Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Lari


__ADS_3

"Ka ... kamu?" ucap Ayu gemetar dengan mata berkaca-kaca.


Chaca masih terpaku dengan keterkejutannya. Ayu segera beranjak dari duduknya sesekali menyeka air matanya yang jatuh tak tertahankan.


"Maaf, saya tidak jadi melamar. Permisi!" pamit Ayu berlari keluar cafe.


"Eh, tunggu! Mak ... eh, Ay ... ah nggak sopan. Mbak, tunggu!" teriak Chaca turut berlari.


Nisa bertambah bingung melihat atasannya yang panik seperti itu. Ia hanya berdiri memeluk nampan menatap dua wanita di depannya.


"Sa! Panggil Pak Gandhi cepat! Suruh keluar sekarang!" perintah Chaca sambil berlari.


Nisa mengangguk, ia segera berlari menuju meja kasir. Ia masuk ke dalam mengambil gagang telepon menghubungi Gandhi. Santi kaget, ia takut terjadi apa-apa dengan Chaca. Namun, Santi hanya memperhatikan dan mendengarkan rekan kerjanya itu sembari melayani pelanggan.


"Pak, cepat turun. Mbak Chaca meminta Bapak segera keluar!" seru Nisa penuh kepanikan.


Tanpa menyahut Gandhi segera menutup telepon dan berlari keluar. Dia takut terjadi apa-apa dengan istri kesayangannya itu, setelah mendengar kepanikan dari karyawannya.


"Mbak Ayu, tunggu!"


Secepat kilat Chaca meraih lengan Ayu. Kedua matanya terpusat pada perut Ayu yang sudah langsing. Mereka berada di tepi jalan. Ayu memberontak berusaha melepaskan tangan Chaca.


Namun Chaca tidak mau melepaskannya begitu saja. Sudah sejak lama dia tidak mendengar kabar Ayu. Terakhir kabar dari suami Ayu yang telah diusir oleh Gandhi.

__ADS_1


"Lepasin saya, tolong," rengek Ayu terus berusaha kabur. Chaca menggeleng dan masih memegang lengannya kuat.


"Tiiiiin!" Suara klakson motor berdenging di telinga. Posisi Chaca membelakangi motor itu. Ayu yang melihatnya dengan sigap membuang tas dan amplop berisi berkas lamarannya ke sembarang arah lalu mendorong Chaca dengan kedua tangannya, membuat Chaca terjengkang ke belakang. Untungnya Gandhi sampai tepat waktu. Dengan sigap ia menangkap tubuh Chaca.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Mana yang sakit? Mana yang luka?" ucap Gandhi panik menangkup kedua pipi Chaca lalu memeriksa seluruh tubuhnya.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Itu," ucap Chaca pelan menunjuk ke Ayu.


Motor yang melaju kencang itu tidak dapat dikendalikan. Hingga menyerempet tubuh Ayu, membuatnya terpental di rerumputan. Pengendara itu pun turut terjatuh menabrak pohon.


Pandangan Gandhi dan Chaca beralih pada Ayu. "Ayu!" seru Gandhi terkejut.


Mereka lalu berlari membantu Ayu berdiri. Untungnya tidak ada luka serius, hanya lengan kirinya saja yang terluka.


Gandhi hanya diam memperhatikan kedua wanita itu. Wanita yang menjadi masa lalu dan masa depannya. Ia takut jika bertindak akan membuat Chaca salah paham.


"Mbak ayo obati dulu lukanya," ujar Chaca menarik lengan kanan Ayu.


Ayu berjalan tertatih karena kakinya sepertinya kesleo. Lagi-lagi Gandhi hanya diam, meski dalam hati kasihan. Namun ia menjaga perasaan Chaca. Gandhi tidak mau hanya karena berbuat baik pada wanita lain bisa menyakiti istrinya.


Chaca memapah Ayu masuk kembali ke Cafe. Sedangkan Gandhi memunguti barang-barang Ayu yang berserakan di tanah. Lalu pengendara motor tadi sedang diamankan oleh orang-orang setempat. Dia mengatakan ingin menempuh jalur damai saja. Meskipun bukan sepenuhnya kesalahannya, namun ia tetap ingin bertanggung jawab.


Chaca mendudukkan Ayu di sebuah sofa panjang, lalu meminta salah satu karyawannya untuk mengambilkan kotak P3K. Diikuti Gandhi yang duduk di samping Chaca.

__ADS_1


"Mbak, kamu tinggal di mana sekarang? Kapan lahirannya? Laki-laki atau perempuan? Sekarang di mana bayimu? Sehat 'kan?" Chaca memberondong pertanyaan pada Ayu sambil mengobati lukanya. Dengan telaten ia membersihkannya, memberi obat merah lalu membalut lukanya.


Ayu kembali meneteskan air mata. Bahkan menatap dua orang di depannya saja ia tidak berani.


"Romi, tolong ambilin minum," teriak Gandhi pada pelayan yang kebetulan melaluinya.


"Baik, Pak," sahutnya segera menjalankan perintah atasannya.


Tak lama, Romi meletakkan 3 gelas jus jeruk di hadapan mereka. Setelahnya laki-laki itu pamit undur diri.


"Minum dulu, Yuk. Kamu pasti masih syok," tutur Gandhi mempersilahkan.


Chaca mengangguk, ia sudah selesai membalut luka-luka Ayu. Ayu menatap Chaca dan Gandhi sekilas, lalu segera menundukkan kepala lagi. Chaca menyodorkan minumannya mendekatkan pada Ayu.


Kedua bola matanya masih memerah. Air matanya masih terus mengalir, Ayu lalu meneguk minuman itu sedikit demi sedikit. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan gelas itu perlahan.


"Sekarang ceritakan semuanya, Mbak. Kami khawatir dengan keadaan kamu," ucap Chaca mengusap tangan Ayu.


Melihat sikap Chaca dan Gandhi yang welcome padanya semakin membuat hatinya nyeri. Rasa bersalahnya beberapa waktu silam kembali teringat lagi.


'Mereka bahkan mengkhawatirkan aku dan tidak membenciku. Oh Tuhan, dadaku semakin terasa sesak atas semua kesalahanku dulu,' gumam Ayu dalam hati. Air matanya terus mengalir semakin deras.


Bersambung~

__ADS_1


Huuufftt... apa yang kalian rasakan gengs🤧🤧


__ADS_2