Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Hadiah


__ADS_3

Kami baru menyadari jika Bryan tidak ada. Aku merasa sangat bersalah dengannya. Nanti saja seusai acara aku mencarinya dan meminta maaf padanya.


Andra dan Mbak Amel dipersilahkan makan malam bersama Mama di dalam rumah. Bersamaan dengan kepulangan Papa. Mereka jadi bisa lebih dekat mengobrol bersama.


Sedangkan aku dan Chaca masih menikmati suasana romantis di teras belakang. Aku akui mereka hebat menyulap kolam renang ini menjadi seperti ini dalam waktu yang serba dadakan.


"Sayang kenapa cuma diaduk-aduk aja? Mau disuapin?" tanyaku menyentuh lengannya.


Chaca hanya cemberut, seperti kehilangan selera makan. Ia hanya menatapku sekilas. Perasaan baru aja ketawa ketiwi eh sedetik kemudian ekspresinya berubah lagi.


"Masih kesel!" sahutnya menyebikkan bibir melirik tajam.


"Iya iya Sayang, aku salah. Maaf, aku sebenarnya dari kemarin enggak tega. Tapi malah dapet bumbu-bumbu kedekatan kamu sama Bryan. Yasudah jadi aku terusin sekalian aja," jelasku memasukkan sesuap makanan ke mulutku.


Chaca menatapku garang, ia membanting sendok dengan kasar membuatku terkejut. Kedua tangannya mengepal.


"Aku tuh enggak ada hubungan apa-apa sama manusia kodok itu Om," elaknya tidak terima.


"Pokoknya aku enggak suka ada pria lain pegang-pegang kamu. Apalagi sampe peluk-peluk kamu. Enggak peduli apapun statusnya, kecuali Papa. Aku udah cukup sabar liatnya dari kemarin dan tadi kesabaranku udah di ambang batas. Jadi ya gitu," tegasku menopangkan dagu dengan kedua tangan.


Chaca tertawa mendengarnya. Aku bingung, mengerutkan kening. Kucubit kedua pipinya, kugerakkan ke kiri dan kanan.


"Apanya yang lucu?"


"Ciyeee, cemburu. Asiiiik seneng deh dicemburuin," ujarnya menyentuh kedua tanganku.


Aku segera melepaskan tanganku, menghembuskan napas kasar lalu melipat kedua tangan di dada melihat ke segala arah.


"Dan tadi juga, pas lagi mati lampu. Kenapa diem aja dipeluk-peluk sama Bryan? Padahal aku buru-buru berlari menaiki tangga," tandasku penuh ketegasan.


Eh tunggu, ini harusnya siapa yang marah? Ah bodo amat, aku juga kesel kok.


Chaca menyentuh kedua tanganku dan mengusapnya lembut. Ia tidak mengelak, memang pada kenyataannya tadi seperti itu.


"Om, aku 'kan takut banget ama gelap. Aku jadi keinget waktu kita tertimpa reruntuhan saat gempa. Beberapa detik setelah gempa, semuanya gelap, Om. Aku ...."


"Sayang, maafin aku. Aku enggak bermaksud membuatmu mengingat masa-masa itu lagi. Maaf Sayang," tukasku mengusap lembut punggungnya.


"Om, sesak nih enggak bisa napas! Kenceng amat meluknya," serunya.


"Maaf Sayang," ucapku melepas pelukan dan mencium tangannya.


"Minta maaf sekali lagi dapet piring cantik! Minta maaf mulu perasaan," ucapnya sembari tersenyum.

__ADS_1


Aku beralih ke belakangnya. Kuletakkan kedua lenganku pada bahunya dan kutopangkan dagu di atas kepalanya.


"Aku mau piringnya aja, karena cantiknya udah di kamu semua," godaku.


"Iih gombal," sahutnya tertawa.


Udara malam yang dingin tak mampu menembus kulit kami. Karena kehangatan telah menyelimuti kami berdua. Aku sangat merindukannya, setelah sejak kemarin mengabaikan dan memarahinya.


"Gandhi, Chaca udah malem ayo masuk, mau hujan tuh," teriak Mama di ambang pintu.


"Iya Ma," sahutku menarik tangan Chaca.


Kami berjalan masuk ke rumah, hari sudah hampir tengah malam. Andra dan Mbak Amel sudah pulang dari tadi. Kata Mama sih, enggak mau pamitan sama aku takut ganggu.


"Sayang, kamu ke kamar dulu. Tapi jangan dikunci ya. Tunggu sebentar," pesanku melenggang pergi.


Mungkin karena lelah dan mengantuk Chaca tidak protes maupun sekedar bertanya. Ia masuk ke kamar, aku keluar rumah menuju garasi.


Kemudian mengambil buket mawar yang berisi 999, dan satu kotak bludru berwarna biru. Aku segera berlari menyusul Chaca. Sesampainya di kamar, Chaca sudah merebahkan tubuhnya dan hampir terlelap.


"Sayang," bisikku di telinganya.


"Om besok aja sih, aku ngantuk banget. Mataku masih pedih banget nih rasanya," gerutu Chaca enggan membuka mata.


Chaca membangunkan tubuhnya dengan malas. Kedua bola matanya masih terpejam.


"Buka mata sebentar, Sayang." Sebuah kecupan sekilas mendarat di bibirnya.


Ia membuka mata perlahan, aku berjongkok di depannya bersembunyi di balik rangkaian bunga mawar yang aku pegang dari tadi.


"Woaaahhh!" serunya kehilangan rasa kantuknya.


"Untukmu Sayang. Jumlahnya ada 999 batang. Percaya enggak?" Chaca menggelengkan kepalanya.


"Itung aja kalau enggak percaya," ucapku meletakkannya di kedua tangan Chaca. Ia mengirup bunga itu dalam-dalam sembari memejamkan mata.


"Kenapa cuma 999 Om? Kok enggak sekalian serebu?" tanyanya membuka mata kembali.


"Karena yang satu itu kamu. Kamu adalah satu-satunya mawarku, bungaku, yang tidak akan bisa digantikan oleh apapun dan siapapun," ucapku serius.


Chaca membulatkan matanya dan menutup mulutnya sembari tertawa. Kakinya gerak-gerak terus sedari tadi.


"Om, kok kamu romantis gini sih? Kan jadi nambah sekilo cintaku," celetuknya mencium pipiku.

__ADS_1


"Pejamkan mata kamu, Sayang. Enggak nerima protes dan banyak tanya. Pokoknya turutin aja, merem!" perintahku tidak menerima bantahan.


Chaca menurut tanpa bertanya apapun. Aku mulai membuka kotak yang sedari tadi kupegang. Aku berdiri lalu menyematkan sesuatu di lehernya.


"Jangan ngintip!" ujarku melihatnya membuka mata sedikit.


Setelah beberapa saat, aku memintanya membuka mata. Pandangannya beralih ke bawah, ia berbinar menyentuh liontin pada kalung yang telah kupasang di lehernya.


"GC, indah banget Om. Simpel tapi elegan," ucapnya tersenyum menyibak rambut panjangnya.


"Iya, Gandhi dan Chaca. Maaf aku cuma bisa kasih ini. Enggak bisa kasih hadiah yang mewah," ucapku menyentuh dagunya.


"Suka banget Om, makasih banyak ya," tukasnya memelukku.


"Sama-sama. Sekarang tidur ya, udah malam. Good night sweety," tuturku mencium keningnya lalu meninggalkan kamarnya.


Aku segera ke kamar. Baru merebahkan tubuh dan meregangkan otot-otot, aku kembali teringat Bryan. Di mana dia sekarang? Aku harus minta maaf segera.


Aku berjalan menuju balkon, kamarku dengan kamar Chaca bersebelahan. Ruangannya terlihat terang, karena Chaca takut gelap.


Tenggorokanku terasa kering, jadi aku memutuskan pergi ke dapur. Ketika sampai, aku melihat Bryan sedang duduk termenung di meja makan dengan makanan yang masih utuh di hadapannya.


Aku melaluinya, mengambil air mineral dalam botol meneguknya perlahan. Lalu, aku menghampirinya. Aku menarik kursi di sampingnya dan mendudukinya.


"Bry," tegurku ragu-ragu.


Dia hanya menoleh, lalu fokus menatap lurus ke depan. Tangannya mengepal dan menyiku di atas meja. Ia diam tanpa ekspresi.


"Bry, aku minta maaf tadi aku tidak bisa mengontrol emosiku. Karena sejak kemarin aku lihat kamu begitu dekat dengan Chaca. Jujur, aku cemburu, apalagi tadi aku melihat kamu sedang memeluknya. Sorry Bry," tuturku pelan menyodorkan tangan.


Bryan tidak menanggapi ucapanku sama sekali. Bahkan tidak menyambut tanganku. Ia berlalu pergi meninggalkanku.


Astaga! Gimana ini, dia bener-bener marah.


"Gandhi, kok belum tidur Sayang?"


Bersambung~


Hai guys mau sampein, baru kemaren dapet GC πŸ˜„. Kalo ada yang mau gabung silahkan masuk ya sekedar silaturrahmi atau cuap cuap. Masih sepi sih. Haha


Buat readers DTP masuknya pake password "LOVE MAS GANDHI". Biar aku bisa bedain nih mana yang bener2 pembaca dan sekedar ingin masuk. πŸ˜™πŸ˜™


__ADS_1


__ADS_2