Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Ooh Seperti Itu?


__ADS_3

"Gandhi, kok belum tidur Sayang?" seru Mama menyentuh kedua bahuku.


"Eh, Mama. Tadi ambil minum Ma, Gandhi haus," jawabku menyentuh tangan Mama.


Beliau juga mengambil minum lalu duduk di sampingku. Aku masih terdiam, menautkan kedua jemari tangan di atas meja.


"Mikirin apa Sayang?" ujar Mama menyentuh lenganku.


"Ma, sebenarnya siapa Bryan? Lalu apa tujuannya datang ke sini? Jujur saja, Gandhi cemburu Ma liat dia dekat sama Chaca." Aku mengaku pada Mama. Semenjak kehilangan Bunda, aku bisa semakin dekat dan terbuka dengan Mama.


Mama tersenyum, mengusap pipiku lembut. Beliau meneguk minumannya sebelum akhirnya angkat bicara.


"Sayang, dia adalah anak dari Om Hendrik, adik kandung Papa. Satu-satunya saudara Papa. Namun satu tahun yang lalu, beliau meninggal karena kecelakaan tunggal. Sedangkan istrinya sudah meninggal ketika melahirkan Bryan. Sebelum pindah ke Bogor, Hendrik dan Bryan tinggal di dekat sini. Sampai Chaca berusia 5 tahun, mereka baru pindah karena Hendrik ada tugas di sana. Jadi mereka memutuskan menetap di Bogor."


Oh, jadi sekarang dia sebatang kara? Kasihan sekali. Aku jadi semakin bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini.


"Bryan usianya satu tahun lebih muda dari kamu. Dulu, dia sering main ke sini saat Mama mulai mengadopsi Chaca, Bryan udah seperti anak Mama. Dia suka sekali punya adik saat itu. Karena mamanya sudah meninggal, dia menganggap aku adalah ibunya. Makanya dia panggil Mama sama seperti Chaca. Bryan dari dulu suka sekali menggoda dan menjahili Chaca. Tapi kalau Chaca enggak di rumah dia kesepian. Setelah sekian lama mereka baru ketemu lagi sekarang," jelas Mama lagi.


"Oiya, Bryan pindah lagi ke sini karena kebetulan, dia dapet kerjaan di sini Sayang. Jadi sementara dia tinggal sama kita dulu sampai dia dapat tempat tinggal baru," imbuhnya.


Aku hanya mengangguk, karena Mama kelihatannya sangat lelah aku meminta beliau untuk segera beristirahat ke kamar. Seharian ini aku sudah menyusahkannya.


"Aaaaaaarghhh!" Aku mengusap wajahku kasar.


Hatiku berkecamuk, semakin mendekati hari-H aku semakin tidak tenang. Meskipun ini bukan pertama kali buatku, namun ada rasa yang berbeda. Belum lagi masalah hotel, sekarang malah ditambah didiamkan sama saudara.


***


Pagi harinya, aku mendengar bisikan-bisikan lembut di telingaku. Aku memaksa membuka kedua mata yang berat ini. Karena rasanya aku baru saja merebahkan tubuhku.


"Om, bangun dong! Ini udah siang," geram seorang gadis menggoyangkan tubuhku.


Aku tersenyum, melihat gadis kesayanganku di depanku. Kutarik tubuhnya hingga terjatuh di dadaku. Agar dia mendengarkan gelombang cinta yang selalu berdentuman di dadaku saat dekat dengannya.


"Om, ngapain ih. Ayo bangun!" ucapnya mencoba bangun.


"Biarin seperti ini bentar, lagi isi tenaga," ujarku dengan suara serak.


Akhirnya dia terdiam sejenak. Hingga beberapa saat, aku melepaskannya dan mendaratkan sebuah kecupan pada keningnya.


"Mana bisa ngisi tenaga kayak gitu," ujarnya merapikan rambut.


"Bisa dong, kamu sumber kekuatanku." Aku berdiri dan mengacak rambutnya gemas.


"Ih, baru dirapiin juga!" kesalnya memukul tanganku.

__ADS_1


Mataku seketika membelalak ketika melihat jam pada dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Aku segera berlari ke kamar mandi.


"Om, jangan buru-buru ih," keluh Chaca melihatku gugup.


"Udah telat Sayang, kenapa baru bangunin?" teriakku dari dalam kamar mandi.


Tidak ada jawaban darinya, mungkin sudah keluar kamar. Aku mandi dengan terburu-buru. Gara-gara si Bryan nih semalaman jadi nggak bisa tidur.


Eh kok nyalahin Bryan sih!


Tak lama, aku keluar dari kamar mandi. Kemudian bergegas mencari pakaian. Namun mataku menangkap sesuatu di atas ranjang.


Langkahku mendekat, ternyata Chaca sudah menyiapkan semuanya. Sebentar lagi bakal ada yang siapin terus nih. Aku tersenyum, sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


Setelah bersiap, aku berjalan cepat keluar. Papa sudah berangkat ngantor, Mama juga. Tinggal Chaca yang sibuk bantuin Bi Ratih di dapur.


"Sayang, hari ini kamu mau ke mana? Sama Mbak Amel dulu ya," tukasku memeluknya dari belakang.


Chaca berbalik dan mendorongku. "Om ihh ada Nancy!" serunya tersipu malu.


"Bibi enggak liat kok Non," candanya menutup mata.


"Tuh, Bibi nggak liat Sayang. Aku berangkat dulu, hati-hati ya kalau keluar. Ada apa-apa langsung kabari. Bye Sayang!"


"Om, hati-hati!" Finally kalimat itu yang terdengar meluncur dari bibir mungilnya.


Aku berlari memasuki mobil dan segera menjalankannya. Jalanan sudah padat merayap. Matahari kian meninggi.


"Yaampun, macet pula. Sialan kenapa harus kesiangan sih?" pekikku membanting setir mobil.


Setelah bergulat dengan perasaan yang serba nggak enak, akhirnya aku sampai dengan selamat di hotel. Gila, telat 2 jam. Kaya hotel milik pribadi aja.


Aku segera berjalan ke ruanganku. Mengatur napas dan menyeka keringat yang sedari tadi menetes. Baru juga ambil napas beberapa kali pintu ruangan sudah diketuk.


"Gan!" Andra melongokkan kepalanya.


"Woi, dari mana tadi?" tanyaku masih duduk di kursiku.


"Elu yang dari mana jam segini baru sampe. Tadi abis meeting, kita dapat atasan baru cuy," kata Andra masuk dan duduk di depanku.


Aku biasa aja, tidak menampakkan ekspresi berlebihan. "Terus?" ucapku datar.


"Cantik banget euy, tapi galak. Untung dia tadi langsung pergi. Kalau enggak, bisa habis kamu karena telat. Garang banget sumpah, teriakannya bikin orang kena serangan jantung mendadak," ujar Andra bersemangat.


Aku masih fokus dengan pekerjaan di depanku. Menurutku cerita Andra sama sekali tidak menarik. Dia terus saja mengomel sedari tadi. Membangga-banggakan atasan kami yang baru. Hei, mau secantik apapun juga Chaca nggak ada yang ngalahin.

__ADS_1


"Oiya, emang Handoyo ke mana? Aku mau ngajuin cuti nikahan padahal," ucapku masih fokus meneliti lembaran demi lembaran di depanku.


"Katanya sih sementara, dia mau ke luar negeri. Dan digantiin anaknya. Enggak tau berapa lama," sahutnya.


"Dahlah mau lapor itu doang, hati-hati sama Ibu Friska Adistya Handoyo. Dia teliti banget sampai akar-akar," imbuhnya lagi kemudian berdiri dan beranjak keluar.


Aku mengendikkan bahu, tidak terlalu memusingkannya. Masih cuek saja, kembali lagi fokus dengan benda-benda di tanganku.


Beberapa jam berlalu, pintu ruangan kembali diketuk. Pasti Andra lagi nih, biasa juga enggak pernah ketuk asal nyelonong aja.


"Masuk Ndra!" perintahku membuat pintu terbuka.


"Gan, siap-siap disidang kamu," ucapnya.


Aku mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya.


"Kenapa?"


"Entah, buruan ditunggu di ruangannya!" tegasnya.


Aku melihat jam pada lenganku, sebentar lagi waktunya istirahat. Tapi, mau nggak mau aku harus menemuinya. Dengan langkah berat, aku berjalan menuju ruangannya.


Aku mengetuk pintu, lalu masuk setelah dipersilahkan. Kesan pertama bertemu dengannya, emm ... ya cantik emang, tapi mitasi. Dempulnya aja tebalnya berlapis-lapis. Cantikan Chaca dong kemana-mana.


"Duduk!" ucapnya dingin melihat layar komputer.


Aku mendudukkan diri pada kursi di depannya. Ia memutar kursi menghadapku. Tatapannya seolah meremehkanku.


"Jadi kamu Manager di sini?" tanyanya dingin melipat kedua tangannya di dada.


"Iya benar Bu, saya Gandhi Manager di sini," jawabku berusaha setenang mungkin. Padahal dalam hati gugup dan was-was.


Friska berdiri berjalan mendekat. Ia berdiri di depanku, jarak kami sangat dekat. Aku tidak berani menatapnya.


Kakinya menyilang, dengan tangan dilipat kembali. Aku menelan saliva susah payah, karena merasa sedang terintimidasi.


"Apa Anda tahu kenapa saya memanggil Anda ke sini?" tegasnya.


"Maaf Bu, sa-saya tidak tahu," jawabku jujur. Karena banyak kesalahanku, jadi aku bingung dipanggil karena kesalahan yang mana.


Brak!


Tangan mulusnya menggebrak meja membuatku terjingkat, aku mengusap tengkukku yang tiba-tiba merinding.


Bersambung dulu~

__ADS_1


__ADS_2