
Hari itu merupakan hari yang paling sibuk bagi Gandhi. Ia membereskan kamar terlebih dahulu, meletakkan semua pakaiannya di lemari.
Setelah itu membersihkan seluruh rumah barunya. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit baginya. Karena sudah terbiasa sejak kecil.
Sedangkan Ayu masih mendekam dalam kamarnya sejak ia datang tadi. Sampai sore menjelang, wanita itu baru keluar kamar karena kelaparan.
"Mas! Mas Gandhi!" serunya memanggil-manggil sang suami.
Tidak ada sahutan, ia pun berdecak kesal. Berjalan menuju dapur yang hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
Ia menatap sekeliling yang sudah bersih. Lalu matanya menangkap tudung saji di meja. Dibukanya perlahan yang ternyata sudah ada makanan dengan lauk sederhana.
"Udah bangun kamu?" Sekesal apapun Gandhi, ia tetap berusaha bersikap baik dengan istrinya itu.
"Makanannya ini doang?" Tak mengindahkan ucapan Gandhi, Ayu menarik kursi dan mendudukinya.
"Udah dimasakin juga masih aja protes. Kalau nggak mau makan yaudah. Lagian semalam udah aku kasih uang belanja 'kan? Kamu enggak mau masak," cibir Gandhi mulai menyantap makanannya.
Nasi putih, sayur bayam, sambal teri dan tempe goreng. Yah, Gandhi memang memiliki sifat yang sederhana. Tidak suka sesuatu yang berlebihan sekalipun sekarang ia mampu membelinya.
Dengan terpaksa Ayu pun memakan makanan itu. Perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
__ADS_1
"Besok aku udah mulai kerja. Kamu belanjalah, taruh di kulkas. Bisa masak 'kan? Pulangku kadang larut. Nggak usah nungguin," papar Gandhi setelah meneguk teh yang menghangatkan tenggorokannya.
Belum sempat menjawab Gandhi sudah beranjak dari duduknya lalu mencuci bekas makannya. Terbesit kekaguman dalam benak Ayu. Senyum samar terbit di bibirnya. Dalam hati bersorak bahagia karena dipertemukan bahkan ditakdirkan menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali.
Usai makan, Ayu pun mandi. "Mas! Mesin cucinya di mana?" pekik Ayu dari kamar mandi dekat dapur. Karena kamar mandi dalam, hanya ada di kamar Gandhi.
Jarak yang tidak terlalu jauh membuat suaranya terdengar jelas oleh Gandhi.
"Enggak ada! Cuci pake tangan!" sahut Gandhi dalam kamarnya.
"What?" seru Ayu lagi. "Hari gini cuci pake tangan," tambahnya.
"Haiss! Sejuta mana cukup?" sanggah Ayu dengan kesal.
"Cukup nggak cukup dicukupin. Lagian udah buat acara nikah dadakan kemarin."
Setelah itu tak ada suara lagi. Ayu menendang bak yang ada di depannya. Terpaksa mencuci baju dengan tangannya. Padahal hanya bajunya sendiri. Karena Gandhi sudah mencuci pakaiannya sendiri.
****
Sementara itu, Chaca sudah bersiap dengan seragam putih abu-abunya. Ia melenggang pergi melewati kedua orang tuanya yang tengah sarapan.
__ADS_1
"Cha, sarapan," tegur sang mama.
Chaca tak mengindahkan panggilan itu. Ia terus berjalan menuju pintu keluar. Sang sopir sudah bersiap mengelap kaca mobil. Mengetahui majikannya sudah siap, ia pun segera membukakan pintu mobil.
Tanpa berucap sepatah katapun. Mobil lalu melaju di jalanan yang masih agak sepi. Karena memang masih terlalu pagi.
"Stop! Mang!" seru Chaca menghentikan sopirnya.
"Ada yang ketinggalan, Neng?" tanyanya menatap Chaca dari spion.
"Tidak."
Chaca turun dari kursi penumpang, membuka pintu kemudi, "Mang Maman mulai hari ini Chaca bawa mobil sendiri," ucapnya menundukkan kepala.
"Tap... tapi, Neng." Tentu saja sopir itu tidak akan berani. Takut jika majikannya marah besar padanya.
"Daddy urusanku! Tenang aja. Nanti aku yang ngomong," ujar Chaca menjelaskan.
"Buruan, Mang! Aku udah punya SIM kok. Tenang aja," imbuhnya lagi ketika sopir itu bergeming.
Bersambung~
__ADS_1