Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Prepare Wedding


__ADS_3

"Maaf lama Mas," ucap seorang wanita bergabung di meja kami.


Mata kami tertuju pada wanita itu. Aku masih menggenggam tangan kanan Chaca, sesekali mengecupnya.


"Gandhi? Apa kabar?" tanyanya setelah pandangan kami bertemu.


Aku mengulum senyum. "Kabar baik Mbak, Mbak sendiri gimana? Masih belum bosen kan sama Andra?" tanyaku membuat sebuah kepalan tangan mendarat di lenganku.


Yah, dia adalah Amel istri dari Andra yang merupakan sahabat sekaligus asisten managerku.


"Sialan, jangan bicara sembarangan! Ucapan adalah doa Bro," protes Andra tidak terima.


Aku hanya tertawa mendengarnya, begitupun dengan Chaca. Tak berselang lama, kami dihampiri oleh pelayan memberikan buku menu.


"Mau makan apa Sayang?" tanyaku sambil melihat-lihat menu.


"Apa aja Om. Samain aja sama kamu," sahutnya malas.


Setelah menyebutkan pesanan masing-masing, pelayan itu berlalu pergi. Andra tampak sedang berdiskusi dengan wanita di sebelahnya. Chaca menarik-narik ujung kemeja membuatku menoleh.


"Kenapa Sayang?" tanyaku membelai kepalanya.


Kepalanya mendekat, aku otomatis memundurkan diri dan mengerutkan kening. Chaca menarik telingaku geram, mau tidak mau turut tertarik mendekatnya.


"Sakit Sayang," rintihku.


"Itu siapa Om?" bisik Chaca.


Ah ... aku pikir dia mau menciumku.


"Ooh iya lupa, kenalin Sayang dia Mbak Amel istrinya Andra yang akan bantuin persiapin pernikahan kita," ucapku mencubit kedua pipinya.


Chaca membulatkan matanya tidak percaya. "Bu-bukankah tadi kamu bilang ada masalah pekerjaan Om? Kok tiba-tiba sampe pernikahan," tuturnya terkejut.


"Kenapa? Aku sekalian meminta bantuan Mbak Amel, dia kan yang udah berpengalaman. Aku ingin segera menikahimu Sayang. Aku mau memilikimu seutuhnya, selamanya. Agar nggak ada lagi yang bisa misahin kita. Aku sangat mencintaimu, Sayang," jawabku merengkuh kedua pipinya.


Kulihat mata Chaca yang berkaca-kaca. Kami seolah hanya tinggal berdua saja, lalu ia menyeruakkan kepalanya di dadaku dan terisak.


"Aku juga sangat mencitaimu, Om. Terima kasih," ucapnya di sela tangisannya.


"Woi ... dunia bukan milik kalian doang!" gerutu Andra melempar bunga plastik di meja ke arah kami. Mbak Amel hanya tertawa melihatnya.


Chaca mungkin tersadar, dia hendak menjauhkan tubuhnya. Namun aku tidak mengizinkannya. Aku tetap menahannya dalam pelukanku.

__ADS_1


"Biarin aja dia syirik," celetukku.


Chaca melepaskan pelukan, menghapus air matanya lalu mengajak Mbak Amel berkenalan. Tak butuh waktu lama mereka berdua tampak akrab. Yah karena Chaca orangnya humble mudah bergaul dengan siapa saja.


"Loh, itu bukannya Ayu ya Mas? Kok dia di sini?" tanya Mbak Amel menunjuk ke arah belakangku.


Aku dan Chaca seketika menoleh mengikuti jemari Mbak Amel. Dan ya, ternyata benar itu Ayu. Dia menangis menutup mulutnya. Mungkin dia mendengar percakapan kami karena jaraknya tidak terlalu jauh.


"Iya katanya mau ada yang dibicarain. Makanya sekalian aku ajak ketemu di sini," sahut Andra santai.


Chaca menggeram, aku mengusap punggungnya agar dia lebih tenang. Namun ternyata, Ayu berlari meninggalkan kami. Mbak Amel beranjak mencoba mengejarnya. Aku, Chaca dan Andra diam saja tidak begitu mempedulikannya.


Tak berselang lama, pesanan kami datang. Buru-buru aku menyodorkan es jeruk yang aku pesan tadi pada Chaca.


"Minum dulu, biar asapnya ilang," candaku tercengir.


Chaca menajamkan tatapannya saat meneguk minumannya. Setiap melihat Ayu, Chaca seakan keluar tanduknya. Siap menerjang musuhnya kapan saja.


"Kapan kalian rencana menikah?" tanya Andra kesal yang merasa seperti obat nyamuk. Istrinya belum kembali sejak tadi.


"Minggu depan," sahutku mulai memakan makananku.


"Apa?" sahut Andra dan Chaca bersamaan.


Buru-buru aku mengambilkannya minuman. Aku juga menepuk pundaknya perlahan. Mereka terkejut, tatapannya seolah berkata tidak percaya.


"Pelan-pelan dong Sayang, enggak ada yang minta makanan kamu," celetukku menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Kuusap peluh yang muncul di dahinya.


Chaca masih mengatur napas. Ia meletakkan gelas yang sudah tandas isinya. Lalu menoleh ke arahku.


"Apa tadi Om bilang? Coba ulangi lagi," ucapnya menajamkan telinga menggerakkan kedua tangannya.


"Kita nikah minggu depan Sayang," ujarku mencium pipinya. Wajahnya bersemu merah. Terlihat sekali pancaran rona kebahagiaan di mukanya.


"Aaaaaa ...," teriaknya kegirangan langsung memelukku kemudian mencium kedua pipiku.


"Eh tapi apa enggak terlalu cepat Om? Kita belum persiapan apa-apa loh!" ujarnya masih merangkulkan lengannya di bahuku. Semua mata tertuju pada kami.


"Astaga dua sejoli ini enggak tahu tempat apa ya," gerutu Andra menutup wajah dengan kedua tangan.


Aku menurunkan kedua tangannya, menatap kedua bola matanya yang berbinar. Tentu saja dia sangat terkejut. Sebenarnya jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan semuanya tentu saja dengan campur tangan Andra dan istrinya. Sekarang tinggal merencanakan konsep yang sesuai dengan keinginan Chaca.


Hari ini adalah jadwal pertemuanku dengan wedding organizer. Mendadak sih memang, tapi aku mau secepatnya. Untungnya Mbak Amel mempunyai kenalan WO terbaik dan cekatan.

__ADS_1


"Udah, makan dulu aja. Nanti kita bahas lagi, oke," sahutku kembali memakan makananku.


Chaca menganggukkan kepalanya, dia tidak bisa menahan senyumnya dari tadi. Chaca itu ekspresif, tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Mudah marah, mudah nangis, mudah ketawa, beda sama aku.


Kebalikan darinya, aku orang yang paling bisa menyembunyikan perasaanku. Sedih, sakit, kecewa, emosi aku mampu menutupinya dengan senyuman. Namun, tentu saja bisa meledak kapan saja ketika sudah tidak mampu menampungnya.


"Hufft, melelahkan," ucap Mbak Amel kembali duduk di kursinya.


"Mana Ayu Yang?" tanya Andra yang sudah selesai makan.


Mbak Amel masih mengatur napasnya yang terengah-engah. Lalu meneguk minuman di hadapannya.


"Enggak kekejar, dia keburu naik taksi sambil nangis-nangis. Entahlah, aku juga nggak ngerti sama tu anak. Oiya WO-nya udah datang, di meja no.16. Kamu udah selesai makan belum Cha?"


"Kok enggak di sini sekalian Mbak?" tanya Chaca.


"Enggak apa, ini urusan kita," sahut Mbak Amel.


Sebenarnya memang sengaja. Karena aku dan Andra ingin membahas masalah pekerjaan yang udah lama enggak aku singgahi. Hanya sekedar mantau online saja.


Tanpa menunggu lama, Chaca dan Mbak Amel berpindah satu meja dengan WO kami. Aku sih menurut saja dengan semua keputusannya.


"Gimana Ndra?" tanyaku ketika hanya bersama Andra.


"Ada masalah besar Bro." Andra mengaduk-aduk minumannya dan menghela napas panjang. Aku menunggu mendengarkan dengan seksama.


"Pendapatan hotel kita menurun drastis bahkan sampai 60%. Maafin aku karena sebenarnya sempat cuti 2 minggu. Karena orang tua Amel sakit, aku harus pulang ke kampung halamannya," imbuhnya tidak berani menatapku. Ia menundukkan kepalanya.


Pandanganku tidak lepas darinya. Tampak raut kecemasan dan ketakutan sedang menyelimuti Andra. Selama ini dia tidak pernah mengatakan jika ia mengambil cuti selama itu.


"Kita juga kalah tender besar ketika meeting dengan klien. Dan saat ini owner hotel sedang meninjau kinerja kita. Be-beliau kecewa dengan kamu Gan."


Aku menghela napas panjang. Sepertinya aku dalam masalah besar. Memang, selama Chaca di rumah aku sama sekali belum menginjakkan kaki di hotel.


"Bagaimana bisa Ndra? Selama ini performa tamunya bagus. Kenapa bisa menurun drastis? Apakah ada udang di balik bakwan?" Aku bertanya-tanya.


"Jadi, siapa yang mengendalikannya selama kamu cuti?" ucapku serius.


"A-Antony, manager lini," sahut Andra ragu-ragu.


"Apa?!"


Bersambung~

__ADS_1


Maapke gaeeess baru up lageeh.


__ADS_2