
"Iya Cha, kamu hamil. Besok akan diperiksa oleh dokter spesialis untuk lebih jelasnya. Sekarang, kamu nggak boleh kecapekan, nggak boleh stress harus benar-benar bedrest sampai kondisimu pulih," jelas Amel dengan senyuman hangat.
Chaca masih ling lung, dia mengerjapkan mata berulang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.
"Selamat ya, Sayang. Kamu akan segera menjadi seorang ibu," imbuh Amel lagi memeluk Chaca.
"Tapi, kenapa aku merasa seperti sedang mens, Mbak?" tanya Chaca bingung.
Amel pun menjelaskan bahwa ia terlalu banyak fikiran dan kelelahan sehingga mengakibatkan Chaca mengalami pendarahan. Bahagia, haru, kini menyeruak dalam hatinya. Kedua sudut matanya mengeluarkan kristal bening.
"Alhamdulillah, yang kuat ya, Nak. Maafin Mommy yang tidak menyadari kehadiranmu," gumam Chaca memejamkan mata sambil mengusap perutnya yang sedikit menonjol itu.
"Kamu nggak ngerasain apa-apa ya? Mual atau pusing gitu?" selidik Amel duduk di kursi samping ranjang Chaca.
Chaca menggelengkan kepalanya, ia masih menitikkan air mata. Karena masih tidak menyangka akan ada nyawa dalam perutnya. Ia akan menjadi seorang ibu setelah sekian lama.
"Yaiyalah nggak ngerasa. Suami kamu yang maboknya nggak ketulungan Cha. Iya 'kan, Om?" celetuk Andra memalingkan muka pada Papa Xander.
"Ah iya, sudah hampir seminggu Gandhi selalu muntah bahkan hanya bisa tiduran terus. Bisa gitu ya?" tutur Papa Xander terkekeh teringat putranya tak berdaya yang bahkan sehari bisa berkali-kali harus memapahnya ke toilet.
"Couved Syndrome atau hamil simpatik, Om. Jadi yang mengalami mual muntah ayah sang baby. Jarang banget sih yang ngalamin, tapi memang ada," jelas Amel.
"Dad, tolong pindahin aku ke kamar Mas Gandhi, Chaca mau terus di dekatnya. Maafin Chaca Dad, maaf," pinta Chaca lemah menyentuh tangan sang Daddy masih berlinang air mata.
Semua yang ada di sana saling menatap, merasa iba, Papa Xander lalu meminta perawat untuk memindahkan brankarnya ke kamar Gandhi. Mama Alice terkejut melihatnya. Ada pancaran kemarahan ketika melihat Chaca.
Ibu mana yang tidak sakit hati melihat anaknya sakit tak berdaya karena ditinggal oleh istrinya. Mama Alice bahkan diam tidak menyapanya. Hatinya sudah diselimuti amarah dan kebencian.
"Mom," sapa Chaca menatap Mama Alice.
Wanita itu justru memalingkan muka tidak mau melihat Chaca. Malah kembali menangis dengan mengusap kepala Gandhi pelan.
"Maafin Chaca, Mom. Chaca egois, nggak mikirin perasaan kalian," ucap Chaca pelan.
Mama Alice masih terdiam. Sesak rasanya, tapi Chaca sadar semua memang karena kesalahannya. Amel berusaha menenangkan Chaca. Sedangkan Papa Xander berjalan mendekati sang istri mengajaknya duduk di sofa.
Chaca memaksa ranjang kesakitannya disejajarkan tanpa jarak. Mereka pun membuka pembatas salah satu sisi menyatukan ranjangnya. Amel dan Andra turut berjalan ke sofa membiarkan dua sejoli itu saling melepas rasa rindu.
"Sayang, maafin aku." Chaca meraih tangan lemah suaminya lalu menciumnya berkali-kali. Melihat wajah Gandhi yang sangat pucat membuat Chaca semakin merasa bersalah.
Tangisnya tak terbendung, rasa bersalah dan rindu bercampur menjadi satu. Chaca terus mencium punggung tangan suaminya. Lalu meletakkannya di sisi pipinya sambil memejamkan mata dan terisak.
__ADS_1
Merasakan telapak tangannya basah, Gandhi mulai mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya berusaha menoleh ke kiri, karena merasa tangannya tertarik. Bibirnya bergetar hendak memanggil istri kesayangannya.
"Sa ... sayang, i ... ini beneran kamu," panggil Gandhi sangat lirih seolah tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Chaca membuka matanya, kedua bola mata basahnya bertemu dengan tatapan sayu sang suami. Keduanya saling mengukir senyuman, Gandhi seolah mendapatkan kekuatannya kembali. Ia beranjak duduk, lalu mengambil infusnya disatukan dengan penyangga infus Chaca.
Semua yang ada di ruangan itu terkejut. Pasalnya beberapa hari ke belakang, Gandhi sama sekali tidak mampu menopang tubuhnya. Tapi sekarang bahkan bersemangat duduk sendiri dan berpindah tempat.
Gandhi bergeser agar dekat dengan sang istri. Keduanya memiringkan tubuh. Gandhi lalu memeluk Chaca dengan segenap kerinduan mendalam, mencium kening dan pipinya berulang.
"Akhirnya kamu pulang, Sayang. Aku sungguh mau mati rasanya tanpamu. Jangan tinggalkan aku lagi," ucap Gandhi mengusap lembut salah satu pipi Chaca.
Begitu pun dengan Chaca, wanita itu membalas pelukan sang suami begitu erat. Menumpahkan seluruh air matanya di dada Gandhi.
"Maaf, Mas. Maafin aku," ucapnya sesenggukan.
"Berjanjilah, suatu hari nanti masalah seberat apa pun jangan pergi lagi. Kita hadapi bersama. Bicarakan baik-baik, kalaupun aku punya salah atau kekurangan utarakan langsung. Jangan seperti kemarin, hatiku sungguh hancur, Sayang," tutur Gandhi bergetar menitikkan air mata.
Chaca terisak hingga tak mampu berucap, ia mengangguk-anggukan kepalanya sembari melingkarkan lengan pada tubuh Gandhi. Pria itu terus membelai rambut panjangnya lembut dan menghujani ciuman di seluruh wajah istri yang sangat dicintainya.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok dirawat juga?" tanya Gandhi yang baru menyadari bahwa istrinya juga mengenakan baju pasien.
"Aku nggak apa-apa, Sayang. Besok ikut aku menjalani pemeriksaan ya, aku ada kejutan untuk kamu," ucap Chaca sedikit mendongak.
Chaca menganggukkan kepalanya. Papa dan mama, juga Andra dan Amel saling memeluk pasangannya masing-masing. Mereka terharu melihat pertemuan pasangan di hadapannya. Meski keduanya lemah namun saling memberi kekuatan satu sama lain.
"Tunggu pagi, aku yakin kamu pasti seneng banget dengernya. Sayang sekali lagi maafin aku. Betapa bodohnya aku kemarin-kemarin," tukas Chaca melesakkan kepala di dada suaminya lagi.
"Jangan seperti itu lagi ya, Sayang. Kamu tinggal di mana beberapa hari kemarin? Apa kamu merasa lebih baik?" sahut Gandhi menopangkan dagu pada puncak kepala sang istri.
"Kalau aku cerita, Mas janji jangan marah ya," ucap Chaca pelan.
"Aku cuma marah ketika kamu memintaku menikah lagi atau meninggalkanmu, aku sungguh murka mendengar itu dari bibir kamu," tegas Gandhi memainkan rambut panjang istrinya.
"Tidak! Tidak! Aku menyesal mengatakannya, Mas. Anggap aja waktu itu ada setan yang menempel di tubuhku. Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku tidak mau kamu mencari maduku!" tandas Chaca mengeratkan pelukannya. Dia merutuki kebodohannya saat mengatakan hal itu.
Chaca lalu menceritakan seluruh rentetan peristiwa setelah dia meninggalkan rumah subuh itu. Mulai dari mendatang Andra, diantar ke rumah Amel, diajari membatik oleh ibunya Amel, bahkan sampai Andra bolak balik menjemputnya agar bisa kembali ke Malang.
Andra yang begitu posesif tidak membiarkannya pergi sendirian. Dia takut dibunuh oleh Gandhi jika terjadi sesuatu dengan Chaca. Oleh karenanya Andra rela capek-capek menyetir dari Malang ke Pekalongan dan sebaliknya.
"Andra? Di mana dia sekarang?" Nada bicaranya terdengar geram.
__ADS_1
"Ada tuh, belakang kamu, Mas," tutur Chaca.
Gandhi lalu membalikkan tubuhnya, ia melihat Andra dengan tatapan nyalang.
"Ndra sini, Ndra!" perintah Gandhi tegas.
Andra bersembunyi di balik tubuh Amel, "Andra nggak ada!" celetuknya takut. Amel juga turut menundukkan kepala merasa bersalah.
"Andra sini nggak!" tegasnya lagi. Gandhi bahkan sudah mampu berkata lantang.
Chaca menarik baju Gandhi ia mengingatkan janjinya bahwa setelah bercerita tidak akan marah. Gandhi hanya diam saja kembali memalingkan muka pada Andra.
"Andra ini perintah!" tandas Gandhi keras.
Mau tidak mau Andra beranjak dari duduknya. Jantungnya berdegub seolah hendak loncat dari tempatnya. Andra menundukkan kepala tidak berani menatapnya.
"Andra! Mulai hari ini kamu ...."
"Jangan pecat saya, Bos. Tolong kasihani saya. Maaf atas kelancangan saya," potong Andra cepat.
"Siapa yang mau pecat kamu? Makanya kalau orang ngomong jangan dipotong-potong. Mulai hari ini kamu diangkat menjadi direktur di hotel saya," ucap Gandhi.
Andra mendongakkan kepala. "A ... apa, Bos? Benarkah?"
Gandhi tersenyum lebar merentangkan kedua tangannya. Andra segera menyambutnya. Keduanya saling memeluk. Semua orang yang sempat tegang tadi mendesah lega dan turut bahagia.
"Terima kasih telah menjaga istriku dengan baik," tutur Gandhi menepuk punggung Andra pelan.
"Sudah tugas saya, Bos!"
"Sialan! Jangan terlalu formal. Aku risih," tutur Gandhi melepas pelukannya. Mereka lalu tertawa bersama.
"Tetep aja aku marah dengan persekongkolan kalian!" tandas Gandhi.
"Sayang, bukan salah mereka. Semua karena aku, maafin aku," sesal Chaca memasang wajah imutnya.
Gandhi kembali membelakangi Andra dan melambaikan tangan berkata bahwa dia ingin bermesraan dengan istrinya, meminta Andra kembali ke tempatnya.
"Mana tahan aku kalau lihat wajah seimut ini," tutur Gandhi kembali memeluk dan mencium sang istri.
Mama Alice masih menampakkan wajah kesalnya. Teringat jelas bagaimana Gandhi beberapa hari terakhir.
__ADS_1
Bersambung~
nggak abis abis... wkwkwk... tenang abis ini chapter terakhirš like komen semua part yaa..