Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Honeymoon Part 4


__ADS_3

Pagi ini, seusai mandi dan menunaikan salat subuh Chaca kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Mungkin dia terlalu lelah. Semalaman aku tidak membiarkan dia tidur dengan nyenyak.


Aku menarik selimut menutupi tubuhnya, lalu beranjak keluar. Setelah sebuah kecupan hangat mendarat pada keningnya. Aku memainkan ponsel untuk memesan makanan. Pagi ini, aku memilih untuk delivery saja agar lebih cepat dan tidak terlalu ribet.


Sembari menunggu, aku membuat coklat panas untukku dan Chaca. Lalu meletakkannya di dekat kolam renang yang terletak di belakang rumah. Aku terkagum-kagum dengan interior maupun eksterior bangunan ini.


Padahal kalau mau renang bisa lompat ke bawah. Tapi masih dibangun kolam renang pula. Benar-benar dunia air di sini. Tapi seriusan di sini adem banget. Mendukung banget suasananya.


Setelah beberapa menit, terdengar ketukan pintu di luar, aku beranjak dari duduk berjalan keluar. Ternyata para pelayan yang mengantarkan makanan.


"Mari masuk, langsung letakkan saja di belakang," ucapku berjalan lebih dulu.


Mereka mengikutiku dari belakang, lalu meletakkan makanan tersebut di meja tempat aku bersantai tadi.


Aku merogoh beberapa lembar pecahan lima puluh ribuan yang kebetulan terselip di saku celana. Lalu memberikan pada mereka sebagai tips.


"Terima kasih banyak, Mas. Selamat menikmati tempat dan makanan kami. Semoga berkesan dan semakin romantis ya," tukas salah seorang pria pengantar makanan itu.


Aku menjawabnya dengan anggukan disertai senyuman. Mereka kemudian berpamitan meninggalkan resort yang aku tempati.


Aku beranjak ke kamar untuk membangunkan Chaca. Matahari sudah semakin menanjak. Waktu juga terus berputar. Kubuka pintu kamar perlahan, tubuh mungil itu masih meringkuk di bawah kain tebal.


"Sayang," bisikku meletakkan tangan pada puncak kepalanya, mengusapnya dengan ibu jari perlahan.


"Emm." Hanya deheman tanpa membuka matanya ia menjawabku. Malah semakin menarik selimut membungkus tubuhnya.


"Bangun, ayo sarapan. Terus kita jalan-jalan. Atau kamu hanya mau kita stay di kamar terus nih? Kalau iya, aku masih siap untuk ...."


"Tidak!" teriaknya cepat memotong ucapanku. Ia menyibak selimut dan mendudukkan tubuhnya.


Matanya kembali terpejam dengan posisi terduduk. Aku menggodanya, merangkak ke atas ranjang mendekatkan kepalaku pada kepalanya.


Kedua tanganku menahan tubuh agar tidak menindihnya, kemudian mencium bibir kecil itu dan melum*tnya. Membuat Chaca membelalakkan matanya.


Ia refleks mendorong dadaku, "Sayang!" pekiknya menajamkan tatapannya.


"Iya, Sayang. Mau lagi?" godaku masih menyatukan kening kami. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat dapat kurasakan menyentuh kulitku. Tubuhnya menegang, akupun menahan debaran jantung yang berdentuman sedari tadi.


Chaca langsung menarik selimut hingga lehernya. "Sayang! Udah semalaman masih kurang juga? Mau bikin aku nggak bisa jalan apa? Bahkan aku tidur hanya beberapa jam," serunya menyebikkan bibir melipat kedua lengannya.

__ADS_1


Aku tertawa, menangkup kedua pipinya dan mengecup bibir itu sekilas. "Habisnya kamu selalu membuatku ketagihan, Sayang. Asal kamu tahu aja, sebenarnya selama ini aku tersiksa saat dekat denganmu," tukasku mendudukkan diri di sampingnya.


Chaca terkejut, ia duduk bersila menghadapku. "Ma--maksud kamu apa Mas? Jadi, kamu nggak seneng dekat sama aku? Kamu nggak bahagia?" tandasnya dengan tatapan serius.


Aku mengerutkan kening, lalu menarik tubuh mungilnya dan mendekapnya erat.


"Ngomong apa Sayang? Selama ini setiap dekat dengan kamu, tubuhku selalu bergejolak menahan nafsu. Namun tidak bisa berbuat apa-apa, dan sungguh itu membuatku tersiksa setiap harinya. Dan sekarang, aku akan balas dendam!" ucapku dengan penuh seringai.


Chaca melepaskan pelukanku. Ia menatap kedua bola mataku bergantian. "Apa kamu selalu seperti itu kalau dekat dengan wanita?" tanyanya.


Aku tertawa sembari merapikan untaian rambutnya yang kusut, menyelipkannya ke belakang telinga.


"Dulu iya, sama Ayu. Karena dia sudah sah menjadi milikku. Tapi setelah semua perlakuannya padaku, aku menjadi ilfeel padanya. Sekarang, kamu milikku. Rasa itu hanya hadir saat bersamamu. Karena cuma kamu belahan hatiku. I love you my wife," ucapku mencium keningnya.


Kemudian aku mengajaknya untuk segera sarapan. Keburu makanannya dingin. Chaca hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja. Karena tadi subuh sudah mandi.


"Sayang, aku turun dulu. Nanti nyusul ya, di tepi kolam renang!" seruku sebelum keluar dari kamar.


Setelah terdengar sahutan dari kamar mandi, aku melangkah menuruni tangga. Duduk menikmati udara sejuk sembari memainkan ponselku. Aku tidak ingin memantau pekerjaanku. Di sini, aku cuma mau fokus dengan Chaca saja.


Tak berselang lama, Chaca turun dan bergabung di sampingku. Ia menatap semua makanan itu dengan berbinar.




"Bikin gemas saja. Mau aku suapin?" tukasku mencubit hidung lancipnya.


Chaca menggeleng dan buru-buru menyantap makanan-makanan itu. "Kelamaan Mas kalau disuapin," tuturnya setelah menelan satu suapan makanan.


"Sayang, tujuan kita ke mana dulu nih?" tanya Chaca setelah meneguk coklat hangat yang aku buatkan tadi.


"Kamar!" ucapku spontan.


Chaca tersedak oleh makanannya, aku menepuk punggungnya pelan, menyodorkannya teh hangat.


"Pelan-pelan dong, Sayang. Iya aku tahu kamu makannya banyak. Aku nggak minta punya kamu kok," terangku mengusap punggungnya lembut setelah ia lebih tenang.


Chaca mengatur napas, "Abisnya, ditanyain serius jawabannya bercanda," gerutunya kembali menyuapkan makanan.

__ADS_1


"Aku serius, Sayang. Kalau kamu tanya aku ya, nggak mau ke mana-mana. Mauku kita menghabiskan waktu berdua di kamar," candaku.


"Apaan sudah main sejauh ini masa di kamar aja. Cepetan Sayang, aku nggak sabar mau jalan-jalan di alam ini. Aku mau siap-siap," ucap Chaca mengecup pipiku sekilas membuatku terpaku. Lalu ia berlari meninggalkanku.


***


Tujuan destinasi pertama kami adalah air terjun mata jitu. Letaknya tersembunyi di balik Hutan Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.


Untuk mencapai ke sana, kami harus melalui perjalanan yang panjang. Menyewa perahu nelayan, naik ojek dan masih harus berjalan kaki. Aku terus menautkan jemariku dengan Chaca, tanpa melepasnya sedetikpun. Kecuali saat naik ojek.


"Sayang, kamu capek?" tanyaku saat kami berjalan di jalan setapak.


"Seru banget, Mas. Rasa capeknya dihapus oleh pemandangan savana dan perbukitan yang indah," sahutnya mengulas senyuman di wajahnya.


Gemercik air sayup-sayup terdengar dalam kesunyian alam. Air Terjun Mata Jitu, air terjun yang keindahannya bisa memukau siapa saja yang datang ke kawasan ini.


"Sepertinya kita sudah hampir sampai, Sayang," ucapku.


"Iya Mas, udah kedengeran nih," sahutnya semakin bersemangat.



Wow, sebuah pemandangan asri lengkap dengan pepohonan hijau alami. Perpaduan air terjun yang berwarna hijau tua dan muda seakan-akan menarikku untuk menceburkan diri dan bermain air di dalam air terjun ini.


Aku duduk di tepi kolam. Diikuti oleh Chaca di sampingku. Kami terus menghirup udara dalam-dalam seolah menyimpan stok oksigen banyak-banyak. Lalu menghembuskannya perlahan.


"Indah banget, Sayang," ucap Chaca menopangkan dagunya pada pundak kiriku. Dia terlihat sangat lelah.


"Iya, Sayang mau nyebur nggak sepertinya seger," tawarku.


Chaca menggeleng pelan, "Biarkan seperti ini dulu. Aku agak lelah."



Seorang pemandu wisata yang sedari tadi mengantarkan kami menjelaskan, Air Terjun Mata Jitu memiliki empat undak dan tujuh kolam. Oleh penduduk setempat, “mata jitu” diartikan sebagai mata air yang jatuhnya tepat mengenai kolam di bawahnya.


Keindahan Air Terjun Mata Jitu terkenal hingga ke manca negara. Bahkan, mendiang Putri Diana pernah berkunjung ke air terjun ini. Masyarakat sekitar pun menjuluki air terjun ini dengan sebutan “Queen Waterfall”.


Keindahan air terjun berundak-undak ini tidak hanya pada air yang turun dari atas. Bebatuan yang telah terbentuk sejak ribuan tahun lalu juga dapat disaksikan di sini.

__ADS_1


Stalaktit-stalagmit yang menghiasi permukaan dinding Air Terjun Mata Jitu menambah indah pemandangan yang tersaji. Bentuk stalaktit dan stalagmit yang beragam menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.


Bersambung~


__ADS_2