Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Mendebarkan


__ADS_3

Ternyata benar feelingku. Bryan menyukai Chaca bahkan mencintainya. Aku mengatur napas agar tidak emosi. Yang penting Chaca hanya mencintaiku, dia milikku.


"Bry, kamu ke mana aja selama ini? Tiba-tiba datang dan bilang cinta. Sudahlah, aku nggak mau berdebat lagi. Aku udah nemuin orang yang aku cintai dan juga mencintaiku," ucap Chaca dengan pandangan lurus ke depan.


"Aku sedang memantaskan diri, aku pikir karena usiamu masih belia sehingga aku yakin kamu masih sendiri. Apa kamu bahagia Cha?" tanya Bryan menatap Chaca.


"Tentu saja aku sangat bahagia dengan Om Gandhi. Dia pria dewasa, penyayang, satu-satunya pria yang bisa membuatku jatuh hati. Perjuangan cinta kami tidaklah mudah Bry untuk sampai pada titik ini."


Chaca menghela napas sejenak. "Kami sudah merasakan pahit manisnya perjalanan cinta kami. Aku tidak akan sekuat ini tanpanya. Aku juga belum tentu masih berdiri di sini tanpa bersandar padanya." Ihir, ucapan Chaca membuatku berdesir.


Aku melangkah mendekati mereka berusaha tidak menimbulkan suara. Namun tanpa sengaja kakiku menginjak ranting pohon yang sudah kering. Suara itu membuat mereka menoleh.


"Om!" pekik Chaca terkejut.


"Sejak kapan kamu di situ?" imbuhnya lalu berdiri.


Bryan turut berdiri, dia menepuk bahuku dan berbisik di telingaku. "Jaga Chaca baik-baik. Jangan sampai kamu membuatnya terluka. Aku orang pertama yang akan menghajarmu jika sampai itu terjadi! Dan aku tidak akan segan-segan merebutnya dari tanganmu!" tegasnya berlalu meninggalkan aku dan Chaca.


Aku terpaku mendengarnya. Kupikir, dia bakal kekeh untuk memiliki Chaca. Tapi ternyata aku salah. Dia berbesar hati menerima kenyataan dan merelakan Chaca.


Author: Tentu saja Mas Gandhi, kalau beneran cinta ya pastinya rela menderita asal orang yang dicintainya bahagia. Beda lagi dengan obsesi. Pasti mati-matian sampe guling-guling juga bakal direbut😌


"Hmmm ... bagus ya ngomongin aku di depan mata kepalaku sendiri," candaku melipat kedua lenganku.


Chaca tersadar dari lamunan. "Eh, yaudah Om menghadap ke sana," ucapnya memutar tubuhku membelakanginya.


"Bryan ayo kita ngomongin Om Gandhi lagi!" selorohnya membuatku mengerutkan kening.


"What?" seruku.


"Katanya enggak mau diomongin di depan. Yaudah aku mau ngomongin di belakang kamu Om," celetuknya.


Aku memutar tubuhku menghadapnya. Tanpa berkata-kata aku memeluknya erat.


"Makasih Sayang, aku sangat mencintaimu. Terima kasih karena terus bertahan denganku," ucapku.


"Kamu ngomong apa Om? Aku juga sangat mencintaimu, tentu saja aku selalu bertahan di sisimu," sahutnya.


***


Tiga hari kemudian, hari yang kami tunggu-tunggu telah datang. Kini Chaca sedang dirias di kamarnya. Aku, mondar-mandir di kamarku sendiri. Gugup, satu kata itu cukup mewakili perasaanku saat ini.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah siap?" Mama membuka pintu kamar dan berjalan mendekatiku.


"Ma, Gandhi ... Gandhi," ucapku terbata-bata. Keringat sudah membasahi seluruh wajahku sedari tadi.


Mama mengambil tissu yang ada di meja, kemudian menyekanya perlahan. Tangannya yang sudah menampakkan keriput itu membelai lembut pipiku.


"Kenapa kamu sangat gugup seperti ini? Bukannya sudah pernah?" godanya sambil tertawa.


Aku hendak melepas jas putih yang sudah melekat pada tubuhku sedari tadi, tapi kuurungkan. Jadi hanya kubuka kancingnya, karena merasa sesak. Padahal ukurannya pas di tubuhku. Mungkin saking gugupnya.


"Kali ini beda, Ma. Kalau dulu aku menikah hanya karena status dan hanya tertarik saja. Kita bahkan hanya mengenal sekejap. Sekarang, aku akan menikah dengan gadis yang sangat aku cintai. Jantungku berdegub tidak karuan, Ma. Rasanya inginku sulap semua orang agar jadi patung," ucapku mengusap wajahku kasar.


Mama hanya tertawa mendengarnya, kemudian mengambilkan segelas air dan menyodorkannya padaku.


"Minum dulu, ambil napas panjang buang perlahan. Ulangi terus sampai kamu lebih tenang. Jangan panik, nanti kamu bisa salah baca lagi," tukasnya menepuk bahuku.


"Ahh Mama, jangan bikin Gandhi takut dong." Aku mengambil gelas yang ada di tangan Mama lalu meneguknya hingga tandas dalam sekali minum.


Aku melakukan saran Mama, beliau pamit mau melihat Chaca. Aku juga mau lihat, tapi enggak diizinkan Mama. Pamali katanya. Beliau berpesan untuk bersiap-siap ke bawah.


Berkali-kali aku menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Namun tetap saja gundah gulana melanda. Aku hendak turun ke bawah, tempat di mana aku akan mengucap ikrar menghalalkan ikatan cintaku dengan Chaca.


Sial! Jasku kotor! Ini semakin membuatku panik.


"Astaga Gan ada apa?" tanya Papa yang kebetulan hendak melaluiku.


"Paaa," rengekku menunduk melihat noda pada jas putihku.


"Aduh? gimana nih Pa?" tanyaku mencoba membersihkan nodanya.


Pelayan itu ketakutan melihatku. Sepenuhnya bukan salahnya, aku juga salah karena nggak fokus.


"Aduh, penghulunya udah datang Gan, Papa tadinya mau memanggil kamu. Yaudah sana ganti baju. Tunggu apa lagi?" seru Papa membuatku semakin panik.


Aku segera berlari ke kamar dan berganti pakaian. Karena pesan jas putihnya cuma satu, aku obrak abrik seisi lemari mencari pakaian yang cocok.


"Gandi, udah belum Nak? Buruan udah ditungguin!" pekik Papa dari luar kamar.


Astaga keringatku semakin mengucur dengan deras. Jantungku juga semakin tidak bisa kukendalikan. Tanganku bahkan gemetar saat memilih pakaian.


Sampai pada akhirnya, aku menemukan pakaian semi formal berwarna putih dengan kaos dalam berwarna maroon. Buru-buru aku menggantinya dan bergegas turun.

__ADS_1



"Sayang, cepetan pak penghulu sudah nungguin," teriak Mama dan Papa mengetuk pintu.


Pintu terbuka, Mama terkejut dengan pakaianku. Aku menjelaskan kronologinya, beliau hanya geleng-geleng kepala.


"Yasudah, yang penting pakai baju. Ayo turun!" ucapnya menggandeng tanganku.


"Astaga Pa, tangan Gandhi dingin banget," tutur Mama mengadu sama Papa. Kami bertiga berjalan beriringan.


Papa menepuk bahuku, membuatku terlonjak kaget. "Jangan tegang, tegangnya nanti malam aja," celetuk Papa mendapatkan cubitan dari Mama.


"Aw! sakit Ma," pekik Papa. Mama melayangkan tatapan tajam, memperingatkan jika ini bukan waktunya bercanda.


Astaga Papa, bisa-bisanya ngelawak dalam kondisi seperti ini. Untuk tersenyum saja bibirku serasa kaku. Tenang dong Gandhi, tenang. Yakinlah semua akan berjalan lancar.


Aku terus mensugesti diriku sendiri. Ini kenapa merasa perjalanan dari kamar ke bawah begitu lama ya? Sesampainya di lokasi, aku didudukkan Mama di hadapan penghulu.


"Baik, karena pengantin pria sudah datang, bisakah kita mulai acara ijab qabulnya?" tukas pria paruh baya yang akan menikahkanku.


"Bisa!" jawaban serempak terngiang di telingaku.


Pak Penghulu mulai menyodorkan tangannya di atas meja, aku menyambutnya. Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini.


"Saudara Gandhi Bagaskara."


"I-iya!" ucapku gugup memotongnya.


"Jangan dipotong, ini kan pernikahan kedua kalinya. Kenapa masih segugup ini? Rasanya saya sedang memegang sebongkah es," tutur Pak Penghulu.


Aku tersenyum kecut, tidak menanggapinya. Hanya terus berusaha menenangkan diriku. Aku terus mengatur napas dan berkonsentrasi.


"Oke, saya ulangi ya. Mohon Saudara konsentrasi," ucapnya. Aku menganggukkan kepala, menjabat tangan dengan mantap dan memfokuskan seluruh pikiranku.


"Bismillahirrahmanirrahiim, saya nikahkan engkau Saudara Gandhi Bagaskara bin Alexander Abraham dengan Ananda Chatrine Salsabila binti Ismail dengan mas kawin uang senilai 20 juta 20 ribu rupiah dan sepasang kambing dibayar tunai," tegas Pak Penghulu.


Bersambung~


👉 Thor ngapa mas kawin ada sepasang kambingnya?


\=> Ini fakta sih terinspirasi dari sahabatku 😎 katanya sih biar bisa berkembang biak turun temurun terus dijual.🤑

__ADS_1


__ADS_2