Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 34


__ADS_3

Sebuah anggukan kecil terasa di dada Gandhi. Pria itu tersenyum getir. Setidaknya ia bisa mengalihkan sakit hati gadis labil itu dengan hal positif.


"Kamu harus bisa lulus dengan nilai terbaik," ucapnya lagi.


"Iya. Aku janji. Aku akan nunjukin sama Om kalau aku bisa. Tunggu aku lulus, Om."


"Yaudah, pulang ya," ajak Gandhi.


Chaca mengangkat kepalanya, "Janji satu hal." Tatapannya sangat dalam pada kedua bola mata Gandhi. "Jaga selalu hatimu, Om. Aku tahu ini egois. Tapi aku nggak mau ada wanita lain di sini. Aku akan merebutmu lagi suatu saat nanti," tandas Chaca meletakkan telapak tangan di dada Gandhi.


"Iya, kamu satu-satunya selamanya." Gandhi membelsi lembut rambut Chaca.


Teringat dengan Ayu yang justru terkesan memanfaatkannya saja.  Bahkan tidak mau menjelaskan yang sebenarnya pada orang tuanya, membuat Gandhi hilang respect. Sepertinya pepatah air susu dibalas dengan air tuba sangat cocok untuk Gandhi.


Namun nasi sudah menjadi bubur. Menyesal pun tiada guna. Saat ini sudah ada banyak rencana yang tersusun di otaknya. Tinggal menjalankan misi satu per satu.


Gandhi menangkup kedua pipi Chaca, "Pulang ya. Belajar yang bener," ucapnya menatap bola mata Chaca bergantian. Posisi sedekat itu membuat jantung Chaca berdenyut kuat.

__ADS_1


Seperti terhipnotis, Chaca pun mengangguk. Mereka beranjak keluar dari danau. Berpisah dengan mobil yang berbeda.


"Hati-hati, Mang!" pesan Gandhi menunduk ketika jendela mobil pengemudi sedikit terbuka.


"Baik, Mas. Permisi," balas Mang Maman yang sedari tadi menunggu di mobil setelah mengikuti kendaraan Gandhi.


Gandhi melambaikan tangan pada Chaca. Gadis itu hanya mengangguk lemah. Semua ucapan Gandhi terus berputar di kepalanya. Ia menyandarkan punggungnya memejamkan mata, masih merasakan nyeri yang menjalar sampai ulu hatinya.


Bagaimanapun pria itu sudah berstatus suami orang. Wanita yang bersanding dengannya tadi memiliki tahta lebih tinggi dari pada dia. Lagi-lagi Chaca tidak bisa menahan tangisnya. Air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya. Matanya sudah membengkak, tapi masih saja stok air matanya tak pernah habis.


Ia kembali ke rumah dengan keadaan kacau. Seragam putih abu-abunya carut marut. Penampilannya berantakan, rambut kusut dan mata memerah yang bengkak.


Ia melirik jam yang menggantung di dinding. Tidak biasanya wanita itu pulang lebih awal.


"Emm... dari rumah temen," sahutnya tanpa menoleh. Lalu melanjutkan lagi langkahnya masuk ke kamar.


"Kamu kenapa? Kok berantakan begitu habis ngapain? Jangan-jangan kamu bertingkah di luar sana?" pekik mamanya membuat Chaca terpaku.

__ADS_1


"Menurut Mommy? Apa peduli Mommy?" balas Chaca dengan sinis.


"Chaca, jangan macam-macam kamu ya! Jangan mempermalukan Mommy dan Daddy yang sudah membesarkanmu hingga sekarang!" ujar Alice penuh penekanan.


Chaca menelan salivanya dengan kasar. "Cih! Hanya demi menjaga nama baik Anda dan suami Anda? Terserah! Saya rasa semua yang saya lakukan ataupun saya perjuangkan selalu tidak pernah berharga di mata Anda. Anda hanya bisa menekan dan memaksa ini itu. Tanpa mau melihat bagaimana perjuangan dan hasil yang saya capai selama ini. Apa Anda pernah peduli?" Tubuhnya memutar, menatap sang mama yang mematung di lantai dasar.


"Jaga bicara kamu, Chaca! Kamu tidak bersyukur kami besarkan dengan fasilitas semewah ini," sentak Alice


membuat Chaca tersenyum miring.


"Dan saya tidak pernah meminta dilahirkan dari rahim Mommy!" balas Chaca dengan mata yang tajam.


Alice yang geram segera berlari menghampiri Chaca dan ....


Plak!


Sebuah tamparan keras dilayangkan pada pipi kiri Chaca. Emosinya meluap, dadanya naik turun dengan hembusan napas yang kasar. Tangannya terasa kebas dan panas. Matanya menyalang memancarkan kemarahan.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2