
Detak jantungku berdebar-debar dengan irama tak beraturan. Berkali-kali aku membuang napas kasar masih tidak bisa menetralkannya.
Sebentar lagi Gandhi, tahan!
Seusai mandi dan berpakaian, aku hendak keluar kamar. Tanganku menarik gagang pintu hingga benda itu terbuka. Aku terlonjak, karena Chaca tercengir di depanku.
Astaga ni anak ngagetin aja.
"Om, mau ke mana?" tanya Chaca menyentuh tanganku.
"Mau keluar," sahutku singkat melepaskan tangannya.
Chaca mengikutiku dari belakang. Langkahku yang semula cepat kuhentikan mendadak hingga Chaca menabrak punggungku.
"Apa sih Cha?" ketusku membalikkan tubuh.
"Ikut," ujarnya memohon.
"Enggak! Aku ada kerjaan. Tidur sana!" seruku kembali berjalan.
Chaca masih tidak menyerah. Ia berlari menghadangku di depan pintu. Kedua tangan merentang menahan pintu agar aku tidak bisa keluar.
"Kamu ini kenapa sih Om? Aku punya salah apa sama kamu? Hari pernikahan kita sudah semakin dekat, kenapa sikapmu malah seperti ini? Katakan apa salahku?" ucap Chaca dengan serius.
Aku tidak berani menatap matanya. Pasti goyah jika aku melakukannya. Sia-sia dong perjuanganku seharian ini.
"Minggir Cha!" perintahku masih tidak membuatnya bergerak.
"Enggak! Katakan dulu apa salahku Om," ujarnya berkacak pinggang.
"Minggir!" teriakku lebih keras. Chaca terkesiap, ia tidak bisa membendung air matanya lagi. Lalu Chaca berlari menaiki tangga.
DUAARR!!!
Aku terlonjak, Chaca membanting pintu kamarnya. Dia pasti sedih banget.
Astaga, maaf Sayang.
"Gan, ada apa? Kenapa teriak-teriak?" tanya Mama yang muncul di belakangku.
"Enggak apa-apa Ma," sahutku pelan. Tubuhku gemetar karena telah membuat Chaca menangis. Aku mengusap kasar wajahku.
Terdengar suara ketukan pintu, aku segera berjalan membukanya. Ternyata Andra dan Mbak Amel sudah datang.
"Mbak, Ndra mari masuk," ucapku mempersilahkan.
"Siapa Gan?" tanya Mama mendekat.
"Temen Gandhi Ma, sama istrinya," jawabku.
Mbak Amel dan Andra memperkenalkan diri sama Mama. Lalu aku mengajak mereka untuk membantu mengeksekusi lokasi.
__ADS_1
"Langsung aja ya, kita bagi tugas," ujar Mama.
Mbak Amel juga Andra saling pandang dan saling mengendikkan bahu mereka pertanda bingung dengan apa yang diutarakan Mama.
"Maaf Tante, sebenernya saya enggak mengerti diminta ke sini untuk ngapain," celetuk Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Astaga, jadi Gandhi belum jelasin semuanya?" Andra dan istrinya menggelengkan kepala serempak. Mama menepuk dahinya.
"Kita mau bikin surprise ulang tahun Chaca, tolong bantu dekorasinya ya. Dia lagi nangis-nangis di kamar. Ma, kuenya udah siap semua kan?" jelasku membuat mereka mengangguk paham.
"Iya, kuenya beres. Kebetulan tadi Chaca enggak di rumah kan seharian. Jadi dia enggak curiga," sahut Mama mulai merangkai bunga.
Kami mulai membagi tugas. Andra kembang kempis meniup balon-balon. Sedang Mbak Amel membantu menempel-nempelkan assesoris. Hampir satu jam kami menyelesaikan dekorasinya.
Setelahnya, Mama beralih mendekorasi meja makan di tepi kolam. Beliau merias secantik mungkin dengan taburan kelopak mawar. Eh jadi keinget waktu metik mawar tetangga. Hahaa!
Andra menyalakan lilin mengelilingi kolam renang. Mbak Amel membuat rangkaian bunga mengapung berbentuk love di tengah-tengah kolam.
Akhirnya genap dua jam kami sudah selesai semuanya. Aku puas melihatnya. Sekarang menuju step selanjutnya.
"Abis ini ngapain Sayang?" tanya Mama mendekatiku.
Aku berunding untuk langkah selanjutnya. Andra dan istrinya juga mengangguk paham dengan rencanaku. Aku tersenyum sinis membayangkannya.
"Oke, tunggu apa lagi, lets go!" ujar Andra bersemangat membuyarkan lamunanku.
"Mommy! Daddy! Om Gandhi! Kalian dimana?" pekiknya dengan sesenggukan.
Keningku berkerut ketika sampai di lantai atas. Samar-samar aku melihat Chaca terduduk di lantai dalam dekapan seorang pria.
Apakah itu Papa? batinku bertanya-tanya.
Lampu menyala karena aku sudah menentukan waktu agar Mang Maman tukang kebun di rumah kembali menyalakannya.
"Wow! Apa-apaan ini?" geramku melihat pemandangan di depanku.
Benar dugaanku, Chaca bersimpuh dipeluk oleh seseorang. Ternyata bukan Papa. Melainkan Bryan sialan. Darahku serasa mendidih, dengan deguban jantung yang berantakan. Kedua tanganku mengepal. Mereka terkejut lalu berdiri. Kedua mata Chaca bengkak karena menangis sedari tadi.
"Om, i-ini tidak seperti yang kamu lihat. A-aku bisa jelasin," ucap Chaca terbata-bata berjalan menyentuh lenganku.
Aku menepisnya dengan kasar. "Enggak ada lagi yang perlu dijelasin. Andra, Mbak Amel batalkan semua pesanan kami. Termasuk WO, catering, undangan dan lain-lain. Kembalikan kebaya juga jas pengantin. Tidak akan ada akad!" teriakku menatapnya tajam membuat seisi rumah terkejut.
"Enggak! Apa maksud kamu Om. Aku enggak mau! Pernikahan ini akan tetap dilanjutkan. Enggak Mbak, Mas tolong jangan batalin semuanya. Tolong ya Mbak, Mas," pintanya memohon menangkupkan kedua tangannya dengan berlinang air mata. Andra dan Mbak Amel tampak iba melihatnya.
Mama diam mematung, beliau turut menitikkan air mata. Chaca menangis sejadi-jadinya. Bryan mencoba menenangkan dan menjelaskannya. Tapi aku sudah terlanjur emosi. Sebuah bogeman mendarat di wajahnya.
"Om, aku mohon tenangin diri kamu dulu. Aku tahu kamu sedang emosi. Pernikahan kita sudah di depan mata. Tolong jangan batalkan Om, aku enggak mau nikah selain sama kamu. Separuh jiwaku sudah bersamamu Om. Aku enggak bisa pisah sama kamu." Chaca menangis memeluk erat punggungku.
__ADS_1
Aku melepaskan kedua tangannya berjalan menuruni tangga. Tubuh Chaca luruh ke lantai, seolah sudah tidak ada tenaga lagi menopang tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Oooommm! Jangan tinggalin aku! Aku enggak bisa hidup tanpa kamu Om!" teriaknya di tengah isakannya.
Aku berbalik melihatnya ketika sampai di lantai dasar. Mama memeluknya erat, lalu membangunkannya. Mama menuntun Chaca, aku kembali berjalan ke teras belakang.
Aku bersembunyi di balik pintu membawa sebuah kue di tanganku. Dengan lilin angka 20 yang menyala di atasnya. Aku mengintip melalui celah jendela, Chaca berjalan terseok dipapah oleh Mama dengan masih menangis di pelukan Mama.
"SURPRISEEEEE!" teriakku ketika Chaca dan Mama melalui pintu.
Chaca terperanjat, kepalanya terangkat. Ia melihatku dengan tatapan tidak percaya.
Kami semua serempak menyanyikan lagu happy birth day untuk Chaca. Dia masih bingung, melihat sekelilingnya ia tambah terkejut.
"Apa ini?" ucapnya lirih.
Aku memberikan kue ke tangan Mama. Kuraih tubuh mungil Chaca dalam dekapanku. Ku hujani kecupan pada puncak kepalanya. Lalu beralih pada kening, kedua mata, kedua pipi dan bibirnya.
"Maafin aku Sayang, maaf. Selamat ulang tahun kesayanganku, selamat ulang tahun belahan jiwaku, kekasihku, calon ibu dari anak-anakku. Maafin aku ya Sayang," tuturku mencium kedua punggung tangannya.
"Kamu gila Om! Kamu jahat, tega! Aaaah aku benci sama kamu!" teriaknya memukul-mukul dadaku.
"Emm ... benci? Benar-benar cinta kan?" godaku menaik turunkan kedua alisku.
"Jadi semua ini cuma prank? Sejak kemarin kamu diamin aku, abaikan aku dan marah-marah sama aku? Terakhir tadi?" ucapnya penuh tanya.
Aku mengangguk pelan, menundukkan kepala. Aku siap menerima terkaman darinya.
"Maafin aku Sayang," ucapku sekali lagi.
"Iiiiiihhh ... sumpah kamu ngeselin Om! Aku takut banget tau nggak? Hancur hatiku ketika kamu bilang batalin semuanya. Mas Anda juga iya iya aja. Mama malah ikut nangis. Sebel! Sebel! Kalian nyebelin!" teriaknya mengacak rambut panjangnya.
Mama tersenyum lalu mengatakan jika itu semua adalah ide gilaku. Andra dan Mbak Amel juga, aku semakin tersudutkan. Lalu bersiap-siap melarikan diri.
"Om! Gila! Awas kamu ya!" pekiknya berlarian mengejarku.
Dia terus menghujani pukulan di punggung, lengan, bahkan rambutku juga dijambak olehnya saat dia berhasil menangkapku. Aku meringis membiarkannya meluapkan emosi.
"Maaf Sayang, namanya juga kejutan. Aku mana bisa pisah dari kamu. Aku sangat mencintaimu Cha, untukmu seluruh napas ini Cha, maaf ya," ucapku kembali memeluknya.
"Aku juga mencintaimu Om. Jangan ucapkan kayak gitu lagi. Jangan marahin aku lagi. Jangan abaikan aku lagi. Sakit tau nggak!" gerutunya.
Aku mengangguk lalu mulai mengajaknya memulai pesta kecil-kecilan yang kami buat. Dia terlihat sangat bahagia.
"Thanks Gan, udah bikin aku jantungan. Aku pikir kamu serius," ucap Andra menepuk bahuku.
"Iya, Mama sampai nangis. Nggak keliatan aktingnya," tukas Mama.
"Maaf ya Ma, Ndra, Mbak Amel. Eh, Bryan mana?" selorohku mencari-cari orang yang terkena bogemanku tadi.
__ADS_1
Bersambung~
Kesel banget nulisnya. Bikin emosi 😤 Om Gandhi gila 😒