Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Pelukan Terakhir Bunda


__ADS_3

"Cha, gimana kabar kamu?" tanya Bunda membelai rambut Chaca.


Aku membuka sedikit pintu, hanya sedikit agar lebih leluasa lagi melihat mereka. Kulihat Chaca mengulum senyumnya.


"Chaca baik-baik saja kok Bun," ucapnya tidak berani menatap Bunda.


Bohong! Perempuan jika berkata baik-baik saja justru keadaannya sebaliknya. Aku terus bertahan di posisiku. Berharap tidak ada yang merusak kegiatanku kali ini.


"Ceritakan semua sama Bunda, jangan dipendam. Setidaknya bisa melegakan perasaan kamu," tukas Bunda menaikkan dagu Chaca agar melihatnya.


Chaca menatap sayu, lama kelamaan ia tidak bisa menahan bendungan air mata lagi. Dia segera menarik baju Bunda yang berdiri di depannya lalu menangis di pelukannya.


Sudah kuduga, kamu sedang tidak baik Cha.


Bunda mengusap rambutnya pelan, lalu duduk di kasur berhadapan dengan Chaca. Beliau mengusap kedua pipi milik Chaca yang semakin tirus.


"Mau nangis dulu, apa mau cerita dulu?" tawar Bunda memegang kedua tangan Chaca.


Chaca menghela napas panjang, kedua mata juga hidungnya memerah. Namun tak sampai menangis lagi.


"Bunda." Chaca mulai membuka suara.


"Chaca ... selama ini cuma bisa nyusahin orang-orang di sekeliling. Terutama Om Gandhi, sudah banyak sekali beban yang telah kutumpangkan ke pundaknya. Aku terus menyusahkannya Bun. Aku merasa tidak pantas bersanding dengannya, hanya duka dan lelah yang kuberikan padanya," tutur Chaca dengan suara bergetar menahan tangis.


DEG! Jantungku berpacu sangat kuat. Bunda memperhatikan dan mengusap kedua tangannya lembut. Tidak mau menyela curahan hati Chaca.


"Apalagi, Mommy dan Daddy sekarang sikapnya begitu baik. Justru aku merasa sungkan dengan semua itu Bun. Aku sadar dengan perilaku Daddy dan Mommy, karena ternyata aku hanya orang lain, bukan siapa-siapa. Aku terbiasa diperlakukan kasar oleh Daddy selama ini, aku juga sudah terbiasa dicuekin Mommy. Tapi sekarang? Mereka semua bersikap sebaliknya. Dan juga seolah-olah aku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi," sambungnya lagi.


Chaca tidak menangis hanya menatap lurus ke depan seolah merasa lelah dan menyerah dengan keadaannya.


Ya Tuhan ... kenapa kamu berpikir seperti itu Cha?


Aku menyandarkan tubuh ke tembok. Kepalaku mendongak dan memejamkan mata. Lalu menghela napas panjang dan menengok Chaca kembali.


"Sayang, kamu bisa shalat?" tanya Bunda menepuk bahu Chaca.

__ADS_1


Chaca menoleh dan tersenyum getir. "Dulu waktu kecil diajarin sama nanny, Bun. Tapi menginjak remaja aku nggak pernah menjalankannya. Karena lebih sering ngabisin waktu di luar, dengan teman-teman yah yang seperti itu Bun," ucapnya jujur kulihat dari bola matanya.


"Mulai sekarang, Chaca harus rajin menjalankannya. Jangan pernah tinggalin. Kamu tidak pernah sendirian Cha. Ingat, jika tidak ada bahu untukmu bersandar, masih ada bumi untukmu bersujud," saran Bunda merengkuh kedua pipi Chaca.


Chaca mengangguk mengiyakan. Lalu Bunda kembali mengajarinya penuh kesabaran. Apalagi dengan keterbatasannya itu. Mereka bak ibu dan anak, jika orang lain melihat pasti mengira ada hubungan darah.


Sesuai prediksiku, Bunda mampu menenangkannya. Memberi nasehat-nasehat yang bisa menguatkan Chaca. Mungkin selama ini hanya dia pendam sendiri.


Ah aku bingung menghadapi perempuan yang hanya diam menyembunyikan perasaannya. Aku malah senang jika ia cerewet atau marah-marah. Aku kembali ke kamar, merebahkan tubuhku beberapa saat. Hingga aku tertidur.


***


"Gandhi, bangun Sayang," ucap Bunda pelan mengusap sebelah pipiku.


Mataku mengerjap, lalu beranjak duduk. Aku masih mengantuk, kuusap kasar rambutku yang berantakan.


"Bunda, terima kasih membuat Chaca merasa lebih baik," ucapku menyentuh kedua tangannya.


Bunda duduk di sampingku. "Gan, sering-seringlah ajak dia komunikasi agar lebih terbuka. Kalau bisa segera nikahi dia, supaya Chaca tidak merasa dirinya orang asing. Dan satu lagi, bimbinglah dia agar selalu berbuat kebaikan. Jadilah sandaran untuknya. Tidak selamanya Bunda ada di dunia ini," nasehat Bunda membuatku tertohok.


Bunda melepaskan pelukannya, beralih mencium keningku lama. "Bunda titip adik-adik ya. Ayo bangun dan mandi, sudah lama kita tidak shalat berjamaah," tutur Bunda melenggang pergi.


Ada apa dengan Bunda?


Aku tidak begitu memikirkannya. Bergegas mandi dan bersiap untuk shalat berjamaah. Setelah berpakaian rapi, aku menuju musholla rumah Bunda yang selalu digunakan untuk shalat juga mengaji.


Kulihat, Bunda memakaikan mukena pada Chaca yang duduk di kursi roda. Cantik sekali, ia juga tersenyum melihatku. Santi juga adik-adik lainnya turut berbaris di belakangku.


Aku meminta Andi salah satu adik panti yang kini beranjak remaja untuk iqomah, lalu kuluruskan syaf dan memulainya. Awalnya berjalan lancar, sampai pada tahiyat terakhir.


Aku mendengar isak tangis dan teriakan adik-adik kecilku yang berseru memanggil Bunda. Jantungku berdegub kencang, konsentrasiku hampir saja buyar. Tubuhku pun bergetar hebat. Aku mengatur napas dan kembali berkonsentrasi untuk menyelesaikan hingga salam.


"Assalamualaikum warohmatullah." Kepalaku mulai menoleh ke kanan.


"Assalamualaikum warohmatullah," lanjutku menolehkan kepala ke kiri.

__ADS_1


"BUG!"


Aku segera menoleh, Chaca terjatuh dari kursinya. Ia merangkak masih dengan mukenanya lengkap, berusaha menggapai Bunda.


"Bundaaaaaaaaaaaaa!" teriaknya disertai air mata yang sudah membanjiri pipinya. Ia membalikkan posisi Bunda yang masih bersujud.


"Bundaaaa bangun," seru semua adik-adik panti memeluk Bunda.


Aku berlari mendekatinya. Tubuhku melemas seolah tidak bertulang. Chaca memeluk Bunda sangat erat, dan menangis meraung-raung.


"Bunda bangun, buka mata Bunda. Jangan tinggalin Chaca Buuuun ... Bundaaaaaa!" suara Chaca menggelegar disertai tangisan yang memilukan.


Aku menyentuh pergelangan tangannya. Tubuhku semakin gemetar, tenggorokanku tercekat. Denyut nadi Bunda sudah tidak ada. Susah payah aku berucap. Masih belum putus asa, aku mendekatkan telinga pada dada Bunda.


Ya Allah, astagfirullahal adzim. Aku beristighfar sebanyak-banyaknya. Menetralkan degub jantungku yang hendak melompat dari tempatnya.


"Innalillahi wainna ilaihiroji'un," gumamku dengan suara bergetar dan air mata yang mulai membobol kedua mataku.


"Bundaaaaaa!" pekik Chaca diiringi tangisan yang pecah. Begitupun Santi dan adik-adik lainnya.


Aku memeluk Chaca dan Bunda. Chaca masih berteriak histeris, belum bisa menerima kenyataan. Aku menciumi wajah Bunda yang terlihat berseri.


Kubuka mukena Chaca perlahan, setelah ia melepas pelukan Bunda. Andi tadi berlari keluar dan memanggil Paman Dul beserta tetangga sekitar. Adik-adik bergantian memeluk Bunda untuk yang terakhir kalinya.


Aku melepas mukena Bunda kemudian beliau dipindahkan oleh Paman beserta para tetangga. Tangis dan kesedihan memenuhi seluruh ruangan.


"Bunda Oom," ucap Chaca lirih. Air matanya terus mengalir hingga kedua matanya bengkak. Kupeluk dia dengan erat, tubuhnya masih bergetar hebat.


"Sabar Sayang." Aku tidak mampu mengeluarkan banyak kata. Karena aku sendiri merasa sesak juga terpukul dengan kepergian Bunda.


Ternyata sejak kemarin adalah permintaan terakhir Bunda. Dan hari ini adalah pelukan terakhir Bunda. Ya Allah, berilah beliau tempat terbaik di pangkuan-Mu. Bukakan pintu surga untuknya. Beliau adalah bidadari tak bersayap yang Engkau turunkan ke bumi ini.


Selamat jalan Bunda, kami semua sangat menyayangimu. Tunggu kami di surga.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2