
"Terima kasih, sampai belanja kembali," ucap seorang petugas kasir di sebuah mini market.
Ayu mengulas senyum, mengambil belanjaan lalu berjalan tertatih keluar. Saat sedang menunggu angkutan di tepi jalan, tiba-tiba Lukman berhenti di depannya.
"Ketemu lagi nih, sama induk ayam," goda Lukman setelah membuka kaca helmnya.
"Kamu! Buntutin saya?" seru Ayu memerah menahan amarah.
Ayu berjalan menyusuri trotoar, Lukman terus mengikutinya melajukan motornya sangat pelan. Ayu jadi geram sendiri karenanya.
"Eh tunggu!" pekik Lukman.
"Ngapain sih ngikutin terus?" geram Ayu menghentakkan kaki kanannya.
"Ye, siapa yang ngikutin. Noh, aku dari bengkel seberang jalan. Kebetulan lihat kamu, ayo aku antar lagi," tawar Lukman.
Ayu mengabaikannya, ia lalu menghentikan angkutan yang hendak melaluinya. Tanpa menghiraukan keberadaan pria itu. Lukman mendengus namun juga tertawa.
Sepanjang jalan Ayu terus menggerutu, "Emang nggak ada yang lebih cantik lagi apa selain induk ayam. Ngeselin!" Ayu bersungut kesal.
Sesampainya di rumah, Baby El dan Nenek sudah berdiri menunggunya di teras. Melihat tawa bayinya membuat kejengkelan Ayu luntur seketika.
"Anak Mama, pinter banget sekarang. Maaf ya Nak, Mama belum bisa gendong kamu," tukas Ayu mencium kening sang bayi.
"Sana buatin dulu, nanti keburu laper. Stok ASI kamu sudah habis, Nak," ucap Nenek July.
Ayu mengangguk lalu segera masuk dan menyeduhkan susu untuk Baby El. Nenek July turut melangkah masuk, menidurkan Baby El di ranjang kamar Ayu.
__ADS_1
Bayi itu terus tertawa menggerakkan tangan dan kakinya lucu. Nenek July dibuat gemas olehnya. Kehidupannya penuh warna setelah kehadiran malaikat kecil itu.
Setelah bertahun-tahun lamanya hidup dalam kesunyian dan kesendirian. Waktunya hanya digunakan bekerja dan bekerja. Entah apa pun itu, nenek selalu mencari kesibukan untuk menghalau rasa sepinya.
"Nek, Ayu beli lauk matang aja ya. Tadi Ayu sudah masak nasi," ucap Ayu menghampiri bayi dan neneknya.
"Nggak usah, kamu istirahat aja sini sama Baby El. Biar nenek yang masak," elak Nenek July beranjak dari duduknya.
"Maaf ya Nek," sesal Ayu menyendu.
"Sekali-kali nenek yang masak. Selama ini 'kan kamu udah masakin nenek tiap hari," tukasnya menarik gagang pintu lalu melenggang.
Ayu bermain bersama Baby El yang selalu membawa keceriaan untuknya. Rasa lelah dan sakitnya terhapus seketika saat melihat bayi mungil itu. Baby El adalah anugerah untuknya, di balik semua masalah yang menimpanya.
...----------------...
Gandhi dan Chaca terpaku mendengar pertanyaan Reyhan, keduanya bingung menjawab.
Reyhan ber-oh ria mendengarnya. Chaca menunduk, menyembunyikan air mata yang terus mengalir. Mereka melanjutkan jalan lalu masuk ke mobil.
Reyhan duduk di jok belakang. Gandhi terus menggenggam jemari Chaca sembari melajukan mobilnya perlahan. Gandhi menggelengkan kepala ketika Chaca menatapnya. Mengisyaratkan agar ia tidak menunjukkan kesedihannya.
"Rey sayang, kita makan dulu ya, Nak," tawar Chaca menghadap ke belakang.
Reyhan menganggukkan kepala dengan senyum khasnya. Chaca kembali menatap ke depan. Gandhi melajukan mobil menuju kafenya.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di kafe. Reyhan berbinar karena melihat banyak permainan di sana.
__ADS_1
"Saatnya turun jagoan," ujar Gandhi mengendong Rey di punggungnya.
"Sayang, aku siapin makannya dulu," tandas Chaca masuk ke kafe.
Pria itu mengangguk lalu berlari mengajak Rey main-main hingga tertawa terbahak-bahak. Ia lalu menurunkannya di area permainan. Dengan semangat, Rey meniti tangga untuk bermain perosotan.
Gandhi duduk di kursi tunggu memperhatikannya. Tawa anak itu begitu nyata tidak ada kepura-puraan di wajahnya. Rasanya tidak tega jika senyum dan tawa itu lenyap saat ia tahu kabar tentang mamanya.
Tak berapa lama, Chaca keluar menghampiri keduanya. Ia mengalungkan lengan pada leher suaminya.
"Yuk makan dulu, Sayang," ajak Chaca.
Gandhi lalu memanggil Reyhan mengajaknya makan. Setelah ketiganya duduk di tempat yang disiapkan, Chaca dengan sabar menyuapinya.
"Makan yang banyak ya biar cepet besar. Oiya Rey, mulai sekarang panggil tante, mommy ya. Jadi Reyhan punya dua mama," tutur Chaca sembari menyuapkan makanan pada Reyhan.
"Mommy?" tandas Rey setelah menelan makanannya.
Chaca mengangguk, mengusap sisa makanan di ujung bibir Reyhan. "Mommy Chaca, okay sayang?" ucap Chaca dengan seulas senyum.
Rey lalu memeluk Chaca, "Makasih Mommy," tandasnya.
"Bayi gedenya juga mau disuapin sama dipeluk, Mommy," goda Gandhi memeluk keduanya.
Chaca terkekeh, Rey pun ikut tertawa meskipun dia tidak mengerti ucapan papanya. Mereka lalu melanjutkan makannya.
"Sayang, Mommy sama Daddy mau nerima Rey nggak ya?" tanya Chaca khawatir.
__ADS_1
Gandhi berdiam sejenak, ia lalu mengangguk. "Jangan khawatir, Sayang. Nanti aku yang bicara," tandas Gandhi setelah meneguk minumannya.
Bersambung~