Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Miracle


__ADS_3

Chaca POV


Waktu terus berjalan, bumi tetap berputar pada porosnya. Dan Tuhan sang pengendali takdir setiap manusia. Jejak buruk di masa lampau perlahan mulai kutinggalkan.


Aku menyesal, sebenarnya semua tingkah laku burukku hanya menginginkan satu hal. Yaitu perhatian dan kasih sayang kedua orang tuaku. Tapi, aku serasa tertampar oleh kenyataan yang mengatakan bahwa mereka bukan orang tua kandungku. Aku hanya orang asing tanpa ibu dan ayah, yang mereka rawat.


Seandainya aku tahu dari awal, tidak akan mencari-cari perhatian seperti itu. Aku akan terus berusaha menjadi anak baik dan membalas jasa-jasa mereka.


Harusnya aku sadar dengan sikap mereka yang kasar dan tidak peduli. Tapi aku tidak pernah menyangka jika ternyata ... ah sudahlah, lagian aku juga bersyukur karena hal itu aku bisa bersatu dengan Om Gandhi.


Satu-satunya laki-laki yang membuatku jatuh dalam pesonanya saat pertama berjumpa. Pria baik, dewasa, tanggung jawab, perhatian, penuh cinta dan kasih sayang. Benar-benar wanita bodoh yang telah meninggalkannya.


Aku sangat mencintainya. Dia pria paket komplit untuk menyandang status suami idaman. Tapi, aku penuh kekurangan ini merasa tidak pantas bersanding dengannya. Bahkan berbulan-bulan aku hanya terus membebaninya.


Hari ini, aku merasa pijakanku telah hilang. Bunda, manusia berhati malaikat telah pergi untuk selama-lamanya. Beliau orang asing, tapi memberiku kekuatan dan kasih sayang luar biasa. Bunda adalah satu-satunya sandaran hidupku.


Dengan mata kepalaku sendiri, beliau berpulang masih dalam keadaan menjalankan shalat. Aku yakin pintu surga terbuka lebar untuk beliau.


Saat itu, kami sedang menunaikan shalat berjamaah. Itupun karena permintaan beliau. Aku diajari banyak hal oleh Bunda, hingga aku mengerti. Aku juga banyak dinasehati Bunda sebelumnya.


Mataku sudah siap menyemburkan air mata ketika sujud terakhir, Bunda tidak kunjung bangun masih terus bersujud.


"Bunda," seru Intan gadis kecil berusia 5 tahun.


Ia hendak berlari menghampiri Bunda, tapi ditahan oleh tangan kiri Santi sembari menyelesaikan shalat.


"Bunda Kak, Bunda!" Intan mulai berteriak sambil menangis dan memberontak yang terus ditahan Santi.


Semua yang ada di barisan belakang menangis terisak. Aku pun sama, pikiranku kalut. Takut terjadi sesuatu dengan Bunda. Hingga dua kali salam terucap. Aku bergegas mendekati Bunda, menjatuhkan diri dari kursi roda dan merangkak menggapainya.


"Bundaaaaaaa!" seruku memuntahkan air mata memangku dan memeluk erat beliau yang sudah tidak bergerak lagi.


Telingaku seolah tuli, pandanganku buram, tubuhku bergetar hebat saat Om Gandhi mengatakan Bunda telah tiada.


'Bunda ... tidak ada yang bisa menggantikan posisi Bunda di hati Chaca. Orang paling tulus yang pernah kutemui. Sungguh, Chaca sangat menyayangi Bunda melebihi diri Chaca sendiri. Terima kasih untuk semuanya Bunda,' gumamku dalam hati.


"Heh! Cewek manja dan cacat, ngapain kamu masih di sini?" teriak Santi sambil menggebrak pintu membuatku terkejut dan tersadar dari lamunanku.


Pagi ini, hari pertama kami berdiri tanpa Bunda. Aku sejak semalam tidur di kamar Bunda, memeluk erat bantal yang biasa beliau gunakan untuk tidur. Rasanya aku seperti tidur dalam pelukan Bunda.


Sampai sekarang pun aku malas beranjak dari kasur. Aku duduk bersandar di tepi ranjang, masih memeluk bantal Bunda. Aku melihat ada sinar kemarahan di mata Santi.


"Kenapa? Masalah buat lo?" sahutku memutar bola mata malas.

__ADS_1


"Kenapa kamu enggak pulang saja, hah? Kamu itu cacat. Cuma bisa ngrepotin kami. Bahkan pada sisa akhir hidup Bunda kamu hanya bisa membuatnya lelah. Sadar nggak sih kamu?" teriaknya menunjuk-nunjuk wajahku.


Aku menoleh ke arahnya. Melayangkan tatapan tajam. Tanganku mengepal kuat menahan emosi.


"Apa? Enggak terima? Emang kenyataan kan?" sambungnya bersedekap dengan tatapan sinis.


"Keluar dari sini!" ujarku menunjuk arah pintu.


"Heh! Kamu itu siapa? Harusnya kamu yang keluar dari sini. Kamu hanya orang asing yang bisanya cuma ngrepotin orang aja!" teriaknya tidak terima.


Aku menghembuskan napas berat. Jantungku sudah berdetak sangat kencang karena emosi. Reflek aku meletakkan bantal dan berdiri menampar Santi.


"Jaga mulut sampah lo!" teriakku tak kalah kerasnya dari Santi. Dia terkejut melihatku dengan tatapan tidak percaya sembari memegang pipinya.


"Sayang, ada apa? Kenapa berteriak?" panggil suara yang begitu aku kenal menerobos masuk.


Napasnya terengah-engah seperti habis berlari. Ia menatapku terkejut. Lalu tiba-tiba menabrakku, memeluk dan memutar-mutar tubuhku.


"Om, pusing!" pekikku karena ia terus memutar tubuhku dalam pelukannya.


Om Gandhi menurunkanku, membelai wajah dan merapikan rambutku. Matanya juga nampak berkaca-kaca. Kedua tangannya memegang kedua lenganku.


"Sayang, kamu sudah bisa jalan?" ujarnya dengan senyuman di bibirnya.p


"Aaaa ... aku masih tidak percaya. Aku bisa jalan lagi Om!" pekikku kemudian memeluknya erat. Ia membalas pelukanku sama eratnya.


Om Gandhi melepaskan pelukan lalu mencium keningku, kedua mataku yang basah, kedua pipi juga bibirku sekilas. Jemarinya mengusap air yang terus keluar dari kedua bola mataku. Aku terharu sekaligus sangat bahagia.


"Ini mukjizat dari Allah, Sayang. Jika Allah sudah berkehendak apapun akan terjadi. Tak terkecuali kesembuhan kaki kamu Sayang," ucapnya merengkuh kedua pipiku.


Aku mengangguk, senyuman kami terus terpancar sedari tadi. Aku melangkah perlahan mendekati Santi yang masih terkejut melihat apa yang terjadi.


"Santi, thanks ya. Berkat kamu aku bisa berjalan lagi. Maaf tadi aku sempat emosi," ucapku menyentuh kedua tangannya.


"Aku ... aku .... Maaf aku permisi!" tuturnya melepaskan tanganku lalu pergi keluar.


"Sayang, apa yang terjadi tadi? Kenapa aku mendengar kamu berteriak?" ucap Om Gandhi memelukku dari belakang.


"Ah ... enggak apa-apa Om, jangan dipikirin," sahutku membelai pipi kirinya.


Aku sungguh bahagia. Saat aku sudah putus asa dengan keadaanku, ternyata Tuhan memberikan keajaiban yang tidak pernah aku duga sebelumnya.


Bunda, Chaca sudah bisa berjalan lagi Bun. Andai Bunda melihatnya, pasti turut bahagia.

__ADS_1


Air mataku kembali mengalir deras bahkan hingga sesenggukan ketika teringat Bunda. Om Gandhi membalikkan tubuhku, mendekapnya pada dada bidangnya. Membelai kepalaku lembut. Kami berpelukan sangat lama, tanpa berucap apa-apa. Aku menumpahkan segala kesedihanku pada pelukan hangat itu.


"Sayang, kita harus cek ke dokter ya. Kita harus memastikan keadaan kaki kamu," ucapnya melepaskan pelukanku.


"Iya Om, ini juga masih lemas dan sedikit terasa nyeri," tuturku.


Kemudian Om Gandhi menuntun dan mendudukkanku di ranjang. Ia berjongkok di depanku menggenggam erat jemariku, lalu menciumnya.


"Duduk di sini, aku siapin keperluan kamu. Kita berangkat sekarang," ujarnya berdiri.


Aku hanya tersenyum melihatnya yang mondar-mandir mencari dokumen-dokumen hasil pemeriksaanku selama ini. Kemudian memasukkannya dalam tasku.


"Aku siapin mobil dulu ya Sayang, jangan kemana-mana. Tunggu di sini oke?" tukasnya melenggang pergi membawa tasku.


Aku benar-benar menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Bisa dicintai dan disayangi oleh pria seperti Om Gandhi. Kebahagiaanku tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Ayah, Ibu, Bunda semoga kalian juga bisa merasakan kebahagiaanku dari sana. Tunggu aku di surga," gumamku memejamkan mata.


Aku memutuskan berjalan keluar, menutup pintu kamar Bunda. Aku terkejut tiba-tiba tubuhku melayang di udara.


"Bandel ya. Sudah dibilang tungguin jangan kemana-mana!" Siapa lagi kalau bukan Om Gandhi. Ia merengkuh tubuhku dalam gendongannya.


"Ihh Om ngagetin. Lagian aku harus sering-sering berjalan Om, biar enggak kaku," sahutku mengalungkan tangan pada lehernya.


"Tidak boleh banyak gerak sebelum tahu keadaan kamu dari Dokter!" tukasnya tidak mau dibantah.


Aku hanya menggelengkan kepala melihat sifat posesifnya. Aku bahagia diperlakukan seperti ini. Namun malu juga jika dilihat orang. Tapi ya sifatnya yang keras kepala dan tidak mau dibantah membuatku hanya menurut saja.


Setelah kami duduk pada jok mobil masing-masing, dan Om Gandhi hendak menjalankan mobilnya tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengangkatnya setelah menggeser layar slide hijau.


"Halo," ucapnya mendekatkan ponsel ke telinga.


"...." Raut mukanya berubah serius mendengarkan orang berbicara di seberang telepon.


"Oke, nanti kabari saja. Aku mau mengantar Chaca ke rumah sakit dulu," ujarnya lalu menutup telepon.


"Dari siapa Om?" tanyaku penasaran.


Bersambung~


Hemmmmhhhh selamat Cha ❤


Like dan comennya jan bosen yaah.

__ADS_1


__ADS_2