Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Fitting Baju


__ADS_3

Aku terkejut ketika mendengar Andra menyebut nama Antony. Dia adalah teman satu angkatan denganku. Sejak awal Antony tidak pernah menyukaiku. Ditambah dengan promosi kenaikan jabatan yang kuraih, membuatnya semakin jengkel.


Aku mengusap wajahku kasar. Pikiranku meremang kemana-mana. Bukan bermaksud netthink tapi, Antony pasti mencari celah untuk menjatuhkanku.


"Astaga Ndra," keluhku mengacak rambut.


"So-sorry Gan," ucap Andra menunduk.


Aku mendesah pelan, khawatir jika sesuatu yang buruk akan menimpa diriku. Seenggaknya namaku tidak boleh kotor meskipun akhirnya kemungkinan terburuk aku harus resign.


"Kita hadapi bersama Ndra," ujarku menepuk bahunya. Andra merasa tidak enak hati.


"Besok aku berangkat," imbuhku lagi.


Andra mengangkat kepalanya lalu bertanya, "Gimana dengan pernikahanmu?"


"Gimana apanya? Ya tetep nikah lah," ujarku santai mencoba untuk tenang meskipun dalam hati menggerayang.


Aku dan Andra mengatur strategi untuk menyerang balik Antony. Mungkin harus diberi sedikit pelajaran. Oleh karenanya mau tidak mau aku harus berangkat sendiri untuk mencari bukti-bukti.


"Serius amat sih, Om. Bahas apaan?" ujar Chaca menepuk bahuku. Chaca mendudukkan dirinya di sampingku.


"Enggak Sayang, udah selesai?" tanyaku membelai rambutnya.


Chaca mengangguk, lalu Mbak Amel dan Andra berpamitan lebih dulu. Mereka mau meninjau lokasi untuk resepsi. Aku dan Chaca berencana untuk fitting baju yang sudah lama pula kupesan.


"Kita mau ke mana Om?" tanya Chaca saat aku sudah melajukan mobil membelah padatnya jalan raya.


"Om ini bukan jalan pulang, mau ke mana sih?"


Aku yang masih fokus menyetir dan memikirkan hotel tidak begitu memperhatikannya. Perjalanan kami menjadi sunyi. Chaca tak lagi berucap. Hingga kami telah sampai di sebuah butik.


"Ayo Sayang," ujarku melepas seatbelt.


"Kenapa Sayang, kok cemberut gitu?" Aku memalingkan tubuh menghadapnya sembari mengusap puncak kepalanya.


"Abisnya diajakin ngomong dari tadi diam aja, ngeselin!" sahutnya jengkel sambil menyilangkan tangan di dada.


Aku menghela napas panjang. "Maaf Sayangku, tadi lagi nggak fokus. Gimana, mau tanya apa? Aku dengerin baik-baik nih," celetukku masih menghadapnya dan memegang kedua tangannya.


"Udah basi!" selorohnya menyebikkan bibir dan menoleh ke jendela. Kuraih dagunya lalu mengecup bibir ranumnya sekilas, membuat kedua pipinya merona.


"Astaga Sayang, udah ah jangan ngambek," rengekku mengusap pipinya lembut.


"Makanya kalau orang ngomong itu didengerin, dijawab!" serunya dengan ketus.


"Iya Sayang."

__ADS_1


"Aku enggak suka ya dicuekin!" cerocosnya lagi.


"Iya iya."


"Jangan diulangi lagi!"


Jawabanku masih sama, iya. Aku enggak mau aja bertambah panjang. Sekarang Chaca jadi sensitif banget. Biasanya sikapnya cuma bisa diluluhkan oleh Bunda.


Bunda, Gandhi sangat merindukan Bunda.


"Tuh kan melamun lagi! Cuekin aja terus!" gerutunya mendorong tubuhku.


Aku segera tersadar, lalu meraih tangannya. "Sayang, udahan ya. Kita masih harus banyak persiapan. Jangan berantem hanya karena hal-hal sepele. Kita sekarang mau fitting kebaya kamu yang udah lama kupesan. Mumpung masih ada waktu buat benahin kalau belum pas. Oke Sayang, udah ya. Yuk turun!"


Aku merengkuh wajahnya, kucium kedua pipi dan bibirnya sekilas. Aku gemas mendengar cerocosnya yang enggak ada jedanya. Bagiku hanya menambah kadar kecantikannya saja.


Tanpa mendengar protesan ataupun cerocosnya lagi aku segera turun dari mobil. Lalu membukakan pintu untuk Chaca, dia masih terpaku. Hingga sentuhan tanganku membuyarkannya. Setelah turun, kutautkan jemarinya menggiring masuk ke butik.


"Butik Vera," gumam Chaca pelan namun masih bisa kudengar.


"Iya, rekomendasi dari Mbak Amel. Aku mana tahu hal ginian Sayang," sahutku membuka pintu.


Baru beberapa langkah masuk, kami dihampiri para karyawan. Aku suka butik ini karena orangnya ramah-ramah.


"Selamat datang Mas, Mbak, ada yang bisa kami bantu?" ucap salah satu gadis berambut pendek.


"Eh, Mas Gandhi. Ini calon istrinya ya. Wah cantik sekali, masih seger pula. Pinter amat Mas milihnya," seloroh Vera pemilik butik ini.


"Iya Mbak, ini Chaca calon istri saya," sahutku memperkenalkan.


"Vera," ucapnya menyodorkan tangan.


"Chaca Mbak," sahutnya tersenyum menjabat tangan Vera.


Kemudian Vera mempersilahkan kami masuk. Kebaya pesananku sudah jadi tinggal ngepasin aja jika ada yang kurang. Ia mengajak Chaca mencoba kebaya yang akan dikenakan akad minggu depan.


Aku menunggunya di sofa yang disediakan sembari memainkan ponsel. Bukan main sih tepatnya memantau kerjaan. Hampir 30 menit menunggu, saat hendak beranjak mataku menatap seorang bidadari.


Ah bukan dia Chaca, ya ampun terlihat anggun sekali. Mataku tidak berkedip memandangnya. Sampai tangan Chaca melambai-lambai di depanku.



"Om, gimana?" tanya Chaca menggigit bibir bawahnya. Pandangannya merunduk, ia terlihat tidak percaya diri.


"Cantik banget Sayang, aku jadi pengen ijab sekarang," celetukku ditertawakan Vera.


"Sabar sabar bentar lagi Mas, sekarang giliran kamu nih. Ayo coba dulu," ucap Vera membawa sepasang jas berwarna putih.

__ADS_1


Tak berselang lama, aku keluar dengan setelan jas berwarna putih yang senada dengan kebaya Chaca. Chaca melihat-lihat gaun yang terpasang pada patung di sepanjang ruangan.



"Cha, sini!" panggilku saat sudah berdiri di depan pintu ruang ganti.


Kuletakkan kedua tangan di saku celana. Bergaya sok cool gitu. Kulirik Chaca bergeming, pasti dia terpesona nih.


"Gantengnya calon suami aku," celetuk Chaca melangkah mendekat.


"Baru sadar Sayang? Selama ini ke mana aja?" candaku, dia hanya meringis saja.


"Duh kalian keliatan gemesin banget sih, serasi banget," ucap Vera menatap kami.


Aku dan Chaca saling menatap, tangannya melingkar di lenganku. Kami sama-sama tersihir dengan pesona masing-masing.


"Ayo!" ajakku membuat Chaca mengerutkan kening.


"Ke mana Om?" tanyanya bingung.


"KUA sekarang juga. Kelamaan nunggu minggu depan," ujarku mendapat cubitan di pinggang.


Aku mengaduh kesakitan. Vera sudah memastikan jika pakaian kami sudah benar-benar pas. Setelah berganti pakaian kembali, aku menyelesaikan pembayarannya dan bergegas pulang.


"Sayang, kita belum bilang sama Mama Papa. Kita bikin double surprise malam ini," ucapku seraya menyalakan mesin mobil.


"Kok double Om?" tanyanya bingung.


"Iya dong Sayang, pertama Mama sama Papa belum tahu kalau kamu udah bisa jalan. Kedua hari pernikahan kita," sahutku fokus menyetir.


Chaca hanya ber-oh ria. Tidak begitu antusias menanggapinya. Sejak dia tahu bahwa Chaca bukan anak kandung Mama dan Papa, dia menjadi sungkan.


Tak berselang lama, kami sudah sampai di rumah. Hari sudah malam, biasanya kedua orang tuaku sudah stay di rumah. Karena beliau sudah berkomitmen untuk menyisihkan waktu family time.


Aku menekan bel beberapa kali. Hingga terdengar suara kunci diputar dan pintu terbuka. Aku pikir Bi Ratih, ternyata Mama sendiri yang buka.


"Malam, Ma," sapaku mencium punggung tangannya.


Mama langsung mencium kedua pipiku seraya membalas, "Malam juga Sayang, udah pulang?" Aku mengangguk mengiyakan.


"Papa udah pulang Ma? Aku punya dua kejutan malam ini," tuturku membuat Mama penasaran.


Aku menggeser tubuhku memperlihatkan Chaca yang sedari tadi bersembunyi di balik punggungku. Mama membelalakkan mata dan menutup mulutnya terkejut. Bahkan hingga air matanya menetes.


"Sayang, ka-kamu udah bisa jalan lagi?" seru Mama merengkuh tubuh Chaca dalam pelukannya. Beliau menangis haru, Chaca mengusap-usap punggung Mama yang terus bergetar karena isakannya.


"Iya Mom, terima kasih ya Mom. Selama ini sabar merawat Chaca. Maafin Chaca yang selalu merepotkan Mommy," tutur Chaca yang ikut menangis di pelukan Mama.

__ADS_1


"Siapa Mom? Kok nggak masuk-masuk sih?" ucap seseorang bersuara barinton dari dalam rumah.


Bersambung~


__ADS_2