
Di sebuah rumah yang kecil nan sederhana di pinggiran kota Ayu tinggal bersama dengan seorang janda yang sudah tua. Tapi, fisiknya masih sehat dan bugar.
Ayu menidurkan kembali Baby El, ketika tertidur lagi. Kini bayinya sudah berusia 5 bulan. Ayu lalu keluar meninggalkan kamar dengan perlahan.
"Nek, biar Ayu yang lanjutin," ujar Ayu.
"Sudah selesai, Nak. Kamu ikut istirahat aja ini sudah malam," tukas Nenek July mengeringkan tangannya.
Ayu memeluk tubuh renta itu, "Nek, terima kasih banyak atas semua uluran tangan nenek. Ayu nggak tahu gimana nasib Ayu kalau tidak bertemu nenek. Maafin Ayu ya Nek selama ini nyusahin terus," ucap Ayu menitikkan air mata.
Sang nenek mengusap punggungnya pelan, Nenek July sangat menyayangi Ayu seperti cucunya sendiri. Selama ini ia hanya tinggal sendirian semenjak suaminya meninggal.
Nenek July sangat bahagia ketika bisa merawat Ayu, ditambah Ayu mau tinggal bersamanya. Apalagi sekarang ada Baby El menambah kebahagiaannya, karena Nenek July tidak mempunyai anak. Ia sudah menganggap Ayu seperti cucunya sendiri. Ia sangat menyayangi Ayu.
"Kamu itu udah nenek anggap cucu sendiri, jangan pernah berkata seperti itu lagi. Sudah, ayo sekarang tidur. Ini sudah hampir tengah malam," tukas sang nenek.
Ayu menghapus air matanya perlahan lalu tersenyum. "Nek, Baby El bisa nggak ya, Ayu tinggal bekerja? Ayu akan memompa ASI untuk stoknya," ujar Ayu melepaskan pelukannya. Namun kedua tangannya masih memegang lengan sang nenek.
Nenek July mengangguk pelan, ia membelai pipi Ayu. "Lakukanlah, karena semakin lama kebutuhanmu akan bayimu semakin besar. Tenang saja, nenek akan menjaganya dengan baik. Selama ini Baby El sangat pengertian, ia bahkan tidak pernah rewel," tutur Nenek July.
"Sekali lagi makasih ya Nek, Ayu sayang banget sama nenek," ucap Ayu kembali memeluk tubuh renta itu.
Setelahnya keduanya masuk ke kamar masing-masing. Ayu membuka lemari, menyiapkan berkas-berkas yang akan di copy besok untuk melamar pekerjaan. Lalu ia pun beristirahat di samping bayi mungilnya. Malaikat kecil yang dikirim oleh Tuhan untuk menemaninya.
__ADS_1
Keesokan paginya, Ayu bersemangat bangun. Ia segera mandi lalu mulai berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuknya dan sang nenek. Ayu juga membersihkan rumah terlebih dahulu.
Ketika makanan sudah terhidang di meja, Ayu memanggil Nenek July untuk sarapan bersama. Mereka pun menikmati sambil ngobrol ringan.
Kemudian Ayu memompa ASInya untuk stok minum Baby El. Ia menyimpannya dalam kantong ASI yang pernah dibelikan oleh Nenek July. Karena sewaktu Baby El baru lahir, ASI yang dimiliki Ayu melimpah ruah. Sampai Baby kuwalahan saat menyusu, sehingga harus dipompa.
"Nek, masih ingat cara menghangatkannya 'kan?" tanya Ayu memasukkan kantong-kantong itu di freezer.
"Iya, masih kok. Jangan khawatir," sahut sang nenek dengan seulas senyum.
Setelahnya Ayu bersiap dengan pakaian rapi dan beberapa berkas yang ia siapkan sejak malam.
"Kesayangan Mama, jangan rewel ya. Jangan nyusahin nenek. Goodboy ya, Sayang selama Mama belum pulang. Doain Mama mendapat pekerjaan," ucap Ayu pelan pada sang bayi yang masih terlelap.
Lalu, ia naik bus untuk menuju ke kota. Ayu turun di halte. Ia melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Satu per satu ia masuki, namun belum apa-apa sudah ditolak karena tidak ada lowongan.
Ayu tidak menyerah, perusahaan, hotel dan gedung-gedung lainnya ia masuki. Dan semuanya tidak menerima karyawan baru.
Terik mentari yang begitu menyengat di puncak kepala, menandakan hari sudah siang. Ayu mampir di warung pinggir jalan untuk mengisi perutnya yang meronta dan menghilangkan haus di tenggorokannya.
Ditengah asyiknya makan, mata Ayu menangkap selebaran yang tertempel di tiang listrik, tertulis lowongan pekerjaan. Ia bersemangat menghabiskan makanannya. Setelah melakukan pembayaran, Ayu membaca selebaran itu lalu mendatangi tempatnya.
Ia naik angkutan umum untum sampai di sana. Tidak begitu jauh, sehingga ia cepat sampai. Dengan senyum merekah, Ayu segera masuk pada bangunan lantai dua itu.
__ADS_1
Suasana sangat ramai, karena saat ini bersamaan dengan jam makan siang. Ayu langsung disambut baik oleh karyawan menuntunnya di tempat duduk yang kosong.
"Selamat datang di Chandhi's Cafe, semoga nyaman ya, Kak. Mau pesan apa?" tutur seorang pelayan memberikan buku menu.
"Eumm ... maaf, Mbak. Tapi saya ke sini untuk melamar pekerjaan. Saya melihatnya di selebaran," tutur Ayu tidak enak.
"Wah tapi sepertinya sudah penuh, Mbak. Tapi, saya coba bicara dengan pemilik cafenya ya," sahut pelayan itu.
Ayu takut, ia akan ditolak lagi seperti sebelum-sebelumnya. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar bisa diterima kerja.
"Mbak, ada yang mau lamar kerja," ucap pelayan itu pada Chaca.
"Cowok apa cewek, Sa?" tanya Chaca dari balik meja kasir bersama Santi.
"Cewek Mbak," sahut Nisa pelayan itu.
"Coba aku tanyain Pak Gandhi, Sa. Kayaknya udah nggak nerima lagi sih," tutur Chaca mengambil gagang telepon dan menekan kode agar tersambung ke ruangan Gandhi.
Chaca mengatakan akan ada pelamar lagi seorang perempuan. Gandhi menyerahkan interview pada Chaca, ia masih membutuhkan seseorang untuk menjaga area permainan. Chaca segera mematuhi titah suaminya.
"Oke, Sa. Aku interview dulu," tukas Chaca lalu berjalan mengikuti Nisa.
Chaca mendudukkan diri di depan Ayu. Kedua mata Chaca membulat dengan sempurna, mulutnya menganga terkejut dengan orang di hadapannya. Ayu juga sama terkejutnya. Ia sama sekali tidak tahu jika cafe ini adalah milik Chaca.
__ADS_1
Bersambung~