
Bryan turun dari mobil dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Namun tidak bisa berbuat apa-apa. Mau marah? Memangnya siapa dia? Cemburu? Apa hak dia? Kesal? Tidak ada gunanya.
Ia segera mengambil mobil Dewi yang ternyata sudah selesai diperbaiki. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia segera mengendarai mobil tersebut menghampiri tuannya.
Bryan menunggu di parkiran, bersandar di mobil Dewi sambil mengusap kedua lengannya yang masih terasa ngilu. Dia sengaja tidak menghampiri wanita itu karena takut mengganggu pekerjaannya.
"Gila, Chaca kecil-kecil cabe rawit. Tapi aku Sayang. Kenapa harus jadi milik orang sih, Cha," gumam Bryan meratapi nasibnya.
Tak berselang lama, Dewi keluar bersama rekan-rekannya yang bekerja pada sift pagi. Ia berencana naik taksi. Pandangannya tidak lurus ke depan, melainkan berjalan sambil bersenda gurau dengan teman-temannya.
Bahkan Dewi sampai melewati Bryan begitu saja, saking asyiknya berbincang dengan teman-temannya. Bryan menajamkan kedua matanya.
"Hei! Kamu!" pekik Bryan menghentikan langkah beberapa gadis yang melaluinya.
Mereka saling pandang, sampai Dewi menyadarinya. Wanita itu lalu berpamitan pada teman-temannya. Karena ternyata mobilnya sudah selesai diperbaiki.
Dewi menghampiri mobilnya, mengusapnya lembut. Ternyata sudah mulus seperti sedia kala. Senyumnya mulai menguar, Dewi mendekati Bryan menjabat tangannya.
Karena kepuasannya, Dewi sampai meremas kuat telapak tangan Bryan dan melambungkan lengannya berulang. Sehingga membuat Bryan meringis kesakitan.
"Lho, kenapa, Mas? Apa aku menyakitimu?" tanya Dewi panik.
"Anterin aku pulang!" Tanpa menjawab, bryan menimpali dengan kalimat perintah.
Dewi bergegas masuk ke mobil. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang. Bryan bergeming, masih berdiri di tempatnya. Dewi membuka jendela mobil.
"Ayo, Mas. Keburu malem!" seru Dewi melongokkan kepala.
"Kamu yang nyetir," ujarnya dingin.
"Astaga. Ngomong dong dari tadi!" geram Dewi turun lagi dari mobil.
Tangannya mengulur menengadah pada Bryan, "Mana kuncinya," pintanya.
Bryan mengambilnya dengan tangan kiri. Sudah terpelintir, diremas plus di ayunin pula. Remuklah sudah.
"Noura Apartement." Bryan langsung menyebutkannya tanpa basa basi.
Dewi jadi geram sendiri karenanya. Ia terus menggerutu, karena pria itu tidak mengindahkan setiap pertanyaannya. Namun langsung menimpali dengan pembahasan lain.
'Ih, ada ya cowok kayak gini. Irit banget bicaranya, emang dia kira aku ini sopirnya apa!' gerutu Dewi dalam hati sambil menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, mereka saling diam. Hanya deru mesin mobil yang mendominasi. Dewi tidak mau membuka suara karena ia malas diabaikan. Bryan pun terus menatap ke luar jendela.
Namun lama kelamaan, Dewi tidak betah juga. Ia mencoba mencairkan suasana yang sunyi sedari tadi. Terbiasa ramah dan banyak bicara, membuat bibirnya gatal minta digerakkan.
"Mas, terima kasih ya. Maaf tadi pagi aku sempat emosi," ucap Dewi lembut masih fokus menyetir.
"Hemmm." Hanya deheman yang terdengar di telinga Dewi.
Ia menarik napas panjang, 'Sabar Dew, bukannya kamu terbiasa menghadapi segala jenis tamu?' ucapnya dalam hati.
"Sebagai ucapan terima kasih, aku traktir makan ya, Mas. Jaketnya aku cuci dulu ya," tawar Dewi.
Bryan tidak menjawab apapun, wanita itu menganggap diamnya sebagai jawaban 'iya' atas penawarannya tersebut. Dewi memberhentikan mobilnya tepat di depan restoran.
Keduanya turun bersamaan. Bryan melangkah masuk diikuti Dewi yang berusaha menyamakan langkahnya. Mereka duduk di kursi kosong. Lalu menyebutkan pesanan ketika pelayan menghampirinya.
"Kenalin, aku Dewi. Kita belum sempat kenalan tadi. Aku panggilnya Mas siapa?" tanya Dewi menyodorkan tangannya.
Bryan diam tidak membalas uluran tangan wanita itu. Ia menyembunyikan tangannya. Saat berusaha menaikkannya, ia merasakan berat pada lengan kanannya tersebut. Dia juga berpikir bagaimana caranya ia makan nanti.
Dewi tampak kecewa, ia menurunkan kembali tangannya. Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Tanpa sepatah kata pun Dewi segera melahap makanan di hadapannya.
'Kayaknya harus dipijat ini,' desah Bryan.
Dewi yang tidak sengaja melirik pria di hadapannya sedang menyuapkan makanan dengan tangan kiri, membuatnya buru-buru menghabiskan makanannya.
Setelahnya, Dewi mengambil alih piring Bryan. Ia segera menyuapi pria itu. Bryan tidak menolak, karena semakin lama memang nyerinya semakin terasa. Dia menerima sesuap demi sesuap dari tangan gadis itu.
"Terima kasih," ucap Bryan setelah makanannya habis tak bersisa.
Dewi tersenyum, "Ternyata bisa berterima kasih juga," sindirnya sambil menyesap minumannya. Bryan tidak menjawabnya lagi.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju apartemen Bryan. Suasana kembali sunyi. Hingga tak terasa, mobil telah sampai di pelataran apartemen Bryan. Pria itu bersiap untuk turun, namun suara Dewi menghentikannya.
"Kamu belum sebutin nama," ucapnya tersenyum manis.
"Bryan," sahutnya singkat tanpa menoleh.
Bryan bergegas turun dari mobil dan melangkah masuk. Dewi memperhatikannya hingga punggung pria itu menghilang dari pandangan.
"Oh, Bryan. Dingin tapi menarik," gumamnya sambil tersenyum lalu melajukan mobilnya menuju rumah.
__ADS_1
...----------------...
"Sayang, kita pulang ke rumah 'kan?" tanya Gandhi pada wanita di sampingnya.
"Mmm ... boleh deh, lagian Mommy sama Daddy sedang sibuk ngantor semua.
Gandhi tersenyum menyeringai, sudah pasti ia selalu ingin berdua dengan istrinya itu. Diperjalanan, Chaca antusias menceritakan kegiatannya selama di kampus. Tak terkecuali tentang temannya, Andin.
"Sayang, kalau kamu mau hang out sama temen-temen, boleh kok. Aku nggak akan ngelarang. Asalkan tahu batasan dan izin aku dulu tentunya," tukas Gandhi memalingkan muka pada istrinya.
Chaca menoleh, ia menyentuh sebelah pipi suaminya. "Sayang, aku tidak membutuhkannya. Pengalamanku dulu, mereka cuma mendekat saat senang aja. Pas lagi terpuruk, nggak ada yang mau bantu. Jangankan bantu, melirik aja enggan. Dan aku nggak mau jatuh ke lubang yang sama. Kamu mau aku salah pergaulan lagi kayak dulu?" tuturnya membuat Gandhi menggeleng cepat.
Teringat penampilan Chaca saat pertama kali bertemu ditambah dalam keadaan mabuk pula, membuatnya bergidik ngeri. Dia tidak mau istrinya kembali ke jalan yang salah.
"Carilah teman yang baik dan tulus, Sayang. Yang menerima kamu apa adanya. Aku hanya tidak ingin setelah menikah, kamu jadi merasa terkekang," ujar Gandhi mengusap kepala Chaca lembut.
"Iya, Sayang. Andin sepertinya baik. Dia pekerja keras dan tulus. Anaknya juga nggak neko-neko," balas Chaca. Gandhi membalas dengan anggukan dan seulas senyum.
Sebelum sampai di rumah, mereka melalui sebuah taman. Chaca meminta untuk berhenti di sana sejenak. Banyak sekali pedagang kaki lima yang menjual aneka makanan. Seperti cilok, batagor, siomay dan masih banyak lainnya.
Mata Chaca berbinar melihat aneka makanan itu. Gandhi menepikan mobilnya. Mereka berjalan beriringan saling menautkan jemari. Chaca hampir membeli semua makanan yang ditawarkan penjual di sepanjang trotoar itu.
Selain karena ia yang suka kuliner, Chaca juga merasa iba. Apalagi banyak diantara penjual tersebut yang sudah lanjut usia. Tak jarang ia melebihi uang untuk penjual-penjual tersebut. Gandhi selalu sigap membawakan setiap kantong yang berisi jajan itu.
"Sayang, kita duduk di sana ya," seru Chaca menunjuk kursi panjang yang ada di bawah pohon rindang.
Gandhi mengikuti langkah Chaca yang begitu bersemangat. Ia segera membuka satu persatu perburuannya tersebut dan mulai memakannya. Mungkin karena belum makan siang juga, jadi perutnya mampu menampung banyak makanan.
"Sayang, mau?" tawar Chaca menyuapkan satu potong putu bumbung. Makanan tradisional yang terbuat dari tepung beras berisi gula merah dan bertabur parutan kelapa itu begitu menggugah selera. Apalagi jika menikmatinya selagi hangat.
Chaca menyuapkan setiap makanan itu pada suaminya bergantian dengannya. Sehingga keduanya merasa kenyang.
"Eh itu kaya Reyhan, Mas," tukas Chaca menunjuk anak laki-laki yang sedang berlarian di taman.
"Sepertinya iya, Sayang," sahut Gandhi setelah meneguk air mineral di botol.
"Reyhan! Sini, Nak!" pekik Chaca memanggil anak itu.
Mata Reyhan berbinar ketika pandangannya menatap pasangan suami istri itu. Lebih tepatnya karena melihat Gandhi. Anak itu berlari dengan gerakan lucu, menghampiri mereka berdua.
Bersambung~
__ADS_1