
yang gak suka boleh skip kok. 😘
***
"Maksudnya apa, Sayang?" tanya Chaca menautkan jemarinya di belakang leherku.
"Meskipun ini pernikahan keduaku, namun kamu wanita pertama yang akan merasakannya," bisikku di telinganya dengan mata yang sudah berkabut oleh hasrat.
Chaca mengulas senyumnya, aku kembali mendekatkan wajahku hingga tidak ada jarak meski satu centi pun. Kembali memagut bibir mungilnya, kali ini lebih panas dari sebelumnya. Aku sudah dipenuhi nafsu membara. Chaca sudah semakin lihai membalas setiap pagutanku.
Jemariku mulai membuka kancing piyamanya satu persatu. Aku terus melangkah maju, sedangkan Chaca berjalan mundur memelukku erat. Sesekali melepaskan tautan bibir kami untuk berebut oksigen.
Hingga tak terasa, tubuh kami sudah mendarat di kasur yang sudah aku lapisi sprei yang baru, tanpa sehelai kainpun. Kelamaan jika harus membersihkan kelopak bunga-bunga itu.
"Sayang, tahan sebentar ya. Mungkin akan terasa sakit pada awalnya," desahku pada telinganya yang hanya dijawab anggukan olehnya. Kuucapkan doa dan bismillah pada puncak kepalanya.
Penuh perjuangan hingga akhirnya bisa terbenam sempurna bersamaan dengan suara letusan salah satu balon. Membuat kami terkejut, lalu tertawa bersama.
Desahan, erangan dan lenguhan memenuhi seisi ruang kamarku. Punggungku penuh dengan cakaran Chaca saat ia telah mencapai puncaknya.
Erangan panjang, adalah pertanda berakhirnya pergulatan kami. Keringat mengguyur seluruh tubuh kami. Sebuah kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah melayang ke udara.
Sebuah kecupan hangat pada kening Chaca adalah hadiah sekaligus ucapan terima kasih untuknya.
"Terima kasih banyak, Sayang, aku mencintaimu," ucapku menjatuhkan tubuh di samping Chaca.
Napas kami masih terengah-engah. Chaca tersenyum menganggukan kepalanya. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kami.
Sebenarnya aku ingin mengulanginya lagi, tapi melihat Chaca sudah terkulai lemas, aku jadi tidak tega. Ia juga sepertinya sudah tidur. Terlihat dari napasnya yang berhembus secara teratur. Aku turut memejamkan mata.
Keesokan harinya ....
Aku mengerjapkan mata ketika ada seberkas cahaya yang masuk melalui celah jendela. Aku meregangkan kedua tanganku. Tidak sengaja menyenggol wajah Chaca.
Eh, Astaga! Sudah pagi. Aku lupa sekarang sudah tidak sendiri tidurku.
__ADS_1
Chaca menggeliat karena sentuhan tidak sengaja dariku. Aku memiringkan tubuh, memandanginya lekat-lekat. Sampai Chaca membuka matanya sempurna.
Chaca membelalak, "Om! Ngapain di sini?" teriaknya saat pandangan kami bertemu.
Aku mengernyitkan dahi, lalu mendekatkan wajah kami, mencium bibir mungilnya dan menyesapnya perlahan. Lalu kuakhiri dengan kecupan di keningnya.
"Morning kiss! Pagi Sayang ... kamu lupa kita udah suami istri?" Aku menopang kepalaku dengan tangan kiri memiringkan tubuh menghadap Chaca.
"Astaga!" decaknya.
Chaca mendudukkan dirinya bersandar pada sandaran kasur sambil meringia kesakitan. Ia lupa jika saat ini ia tidak mengenakan apapun. Buru-buru, Chaca menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Masih sakit? Kenapa ditutupi Sayang? Aku sudah melihat semuanya. Mau kuulangi lagi?" tanyaku mendudukkan diri di sampingnya.
"Enggak!" tolaknya menutupi wajahnya dengan kain tebal itu.
"Yakin nggak mau nih?" godaku menarik-narik selimutnya.
"Yasudah, ayo mandi?" tawarku sambil mencari boxerku dan mengenakannya.
Chaca mengintip di balik selimut, mungkin ia masih malu. Aku berjalan ke sisi ranjang dekat dengannya. Kubuka selimut itu, lalu kugendong ke kamar mandi.
Aku berjalan santai, ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidangku lalu mengalungkan tangannya pada leherku. Melihatnya, aku kembali teringat dengan kegiatan semalam. Tubuhnya, membuatku ketagihan, menginginkannya lagi dan lagi.
Aku menurunkan Chaca lalu, mengisi bathub dengan air hangat. Tak lupa memasukkan bubble bath beserta minyak aromaterapi. Chaca menatapku kagum, dia tak henti-hentinya tersenyum memandangiku sedari tadi.
Aku memang sudah terbiasa melakukan apapun sendiri, jadi ini bukan masalah besar. Setelah siap, Chaca mulai memasukkan kakinya satu per satu. Lalu bersandar dan berendam, menikmati aroma lavender yang menyeruak ke dasar hidung.
Aku membuka boxerku, mengikutinya berendam, mengubah posisi Chaca. Kupeluk tubuhnya dati belakang. Ia bersandar pada dada bidangku, memejamkan kedua matanya.
"Mas Gandhi," ucapnya pelan.
"Panggilan yang bagus," celetukku menyibak rambut panjangnya ke sisi kanan. Memudahkanku mengecup leher dan pundak kirinya.
Tangannya mencengkeram kuat lenganku yang melilit pada perutnya. Ketika permukaan bibirku menyapu kulitnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Mungkin menahan agar tidak mendesah.
__ADS_1
Namun aku semakin meluncurkan serangan-serangan yang membuat pertahanannya runtuh seketika. Kepalanya memutar, bibirnya terbuka sedikit seolah menarikku agar segera melahapnya.
Ciuman yang kian memanas, membuat gejolak yang ada pada tubuhku juga kian memberontak. Kami melakukannya lagi dengan sensasi yang berbeda. Namun tak kalah nikmatnya dengan semalam. Tubuhnya benar-benar membuatku mabuk kepayang. Hampir satu jam kami bercinta.
"Terima kasih, Sayang," ucapku ketika kami telah mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.
"Mas, aku mencintaimu," ucap Chaca pelan dengan sisa-sisa tenaganya.
"I love you more, Sayang," sahutku mencium keningnya lama.
Aku menggosok tubuh Chaca yang sudah terkulai lemas. Menuangkan shampo dan mengusapnya. Membentuk banyak busa di kepalanya. Aku juga turut membersihkan tubuhku sendiri.
Kemudian membilasnya di bawah kucuran shower bersamaan. melilitkan handuk pada Chaca juga diriku sendiri. Aku menggendongnya lagi keluar dari kamar mandi.
Lalu, mendudukkannya di kasur. Kukecup kembali keningnya sebelum akhirnya aku mengambil pakaian dan mengenakannya. Pakaian Chaca masih di kamarnya sendiri.
"Sayang, mau aku ambilin pakaian kamu?" tanyaku berjongkok di depannya.
"Emm ... enggak usah Mas, nanti aja. Aku mau ngumpulin tenaga dulu. Kamu nggak capek apa?" balasnya menangkup kedua pipiku.
Aku meraih kedua tangannya lalu menggeleng, "Kalau buat kamu aku nggak ada capeknya, Sayang. Mau coba lagi? Aku masih siap!" ucapku semangat.
Chaca mencubit kedua pipiku menggerakkannya ke kiri dan kanan. Ia terlihat gemas denganku.
"Udah, kamu mau buat aku nggak bisa jalan apa?" candanya menyatukan kening kami.
Aliran air pada rambutnya menetes pada keningku. "Kalau mau cium, cium aja Sayang. Aku milikmu sekarang. Bebas mau kamu apain aja," candaku membuatnya terkejut dan menegakkan duduknya.
Aku beranjak berdiri, mengusap puncak kepalanya gemas. Lalu mengambilkan handuk untuk mengeringkan rambutnya perlahan. Aku berlutut di kasur di belakang Chaca.
"Gimana nggak betah coba punya suami kayak gini," tukasnya sambil tertawa bahagia.
"Apapun akan aku lakukan untuk istriku tercinta," sahutku mencium pipinya.
Bersambung~
__ADS_1
Revisi🙄
Jan panas panas nanti kebakar🙈🙈🤣