya. Denyut nyeri semakin terasa bahkan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ini hasil tes DNA kita." Pria paruh baya itu menyerahkan selembar kertas mengarahkannya Gandhi pada Gandhi.
Dan jelas terlihat bahwa mereka memiliki kecocokan. Dadanya terasa sesak, tubuhnya menjadi kaku seketika. Alice masih memeluknya dengan erat.
"Kenapa harus Om dan Tante?" Suara Gandhi terdengar berat.
"Kamu nggak suka bertemu dengan orang tua kandungmu?" tanya Alice menegakkan tubuhnya.
"Suka, sungguh. Tapi, aku nggak rela jika harus satu orang tua dengan Chaca," jawab Gandhi melemah.
Suami istri itu saling melempar pandangan. Alexander menuju seberang Alice menepuk pipi Gandhi. "Boy, Chaca bukan anak kandung kami. Kalian masih bisa menikah, kamu lupa?" terang Alexander.
Mata Gandhi beralih dari Alice pada Alexander secara bergantian. Dan keduanya mengangguk sambil menepis air mata yang berjatuhan. Kejadian yang menimpanya, masih membuatnya sock dan belum bisa berpikir jernih. Ia terdiam sesaat.
"Masih mau mengelak punya orang tua seperti kami?" goda Alexander.
Gelengan cepat ditunjukkan oleh Gandhi. Ia merentangkan kedua tangannya, menyambut orang tua kandungnya. Isak tangis haru menyelimuti ruangan itu.
"Maafin kami, Nak," ucap Alice. Lalu ia menceritakan bagaimana mereka terpisah, mengira bahwa putranya tidak selamat dalam kebakaran waktu itu.
"Om," panggil seorang gadis di ambang pintu.
Semua serentak menoleh ke arahnya. Chaca yang sedang duduk di kursi roda dan didorong oleh sang nenek.
"Sayang," ucap Gandhi.
Setelah dekat, Gandhi berusaha memeluknya. Meraba tangan, kedua pipi, kening, memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja.
"Mana yang sakit? Hm?" tanya Gandhi menangkup kedua pipi Chaca.
"Enggak, aku nggak apa-apa. Maaf, gara-gara aku Om harus kesakitan kaya gini," ucap Chaca. Bulir bening di kedua sudut matanya tak terbendung.
"Ssstt ... jangan bilang seperti itu. Kamu adalah prioritas utamaku. Aku akan selalu memastikan kamu selalu baik-baik saja. Aku nggak apa-apa. Sebentar lagi juga baikan. Jangan nangis," jelas Gandhi menyeka air mata Chaca.
"Setelah kalian sembuh, kita akan segera langsungkan pernikahan kalian! Karenanya, semangat untuk sembuh. Biar cepet nikahannya," tegas Alexander merengkuh Gandhi dan Chaca.
Keduanya mengangguk mengurai senyum bahagia. Menangis haru, bersyukur atas semua kejadian dan musibah yang menimpa mereka.
__ADS_1
Alice dan nenek Chaca juga saling berpelukan, memaafkan semua kesalahan, berdamai dengan masa lalu dan mereguk bahagia di masa depan.
...Ending ~ Season 1...