
Aku menghela napas panjang. Jemariku mengetuk-ngetuk setir mobil. Jantungku berdetak kencang, tidak masalah jika aku terluka. Asal istriku baik-baik saja.
"Sayang, kamu tenang jangan panik. Hubungi Andra dan Polisi, sembunyikan bukti-bukti ini selipin di mana gitu. Terus yang terakhir setelah aku keluar, kunci pintunya. Kamu jangan ke mana-mana. Ingat di dalam mobil saja, okay? I love you, Sayang!" pesanku beruntun tanpa menoleh kepadanya.
Mataku fokus memperhatikan 4 orang yang ada di depanku. Aku yakin dalangnya Antony. Tanpa ingin mendengar jawaban apapun, aku mencium kening Chaca sekilas lalu keluar dari mobil.
Chaca terlihat sibuk mengoperasikan ponselnya. Ia gugup, tangannya gemetar saat menyentuh touchscreen itu.
Saat kakiku menapak di jalan raya, sebuah bogeman dan tendangan mendarat di perutku dengan sempurna. Aku meringis terhuyung ke belakang beberapa langkah. Hampir kehilangan keseimbangan.
"Woi, jangan main kroyokan dong!" seruku memasang kuda-kuda.
"Mana bos kalian?" tanyaku waspada.
Bukan jawaban yang kudapat. Melainkan pukulan telak lagi pada wajahku. Begitu cepat, sehingga aku tidak bisa menghindar.
"Sialan! Belum siap woi! Kasih aba-aba dulu kalau mau nyerang!" pekikku mengelap darah yang mengalir di sudut bibirku.
Okay Gandhi, saatnya menyerang. Kedua mataku menajam melihat mereka satu per satu. Aku mengatur strategi untuk menyerang mereka. Dan ....
Dengan kemampuan silatku yang belum lulus naik tingkat, tapi bisa menumbangkan salah satu dari mereka. Melalui beberapa gerakan serangan yang pernah kupelajari waktu SMA dulu. Namun aku lupa, mereka berempat.
Sebuah tendangan di punggung kembali membuatku tersungkur. Astaga, mukaku penuh debu. Lalu dua orang meraih lenganku kiri dan kanan. Sialan! Kroyokan! Andra mana nih nggak sampai-sampai.
Benar saja, setelah memegangiku, salah satunya meluncurkan serangan-serangan di perut dan wajah. Sesekali menghindar, tapi tak jarang pula tepat sasaran.
Mataku membelalak ketika Chaca keluar dari mobil. Ia memegang kunci inggris di tangannya. Ia melayangkan benda itu di tengkuk dua orang laki-laki yang memukulku sedari tadi.
Mereka meringis kesakitan bahkan kepala belakangnya sampai mengeluarkan darah.
"Cemen kalian beraninya kroyokan!" sindir Chaca memutar bola matanya malas.
"Kurang ajar!" seru seseorang hendak menyerang Chaca.
Dengan sigap, ia menendang mereka berdua dengan high heelsnya yang lancip itu. Wow! Aku salut, Chaca ternyata pandai bela diri. Aku bangga padanya.
Beberapa serangan Chaca berhasil membuat mereka tumbang, kemudian Chaca menginjak dan meremas dada mereka dengan ujung heelsnya. Akupun tidak mau kalah. Kutarik kedua orang ke depan hingga saling bertabrakan.
Kening mereka saling membentur sangat keras, kesempatanku untuk menghujani pukulan pada tengkuk lalu menyiku perut mereka. Badan mereka keras sekali, tanganku sampai sakit.
"Sayang, I love you," teriakku memberi kecup jauh padanya.
Chaca masih fokus pada musuh-musuhnya. Tak disangka-sangka, Antony meraih leher Chaca dengan mencondongkan pisau.
__ADS_1
"Chaca!" teriakku hendak berlari, namun dicekal oleh dua anak buahnya.
"Jangan bergerak, atau kugores lehernya yang mulus ini. Hahaha!" Ia tertawa sarkas.
"Lepasin dia! Sebenarnya apa salahku sama kamu, hah?" teriakku menatap Antony tajam.
Antony tertawa dengan keras, kulihat keringat Chaca menetes dari keningnya. Ia melirik mata pisau yang tajam itu.
"Kamu mau tahu apa salahmu? Kesalahanmu karena hadir di dunia ini. Kamu selalu bisa mendapatkan apa yang aku inginkan! Dipuja-puja, mendapatkan jabatan yang tinggi, sedari dulu selalu mengalahkan aku!" ucapnya dengan nada tinggi dan menatapku tajam.
"Kalau begitu lepaskan dia brengsek! Wanita itu tidak ada hubungannya dengan ambisi kamu!" balasku tak kalah tinggi berusaha memberontak. Kakiku menendang-nendang di udara. Aku terus berusaha melepaskan cekalan tangan kedua orang itu.
Cha, maafkan aku.
"Cih! Aku tidak ingin kamu bahagia. Aku tahu dia adalah orang yang sangat berharga dalam hidup kamu!" Ia menggores pipi Chaca dan mempererat lengannya pada leher Chaca.
"Chaca! Jangan sentuh dia atau aku akan membunuhmu. Brengsek! Sekali lagi kamu memberi luka untuknya. Kamu mati di tanganku!" teriakku terus berusaha meronta melepaskan diri.
Ia sama sekali tidak menjerit, hanya memejamkan matanya dan meringis menahan rasa sakit dan sesak napasnya.
Astaga Chaca!
Aku benar-benar tersulut emosi. Berani-beraninya dia melukai istriku. Aku turut merasakan sakit yang ia rasakan.
Mereka menyerangku, memukul bahkan menendangku dengan kedua lenganku dicengkeram erat oleh mereka. Chaca histeris melihatnya, ia menangis.
Ya Tuhan, tolong selamatkan Chaca. Andra kamu di mana, kumohon cepatlah.
Seluruh tubuhku rasanya remuk. Namun aku tidak merasakan apapun. Hanya satu yang aku takutkan, Chaca. Kenapa dia harus mengalaminya, kenapa tadi aku mengajaknya. Seharusnya dia di rumah saja.
"Sayang, bertahanlah!" lirihku melihat ke arahnya.
Chaca terus mengeluarkan air mata. Darah pada pipinya menetes sedikit demi sedikit. Saat Antony lengah, ia lalu memukul perut Antony dengan sikunya dan menginjak kakinya. Hingga ia terlepas dari kungkungan pria brengsek itu.
Tapi sejurus kemudian, Antony mendorong tubuh Chaca hingga ia terlempar dan hampir terjatuh ke dasar sungai. Posisi kami tepat di jembatan.
"Chacaaaa ... Antony brengsek! Kamu akan mati di tanganku!" teriakku masih dihujani pukulan anak buahnya.
"Mas, tolong aku!" jeritnya ketakutan di tengah isakan tangisnya.
"Hahaha!" tawa Antony menggelegar.
Posisinya tergelantung di jembatan. Tangannya memegang erat tepi jalan jembatan itu. Jika kedua tangannya terlepas, ia akan terjatuh pada aliran sungai dan bebatuan di bawahnya.
__ADS_1
"Sayang, bertahanlah!" Aku benar-benar tidak kuat melihatnya.
"Mas, aku tidak kuat lagi! Tolong aku!" ucapnya mengerang kesakitan.
Tak lama kemudian, Andra datang bersama Mbak Amel. Andra kemudian menyerang Antony, terjadi pergulatan antara mereka. Mbak Amel berlari kemudian susah payah berusaha menarik Chaca kembali ke atas.
Aku yang sudah tersulut emosi membabi buta memukuli mereka semua. Tendangan, bogeman, pukulan kulayangkan pada mereka semua. Hingga aku bisa terlepas dari cengkraman mereka.
Aku segera berlari mendekati Chaca. "Mas, aku tidak kuat lagi," ujarnya gemetar.
"Jangan bicara seperti itu. Kamu bisa, Sayang. Ayo, kamu wanita hebat," ucapku meraih tangannya.
"Mas, aku takut." Tangisnya semakin pecah saat melihat ke bawah.
"Jangan lihat ke bawah! Lihat aku, Sayang. Percayalah, kamu pasti bisa. Mbak, hitungan ketiga kita angkat ke atas," tukasku mendapat anggukan dari Mbak Amel.
"Satu! Dua! Tiga!" Tenagaku yang sudah terkuras habis membuatku kesulitan menariknya. Tangannya semakin merosot, hampir saja terlepas dari peganganku. Aku segera menariknya dengan kedua tanganku, sedang Mbak Amel juga melakukan hal yang sama pada tangan kiri Chaca.
Aku terus mengulanginya, sampai pada akhirnya Chaca berhasil naik kembali ke jalan raya. Kami semua terjatuh, Mbak Amel terjengkang, sedangkan Chaca jatuh di pelukanku. Ia menindih tubuhku, dan menangis dalam dekapanku.
Polisi sudah datang, mereka segera meringkus Antony dan anak buahnya. Syukurlah, aku begitu lega. Andra juga tidak apa-apa.
Aku berusaha bangun mendudukkan diri, "Sayang, kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit?" ucapku menyibak rambut panjang itu yang menutupi wajahnya. Ia hanya menangis dan menggelengkan kepalanya.
Aku menangkup kedua pipinya. Luka di salah satu pipinya sudah mengering. Aku mendesah lega karena lukanya tidak terlalu dalam.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf!" ujarku berkali-kali menciumi seluruh wajahnya lalu kembali mendekapnya dalam pangkuanku.
Chaca masih menangis tersedu-sedu di pelukanku. Aku merasa gagal menjaganya. Aku terus membelai kepala dan punggungnya yang masih bergetar.
"Gan, kita ke rumah sakit dulu sekarang," saran Mbak Amel menepuk bahuku.
"Iya, Chaca harus segera diobati!" ucapku bangun menggendong tubuh Chaca dalam sekali gerakan. Meskipun gerakanku tertatih, namun melihatnya seolah hilang semua rasa sakitku.
"Bukan aku, tapi lukamu, Mas!" sahut Chaca lemah membelai pipiku menyentuh luka-lukaku.
"Aku tidak apa-apa, Sayang, jangan khawatir," balasku mengecup keningnya lalu berjalan ke arah mobil.
Bersambung~
Udah ya deg deg'annya 🤧
💣like dan comen banyakin💣
__ADS_1