
"Jaga bicara Papa! Biar bagaimanapun Chaca tetap putri kita!" kata Alice menatap suaminya tajam.
Pria paruh baya itu berdecak lalu beranjak dari duduknya, melenggang pergi. Bahkan makanannya belum tersentuh sedikitpun.
Alice terduduk lemas, ia meraih ponsel dan mencoba menghubungi Chaca. Sesekali menyeka air matanya.
"Yaampun Chaca, kamu di mana, Nak?" ucapnya frustasi mengacak rambutnya.
Denting jam di dinding mengingatkan wanita itu segera berangkat ke kantor. Ia bergegas meninggalkan meja makan dengan makanan yang masih utuh di atas piring.
Sementara Bi Ratih sudah menangis tanpa suara sedari tadi. Ia khawatir dengan keadaan nona kecilnya itu. Langkah Alice terhenti, memutar tubuhnya dan mengatakan, "Kabari saya kalau Chaca pulang, Bi." Ia kembali melanjutkan langkah setelah dibalas anggukan oleh Bi Ratih.
****
Sementara itu, Chaca tengah menikmati sarapan bersama anak-anak panti. Menu sederhana itu membuatnya ingin menangis.
Bagaimana tidak? Ia setiap hari bahkan selalu menyia-nyiakan makanan dengan lauk pauk sempurna. Namun, hatinya teriris melihat anak-anak begitu menikmati makanan mereka, yang hanya dengan lauk sederhana. Beberapa sayuran hasil dari kebun yang direbus dan disiram pakai sambal kacang, ditambah tempe goreng. Tidak ada gurat kesedihan di wajah mereka.
"Cha, nasinya nggak akan habis kalau kamu diemin gitu terus," ujar Gandhi mengagetkan Chaca.
Gadis itu tersentak, membuang muka untuk menyeka air matanya yang tak sengaja jatuh. Lalu melebarkan senyumannya. "Hehehe, liat adik-adik lahap banget makannya, Om," jawabnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu nggak suka ya?" tanya Bunda khawatir gadis itu tidak pernah makan sesederhana ini.
"Ck! Nyusahin," gerutu Santi pelan namun masih tertangkap telinga Chaca. Namun tetap diabaikan olehnya.
Buru-buru Chaca menyuapkan makanan ke mulutnya. Berhenti sejenak menyesuaikan rasa di lidahnya.
"Mmm ... ini enak banget, Bun. Apalagi bumbu kacangnya. Mantap!" seru Chaca mengangkat dua ibu jarinya pada sang Bunda.
"Syukurlah kalau suka. Ayo abisin. Kalau perlu tambah lagi," ucap Bunda penuh kelegaan.
Usai sarapan, Gandhi bergegas berangkat bekerja. Seperti biasa, ia harus berjalan keluar gang untuk menunggu mini bus.
"Om, gue anter aja," tawar Chaca mengejarnya di halaman.
"Enggak, masih libur semesteran. Gue mau di sini aja. Di sini gue nemuin keluarga," balas Chaca lirih.
"Yaudah. Kalau mau keluar pamit sama Bunda. Sini ponselmu," pinta Gandhi menodongkan tangan.
Tanpa banyak tanya Chaca meraih ponselnya dan menyerahkan pada Gandhi. Pria itu mengetikkan nomornya, lalu melakukan missedcall pada hpnya sendiri.
Chaca punya 2 ponsel, satu khusus keluarganya yang memang sengaja ia matikan. Satu lagi khusus teman-temannya yang mana nomor itu sama sekali tidak diketahui orang tuanya.
__ADS_1
"Udah. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku. Jangan nakal ya. Berangkat dulu," ucap Gandhi lembut meletakkan kembali ponsel Chaca di tangannya.
Chaca terpana, tak berkedip dengan perlakuan itu. Bahkan rasanya, bumi yang ia pijaki berhenti berputar. Dan hanya ada dia dan Gandhi.
"Chaca!" Bunda menyentuh bahu Chaca hingga membuat gadis itu terjingkat, refleks menyentuh dadanya. Lamunannya pun buyar seketika. Pandangannya mencari-cari pria tampan yang singgah di hatinya. Ternyata sudah menghilang.
"Nyariin Gandhi?" Bunda turut melongokkan kepala searah dengan Chaca. Dan tebakannya benar. Chaca menggaruk kepalanya, ia hanya menyengir saja karena malu ketahuan sang bunda.
"Udah ayo ikut Bunda. Dari pada ngelamun terus. Takut kesambet," ajak Bunda menarik lengannya.
"Kemana, Bun?"
"Pasar. Panen sayurnya tadi pagi banyak banget. Jadi kita jual aja mumpung masih seger," jelas sang bunda.
Chaca pun bersemangat. Seharian ia habiskan waktu dengan membuntuti Bunda, menjadi bodyguardnya sampai mencuri perhatian semua pedagang langganan bunda.
Namun bunda selalu menggandengnya, ia paham ini pertama kalinya gadis itu ke pasar. Bunda juga membelikan beberapa piyama berlengan panjang.
"Nanti sampai rumah pakai baju ini ya. Maaf bukan barang mahal seperti yang dipakai Chaca," pinta Bunda menyerahkan kantong plastik berwarna hitam.
Chaca mengerutkan dahinya. Ia ragu menerimanya. Antara mau atau tidak. Takut membuat bunda kecewa, gadis itu pun menerimanya sembari melebarkan senyuman.
__ADS_1
Di rumah, ia segera mandi dan berganti pakaian. Bunda tersenyum melihatnya. Chaca lalu membantu bunda dalam setiap kegiatannya. Menyiram tanaman, bunga, belajar memasak, bahkan tak khawatir dengan kuku-kuku cantiknya.
Bersambung~