Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Mengabaikanmu


__ADS_3

Astaga, aku tuh paling enggak bisa liat kamu nangis Cha!


Aku mengabaikannya, melenggang ke kamar mandi tanpa melihatnya. Aku berdiri di balik pintu, mengatur deru napasku yang tidak beraturan.


"Om, apa salahku?" Suara serak Chaca sambil menggedor pintu kamar mandi.


Kunyalakan shower kamar mandi, agar tidak mendengar isakan Chaca. Tetesan air mulai mengaliri puncak kepalaku, terus membasahi seluruh tubuh dan mendinginkan hatiku.


Hingga setengah jam berlalu, aku telah selesai mandi. Emosi dan hawa tak mengenakkan seolah turut menghilang.


Aku terkejut ketika membuka pintu. Chaca terjengkang karena duduk bersandar pada pintu. Aku menopangnya agar tidak terjatuh. Kami saling menatap, begitu lama hingga aku tersadar.


"Kenapa masih di sini?" ucapku membangunkan tubuh kami.


"Aku balik kalau kamu udah enggak marah lagi. Maaf. Ya meskipun aku enggak tahu salahku di mana. Tapi aku minta maaf kalau secara tidak sengaja nyakitin kamu Om," tuturnya sendu.


Aku menghela napas dan menghembuskannya kasar. Lalu berjalan menuju almari untuk mengambil pakaian. Saat ini aku hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit di pinggang hingga lututku.


Ketika aku telah mengambil pakaian, aku berpura-pura melepas handuk di depan Chaca.


"Om! Mau ngapain?" pekiknya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Aku berbalik menahan senyum namun sejurus kemudian kembali memasang wajah cuekku. Aku mulai melangkah mendekatinya, berbisik di telinga Chaca, "Mau ganti baju, kamu pengen banget liat ya. Sampai nungguin di sini dari tadi," godaku menahan lengan kananku di tembok sedang tangan kiriku bersiap membuka handuk.


"A-apa? Ja-jangan! Aku mau keluar Om," ucapnya gugup mendorongku.


Wajahnya merona, kedua pipinya memerah. Chaca kemudian berlari keluar kamar dan menutup pintu dengan keras.


"Haha, Chaca Chaca. Padahal aku pakai boxer. Kenapa lucu banget sih kamu," gumamku tertawa terbahak-bahak sembari berganti pakaian.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali aku bersiap untuk bekerja. Suasana rumah masih sepi. Saat aku menuruni tangga, melihat Mama sedang membantu Bibi menyiapkan sarapan. Aku setengah berlari menghampiri beliau.


"Pagi Ma," sapaku mencium kedua pipinya.


"Sayang, kok pagi banget udah rapi?" tanya Mama menghentikan aktivitasnya.


"Iya Ma, ada urusan pekerjaan. Oiya Ma, jangan lupa nanti malam ya. Sepertinya Gandhi pulang terlambat. Tolong ya Ma," pintaku melihat jam yang melingkar di lenganku.


"Iya Sayang, beres. Serahin semua sama Mama. Mama hari ini enggak ngantor kok," sahutnya.


"Makasih ya Ma, Gandhi buru-buru nih. Berangkat ya Ma," pamitku mencium punggung tangan Mama.


Mama mengiyakan dan berpesan agar berhati-hati. Aku segera bergegas ke hotel. Semoga semesta masih berpihak padaku.


Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke hotel. Suasana masih sepi karena memang masih pagi. Aku bergegas ke ruanganku. Tanpa menunggu waktu lama lagi, aku mengecek semua dokumen yang bermasalah. Terutama pada keuangan.

__ADS_1


Terdengar derap langkah yang semakin mendekat, lalu pintu terbuka. Seorang pria berdiri dan terkejut melihatku.


"Ka-kau sudah kembali?" ucap pria itu.


"Kaget ya? Senang bisa bertemu lagi denganmu," ucapku menatapnya tajam.


"Kalau begitu saya permisi dulu," tuturnya buru-buru berbalik badan.


Aku kembali duduk di kursi panasku, lalu menelpon seseorang. Kuraih telepon dan mendial nomor.


"Henzi, keruanganku segera. Bawa laporan keuangan selama satu bulan ini," tukasku lalu menutup telepon.


Aku berjalan ke depan, kulihat Andra baru saja hendak mendudukkan dirinya di kursi.


"Ndra!" seruku di ambang pintu ruangan.


"Oi, pagi bener udah datang," sahutnya menghampiri.


Andra masuk ke ruanganku disusul oleh Henzi. Kami melakukan sidak bersama-sama. Ternyata benar, ada manipulasi pada data-data ini. Setelah beberapa jam kami berhasil menemukan akar permasalahan.


"Sip, terima kasih banyak. Kalian luar biasa," ucapku pada Henzi dan Andra.


"Aku tidak menyangka Pak Antony sepicik itu ternyata," ucap Henzi yang masih terkejut.


"Zi, print out semua laporan daily kamu bulan kemarin. Segera kasih ke saya. Dan Andra, bisa kan melacak aliran dana panas ini ke mana?" perintahku diiyakan oleh keduanya.


Kamu berurusan dengan orang yang salah Antony. Bukan begini cara bersaing yang elegant.


Dering ponselku membuyarkan konsentrasiku. Aku meraihnya di meja, melihat nama yang tertera di layar.


Kucing Liar Kesayangan


Maaf ya Sayang, kali ini harus aku abaikan.


Kuubah mode dering menjadi silent mode. Layar HPku terus berkedip menandakan Chaca masih berusaha menelponku.


"Permisi Pak," ucap Henzi mengetuk pintu yang terbuka.


"Masuk Zi," tukasku mempersilahkan.


Henzi melangkah masuk membawa semua dokumen yang aku minta, setelahnya dia berpamitan kembali ke tempat kerjanya.


Satu per satu aku teliti, dan kububuhi tanda tangan. Andra juga sudah kembali masuk ke ruanganku. Dia menemukan bukti transfer pendapatan hotel yang masuk ke rekening pribadi.


"Oke, aku rasa bukti-bukti ini cukup. Tapi masih ada beberapa hal lagi yang harus dipastikan. Ndra, kamu simpan dulu semua bukti-bukti ini. Awas, jangan sampai kebobolan!" tegasku memperingatkan.


"Oke! Oiya Gan, Amel tadi nelpon aku. Katanya kamu enggak mau angkat telepon dari Chaca? Kalian berantem?" tanya Andra penasaran.

__ADS_1


"Enggak kok. Mereka ke mana hari ini?"


"Pesen undangan sama catering, jadinya gimana? Mau akad di rumah apa di luar?" Andra ingin memastikan.


Aku memutar bolpoin dengan jemariku. Aku belum memastikan sama Chaca. Hemm ... sepertinya harus kupending besok deh.


"Sebenarnya aku serahin semua ke Chaca maunya seperti apa. Mungkin besok deh aku tanyain," jawabku sambil menandatangani dokumen di depanku.


"Seharian tadi enggak berunding sekalian? Astaga Gandhi. 5 hari bukan waktu yang lama woi!" ucapnya memukul kepalaku.


"Sialan kamu, berani-beraninya sama atasan!" candaku menatapnya tajam.


Andra terlihat gugup, lalu mengusap lembut kepalaku. Seolah baru tersadar dan menyesal.


"Maaf Boss," celetuknya lalu melarikan diri.


Tak terasa hari sudah menjelang malam. Aku sampai melupakan makan siangku. Benar-benar melelahkan. Aku meraih ponsel dan membukanya.


Wow 88 panggilan tak terjawab, 20 pesan whatsapp dari Chaca doang.


Rasanya puas banget. Semoga kamu mau maafin aku Sayang. Aku segera membereskan pekerjaan. Kurapikan semua dokumen dan mengamankannya sebelum kutinggalkan pulang.


"Ndra, ke rumahku. Ajak istrimu juga. Awas kalau nggak datang!" ucapku berlari melewatinya.


Andra terlihat kebingungan melihat tingkahku. Terdengar ia berteriak, "Iya!" Sebelum akhirnya aku menghilang di balik pintu lift.


Aku segera melajukan mobilku membelah padatnya jalan raya. Rasanya enggak sabar ingin cepat sampai di rumah. Sebelumnya aku mampir dulu ke beberapa tempat untuk membeli sesuatu.


Sesampainya di rumah, aku bergegas masuk. Aku membunyikan bel dan mengetuk tidak sabar. Aku gugup dan terkejut ketika pintu terbuka. Ternyata Chaca yang membukanya.


"Om! Ke mana aja seharian? Kenapa kamu abaikan semua panggilan dan pesanku?" tanyanya menyentuh lenganku.


Aduh aku belum siap, kenapa kamu yang buka sih Cha?


"Ehm! Aku ke kamar dulu," tukasku memasang ekspresi datar melepaskan tangannya lalu melenggang pergi ke kamar.


Dia terpaku, tidak bergerak sedikitpun. Mungkin dia terkejut dengan sikapku. Aduh, maaf Sayang. Sesampainya di kamar, aku segera menelpon Mama.


"Ma, gimana?" tanyaku pelan setelah Mama mengangkatnya.


"...."


"Oke, Ma. Makasih ya Ma," ucapku memutus sambungan telepon.


Huuft! Aku menghela napas, segera mandi dan bersiap.


Bersambung~

__ADS_1


Like dan Komengnya yaa 🙄


__ADS_2