Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Honeymoon Part 2


__ADS_3

Sesampainya di bandara, aku segera turun dan mengambil koper. Hanya membawa satu saja, biar nggak terlalu repot.


"Sayang, Mama sama Papa langsung pamit ya. Mau urus resepsi, kalian hati-hati ya," ucap Mama membuka kaca jendela.


"Iya Mom, nggak apa-apa," jawab Chaca.


Aku dan Chaca menyambut tangan Mama dan Papa, lalu menciumnya. Sebelum akhirnya mereka meninggalkan bandara. Kami saling melambaikan tangan hingga mobil Papa menghilang dari pandangan.


Aku meraih tangan Chaca dan menautkan jemari kami. Sedang tangan kananku menyeret koper masuk. Aku menyuruh Chaca duduk di deretan kursi panjang. Kemudian, aku pergi check-in dan mendaftarkan bagasi.


Lumayan lama, sekitar 15 menit aku berdiri. Setelah mendapat boarding pass, aku kembali menemui Chaca mengajaknya menunggu pada gate yang sesuai dengan boarding pass tadi.


Aku terkejut melebarkan kedua mataku ketika Chaca tidak ada di tempat saat terakhir aku tinggalkan. Aku memutar tubuhku perlahan mencari keberadaannya.


Nggak mungkin diculik 'kan?


"Astaga, kamu di mana Sayang?" Langkahku semakin kupercepat mencari keberadaannya, tujuanku ke toilet. Mungkin dia ke sana.


Dari kejauhan, aku melihat Chaca sedang berbincang dengan seorang wanita. Mungkin temannya, aku tidak begitu jelas karena hanya melihatnya dari samping dan tertutup rambut.


"Sayang!" seruku saat kakiku sudah mulai mengikis jarak di antara kami.


Chaca menoleh, melambaikan tangan kanannya lalu tersenyum saat melihatku. Benar-benar membuat khawatir saja. Chaca 'kan nggak ada duanya. Kalau hilang, bisa gila aku.



Aku segera berlari menghampirinya dan memeluknya. "Kenapa kamu nggak pamit dulu sih kalau ke toilet? Aku panik tahu nggak? Jangan bikin khawatir," gerutuku mengeratkan pelukan.



"Mas, lepasin dong. Malu ih diliatin banyak orang!" Mau tidak mau aku melepaskannya karena aku nggak mau Chaca merasa tidak nyaman.


"Maaf, aku kebelet tadi," sahutnya memegang kedua tanganku.


"Ehem!" Deheman seseorang membuatku seditik terganggu.


Dengan malas, aku memutar tubuhku. Aku terlonjak bahkan hingga bergeser dari tempatku berdiri.


"Bb-bu Friska? Kok ada di sini?" tanyaku gugup.


"Aku ada perjalanan dinas ke luar kota. Jangan panggil Bu dong, lagi nggak di lingkup kerjaan. Panggil nama aja, kita 'kan seumuran," sahutnya bersedekap.


Chaca pun terkejut, "kalian udah saling kenal?" tanyanya menunjuk aku dan Friska.


Kami mengangguk, "Dia atasan aku di hotel, Sayang. Oiya Bu eh Fris, kenalin ini istri aku," jawabku merangkul bahu Chaca.

__ADS_1


"Wow ternyata Chaca istri kamu? Kami sudah kenalan tadi. Cantik sekali masih muda lagi. Pinter banget kamu carinya," godanya sambil tertawa.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Friska lalu berpamitan, karena pesawatnya akan segera take off. Aku pun menggaet tangan Chaca dan mengajaknya kembali menuju gate kami.


Tak berapa lama, ada pemberitahuan kalau pesawat kami segera take off. Kami segera naik ke pesawat. Perjalanan udara yang akan kami tempuh sekitar kurang lebih 3 jam.


Sepanjang perjalanan udara, Chaca merebahkan kepalanya pada pundakku dan memejamkan kedua matanya. Aku mengusap puncak kepalanya lembut, sesekali menciumnya.


Hingga, kini kami telah menginjakkan kaki di Bandara Sultan Muhammad Kaharudin III yang terletak di Sumbawa Besar. Tubuh Chaca begitu lemah. Ia mencengkeram erat jaketku.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanyaku khawatir meletakkan punggung tangan di keningnya.


Dingin, keringat dingin mengalir deras pada wajahnya. Astaga, apa yang terjadi padanya? Aku meraih tubuhnya lalu mendudukkannya pada kursi panjang.


"Mas," ucapnya lemah.


"Sayang, kamu kenapa?" Aku menggosok telapak tangan agar menciptakan hawa panas lalu menempelkan pada kedua pipinya.


"Anterin ke toilet. Kepalaku pusing sekali, aku mau muntah," imbuhnya nyaris tak terdengar.


Aku mengangguk paham, lalu menggendongnya sampai depan toilet. Ia memaksa turun dan masuk sendiri. Karena tidak mau suaminya ini diserang para wanita lain di dalam sana. Meskipun aku sangat khawatir, tapi aku menurutinya. Aku menunggunya bersandar di samping pintu masuk.


Waktu terus berjalan, hingga 10 menit berlalu aku masih bisa bersabar. Kedua mataku tak lepas dari pergelangan tangan, terus melihat jarum yang terus bergerak memutar ke kanan.


Sampai pada akhirnya, Chaca terhuyung di depan pintu keluar. Dengan sigap aku menopangnya. Ia juga berganti baju.


"Aku bisa jalan sendiri kok, Mas. Aku udah mendingan, kepalaku juga sudah tidak sepusing tadi," ucapnya menyandarkan kepalanya pada lenganku.


Aku menghela napas, "Baiklah, Sayang."


Kami berjalan perlahan, aku merengkuh pinggangnya erat. Kemudian langkah kami terhenti di sebuah restoran. Aku menarik kursi dan mendudukkan Chaca, lalu aku duduk di kursi sampingnya. Aku menyebutkan beberapa pesanan ketika pelayan menghampiri.


"Sayang, kamu mabuk udara?" tanyaku mengusap rambutnya.


Chaca mengangguk, "Huum, aku nggak pernah naik pesawat sebelumnya," jawabnya pelan.


"Astaga, lalu mabuk laut juga nggak? Perjalanan kita masih panjang. Masih kuat lanjut atau kita nginep dulu dekat sini?" ucapku memegang erat jemarinya di meja.


Percakapan kami terhenti seketika, saat makanan dan minuman kami telah berjajar di meja. Aku hendak menyuapinya, namun sebelum aku meraih makanannya Chaca sudah mulai melahap makanan itu dengan bersemangat.



Aku terperangah, bahkan mengerjapkan mata berkali-kali karena Chaca menghabiskan makanannya secepat kilat.


"Sayang, kamu doyan apa lapar?" tanyaku menggelengkan kepala.

__ADS_1


Ia hanya menyengir, "Dua-duanya, Sayang," sahutnya meminum teh hangat dengan pipet.


"Oiya Sayang, bagaimana kamu bisa kenalan sama Friska?" pertanyaan yang sejak beberapa jam lalu terus bersarang di otakku.


Chaca meletakkan gelasnya perlahan, "Oh, aku buru-buru waktu ke toilet, nggak hati-hati waktu jalan. Menabrak Mbak Friska sampai terjatuh dan dokumen yang ia pegang berhamburan. Aku pikir dia akan marah tapi ternyata baik," jelasnya.


"Oiya? Padahal kalau dikerjaan galak banget," gerutuku pelan.


"Kenapa, Sayang?" tanya Chaca yang mungkin tidak mendengar ucapanku.


"Ah, nggak apa-apa. Lanjut yuk, biar cepat sampai. Biar nggak kemalaman nanti," ajakku diiyakan olehnya.


Setelah melakukan pembayaran, kami melanjutkan perjalanan naik taksi menuju ke Muara Kali. Sesampainya di sana, kami harus menyewa kapal boat untuk mencapai Pulau Moyo.


Kini kami telah sampai di Muara Kali. Setelah mendapat sewaan kapal boat dan mengenakan APD, kami mulai menyebrangi lautan luas itu.


Chaca terkagum-kagum melihatnya. Ia duduk bersandar di dadaku. Memegang erat lenganku yang melingkar di perutnya.


"Indah banget Sayang, suasananya tentram, damai, udaranya sejuk banget," ucapnya menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


"Iya, Sayang. Mama pandai cari lokasi," ucapku menopangkan dagu pada bahunya.


Kami terombang-ambing selama kurang lebih dua puluh menit di lautan lepas, tanpa melihat satu pun makhluk hidup yang melintas membuat kami merasakan semilir angin bergerak menyentuh kulit.


Kini, kami telah menginjakkan kaki di Pelabuhan Labuan Aji di Pulau Moyo. Karena terasa begitu lelah, kami memutuskan mencari penginapan dulu. Tepatnya tinggal mencari lokasi karena sudah di booking oleh Mama.


Setelah bertanya-tanya, akhirnya kita sampai di lokasi. Kami diantar pemilik rumah itu. Beliau lalu menyerahkan semua kunci pada kami. Aku dan Chaca terkejut melihatnya.


"Sayang, besar sekali. Kita 'kan cuma berdua," ucapku menatap sebuah bangunan di tengah perairan itu.


"Iya, Sayang. Ini kalau disuruh tinggal di sini terus aku mau," sahut Chaca terus menatap bangunan tersebut.


"Tunggu apa lagi? Ayo Sayang, aku capek banget," ucapku menggandeng tangannya berjalan pada jembatan penyebrangan yang telah disediakan.



Aku segera membuka kunci dan melangkah masuk. Kemudian mencari keberadaan kamarnya. Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang yang empuk itu. Diikuti oleh Chaca rebahan di sampingku.


Kepalaku menoleh ke arahnya. "Sayang," panggilku.


"Emm," sahutnya memiringkan tubuhnya.


"Aku mau menuntaskan hasrat semalam yang terpending," ucapku mengubah posisi menindihnya.


"Hah!" Chaca membelalakkan kedua matanya.

__ADS_1


Bersambung~


Tetep komen dan like yaa... pasti aku usahain bales kok kalau lagi selow. 😘


__ADS_2