Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Tidak Terima


__ADS_3

"Ndra, kamu yang nyetir ya," ucapku membuka pintu belakang.


Andra mengangguk, lalu mendudukkan dirinya di balik kemudi. Sedangkan Mbak Amel menyetir mobil Andra sendirian. Napasku masih terengah-engah, begitupun dengan Chaca.


Tubuhnya bahkan masih bergetar hebat. Dia pasti sangat shock. Aku terus mendekapnya di pelukanku. Kedua lengannya melingkar pada perut dan punggungku.


Mobil mulai melaju perlahan, diikuti Mbak Amel di belakang kami. Sungguh, aku sangat berhutang budi pada Andra dan istrinya. Mereka sudah seperti saudara bagiku.


"Sayang, tadi bukti-buktinya kamu letakkan di mana?" tanyaku membelai kepalanya lembut.


Chaca mendongakkan kepalanya, kedua mata kami saling bertatap. "Di punggung aku, Mas," akunya pelan.


"Hah!" Aku membelalakkan mata tidak percaya.


"Kenapa? Katanya suruh di selipin di mana gitu. Ya otak aku auto mikir selipin di balik baju. Mereka tidak akan mengira kalau kusimpan di situ," ucapnya polos.


Andra tertawa terbahak-bahak. Aku menatapnya tajam. "Ketawa apa kamu, Ndra?" Dia langsung menyempitkan bibirnya dan terdiam. Hanya melirik kami sekilas dari pantulan bayangan di spion.


"Kamu, kenapa begitu menggemaskan, Sayang." Aku tertawa lalu mengapit kedua pipinya.


Andra berdecih sembari masih fokus menyetir. "Eleh Gan, dasar bucin gombal-gambel!" gerutunya.


Kami tidak menghiraukan kehadiran Andra. Aku hanya sibuk berbincang dan bersenda gurau dengan Chaca. Mengalihkan pikirannya agar lebih rileks.


"Ndra, kita langsung ke kantor polisi aja!" pintaku setelah Chaca tertidur.


Aku meletakkan kepala Chaca di pangkuanku setelah hembusan napasnya sudah mulai teratur. Andra mengelak, memaksaku untuk ke rumah sakit. Aku merasa baik-baik saja, tidak ada luka serius. Paling cuma memar, dikompres kasih salep udah baikan.


"Baik, Boss!" ucap Andra mengalah.


Hmmm ... setelah Chaca tidur, badanku kenapa terasa remuk semua. Mungkin karena nggak ada yang digodain lagi.


Ketika hendak turut memejamkan mata, ponselku berdering. Aku memaksa membuka kedua netraku, tanganku merogoh saku celana mengambil ponsel.


Keningku sedikit berkerut, "Mama? Tumben," ucapku lalu menggeser slide hijau.


"Iya Ma," sahutku menempelkan benda pipih itu pada telinga.


"Sayang kamu di mana? Papa mau ngomong penting nih," ucap Mama di seberang.


"Lagi di jalan Ma, mau ke kantor polisi. Bukannya Mama sama Papa tadi pagi udah ke kantor?" tanyaku.


"Hah? Ada masalah apa Sayang? Enggak, Mama sama Papa tadi keluar sebentar. Kami nggak ngantor hari ini."


"Sabotase kemarin, Ma. Harus diselesaikan sekarang juga. Karena baru saja dia serang Gandhi sama Chaca di jalan. Sepertinya dia ngikutin Gandhi dari rumah. Aku nggak mau Chaca kenapa-napa, Ma."


"Apa? Kamu kasih tahu Mama di kantor polisi mana. Papa sama Mama mau nyusul ke sana," ucap Mama panik.


"Nanti Gandhi kirim lokasi ya Ma, masih di jalan ini," sahutku lalu memutuskan sambungan telepon setelah Mama mengiyakan.

__ADS_1


Aku kembali memasukkan ponselku. Rasa kantukku menghilang seketika. Kubelai rambut panjang Chaca. Tidak ada rasa bosan sedikitpun saat menatap wajah polosnya.


Tak berapa lama, mobil telah terhenti di kantor polisi. Mau tidak mau, aku membangunkan Chaca. Karena berkas-berkasnya ada di punggungnya.


"Sayang, bangun," panggilku membelai lembut pipinya.


Matanya mengerjap, "Udah sampai, Mas?" tanyanya membangunkan tubuhnya.


"Loh, kok di kantor polisi sih? Bukannya harus ke rumah sakit," protesnya merapikan rambut yang sedikit berantakan.


"Lebih cepat lebih baik, Sayang. Mana berkasnya tadi?" Aku menengadahkan kedua tanganku.


Aku meminta Andra memejamkan matanya, ketika Chaca membuka resliting gaunnya. Kedua mataku menajam mengawasi Andra.


Hingga sebuah stop map beserta isinya berada di tangan Chaca, dan diserahkan padaku. Kami segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke kantor polisi.


"Woi Gan, sialan. Main tinggal aja. Mana nggak bilang kalau udah kelar," gerutu Andra berlari mengekori kami.


Langkahku dan Chaca terhenti, "Mbak Amel mana, Mas?" tanya Chaca ketika tidak melihat mobil Andra.


DEG!


Andra terpaku, lalu memutar tubuhnya mencari-cari keberadaan mobilnya. Ia panik seketika, lalu segera meraih ponsel menghubungi istri kesayangannya itu.


"Gan, nggak aktif!" ucap Andra khawatir.


Kami berjalan keluar menuju jalan raya. Andra terlihat gusar, aku tahu rasanya mengkhawatirkan seseorang yang paling kita cintai.


Andra terus mondar-mandir di tepi jalan. Aku dan Chaca duduk di kursi panjang. Pandangan kami fokus pada kedua ujung jalan, memperhatikan setiap mobil yang lewat.


Setelah 20 menit lamanya, mobil Andra terlihat dan semakin mendekat. Andra melambai-lambaikan tangannya. Mbak Amel menghentikan mobil tepat di depan Andra.


"Dari mana aja kamu?" teriak Andra ketika istrinya turun dari mobil membuat kami terlonjak.


"Maaf Mas, tadi aku mampir minimarket. Ada sesuatu darurat yang harus ...."


"Kenapa telepon kamu nggak bisa dihubungi?" pekiknya lagi tepat di depan wajah Mbak Amel.


Chaca segera menghampiri mereka dan merangkul lengan Mbak Amel yang menundukkan kepalanya. "Mas Andra jangan kasar sama Mbak Amel. Dengerin dulu penjelasannya," ucap Chaca menangahi.


Andra memang orangnya mudah terpancing emosi, wataknya keras persis seperti almarhum mantan mertua. Napasnya masih memburu. Mungkin itu salah satu bentuk rasa sayangnya.


Aku berdiri merangkul pundaknya, lalu mengajak Andra duduk menenangkan pikirannya. Aku tahu dia seperti itu karena kecemasannya sedari tadi.


"Dari mana Mbak? Kami semua khawatir sama kamu," ujar Chaca mengusap lengan Mbak Amel.


"Aku habis beli pembalut, Cha. Dan aku kehilangan jejak kalian. Lalu aku terus menyusuri jalan dan ternyata nyasar sampai jalan buntu, sedangkan ponselku lowbatt. Jadi, aku jalan ngikutin feeling aja sambil tanya-tanya orang di jalan," terang Mbak Amel pelan.


Andra berdiri seketika dan memeluk istrinya. "Maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud kasar sama kamu. Aku hanya terlalu mengkhawatirkan kamu, maafin aku," ucap Andra mengeratkan pelukannya. Mbak Amel hanya mengangguk.

__ADS_1


Tak berselang lama, aku melihat mobil Papa. Mobil itu langsung masuk, mungkin tidak melihat kami di sini karena terhalang mobilnya Andra.


Aku dan Chaca berpamitan masuk terlebih dahulu, dan meminta mereka menyusul untuk menjadi saksi.


"Pa, Ma!" panggilku mendekati beliau yang baru saja turun dari mobil.


"Astaga! Gandhi, apa yang terjadi? Kenapa! Kenapa wajah kamu sampai seperti ini?" teriak Mama histeris.


Aku menceritakan kronologi kejadiannya, termasuk saat Chaca hampir terjatuh. Mama dan Papa begitu terkejut. Papa mengepalkan kedua tangannya. Beliau tidak terima dengan apa yang menimpaku.


Mama langsung menghampiri Chaca, memeluknya dan memeriksa setiap bagian tubuhnya.


"Sayang, mana yang luka? Mana yang sakit?" ucapnya membolak-balikkan tubuh Chaca.


Chaca tersenyum, "Chaca nggak apa-apa kok Ma. Untung tadi ada Mbak Amel sama Mas Gandhi. Kalau tidak, mungkin Chaca nggak selamat," tukasnya pelan.


"Selama aku masih bernapas, aku tidak akan biarkan kamu terluka, Sayang," ucapku membelai puncak kepalanya.


Kemudian kami segera masuk, Andra dan istrinya juga sudah selesai dengan drama mereka. Jadi kami masuk bersama-sama.


Antony sedang diintograsi oleh salah seorang polisi berbadan kekar. Aku segera menyerahkan semua bukti-bukti kejahatannya, termasuk korupsi juga.


Papa berteriak meminta Antony dihukum seberat-beratnya karena pembunuhan berencana terhadap anaknya. Bahkan beliau sampai menggebrak meja meluapkan emosinya.


Polisi masih memeriksa berkas-berkasnya dan juga memeriksa keterangan beberapa saksi untuk menjatuhkan vonis hukuman sesuai undang-undang yang berlaku.


Kini, kami semua sedang makan siang di restoran setelah kepenatan dan ketegangan yang kami lalui sedari tadi.


"Gan, Cha, Papa sama Mama punya hadiah buat kalian," ucap Papa setelah menelan makanannya.


"Apa Dad?"


"Apa Pa?" tanya kami bersamaan.


"Taraaaaaa!" seru mama tertawa dengan sesuatu di tangannya.


Aku dan Chaca saling pandang, lalu sama-sama menghendikkan kedua bahu kami tidak mengerti.


Bersambung dulu~


Maaf ya kemarin off 2 hari. Ada acara keluarga yang menguras waktu dan tenaga πŸ™πŸ˜š


Aku selalu infoin update di Grup Chat ya. Silahkan yang mau gabung πŸ€—


Password Love GanCha πŸ˜…


Oiya mungkin ada yang bertanya-tanya, ini labelnya udah END kok masih up sih? Jawabannya karena pada awalnya memang saya berniat hanya berakhir di season 1. Berhubung banyak yang request lanjut, jadi saya lanjutin. Semoga selalu terhibur dan tidak membosankan πŸ™


__ADS_1


__ADS_2