Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Bebas


__ADS_3

Author POV


"Apa?" pekik Xander ketika putranya selesai menceritakan kronologi kejadian.


Suaranya menggelegar memenuhi seisi ruangan tersebut. Tangannya mengepal, gerahamnya juga mengetat karena tidak terima anaknya dijebak.


Gandhi dan Chaca, keduanya terjingkat mendengar teriakan papanya. Chaca hanya terus mengeratkan pelukan sedari tadi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Berani-beraninya dia bermain-main dengan keluarga Abraham!" imbuhnya lagi tersulut emosi.


"Sabar, Pa," ujar Alice lembut mengusap lengan suaminya.


Gandhi menghela napas panjang. Ada satu hal lagi yang dia sampaikan. Yakni, dipecat dari pekerjaannya. Meskipun alasan utamanya bukan karena fitnah ini, tapi tetap saja ia diberhentikan secara tidak hormat.


"Di mana kamu bekerja selama ini, Gan?" tanya Xander serius.


"Di ... di Hotel Majesty, Pa," ucap Gandhi pelan.


Xander dan Alice saling pandang. Keduanya tersenyum misterius, membuat Gandhi menatapnya curiga.


"Syukurlah kalau kamu dipecat. Tapi tetap saja aku tidak bisa terima, Handoyo telah berani memecat anakku!" ucap Mama dengan mimik muka serius. Xander mengangguk, kedua tangannya melipat di depan dada.


Gandhi membulatkan matanya, tidak menyangka kedua orang tuanya mengenal mantan bosnya itu. Ia jadi khawatir akan ada sesuatu yang terjadi.


Tiba-tiba dering ponsel Xander mencairkan suasana mencekam di ruangan tersebut. Kemudian ia beranjak berdiri menerima telepon. Xander berjalan keluar meninggalkan keluarganya.


"Bagaimana?" serunya setelah Xander menerima teleponnya.


"Sudah di tangan, Tuan," jawab seseorang singkat.


"Amankan! Sebelum kalian serahkan ke polisi. Beraninya dia mencemarkan nama baik anak saya!" sahutnya yang segera dipatuhi di seberang telepon.


...----------------...


Andra dan Dewi bergegas masuk ke mobil dan menjalankannya, ketika melihat iring-iringan mobil berwarna hitam berisi orang-orang misterius tadi.


Hingga sampai di jalan utama, mereka mengendarai mobil begitu cepat. Andra cukup kuwalahan mengejarnya.


"Pak, kita ngapain ngikutin mereka?" tanya Dewi mengganggu konsentrasi Andra.

__ADS_1


Pria itu menatap Dewii sekilas lalu menepuk jidatnya. Ia menyadari bahwa tujuan utamanya adalah membebaskan Gandhi.


"Astaga Dew! Aku lupa. Ngapain kita peduliin wanita gila itu?" pekik Andra membanting setir berbalik arah. Ia menjalankan mobilnya menuju kantor polisi.


Tak berapa lama, mobilnya telah sampai di area parkir kantor polisi tempat di mana Gandhi diperiksa. Dewi dan Andra segera turun dari mobil dan berjalan cepat ke dalam.


"Pak Gandhi!" seru Dewi ketika sampai di hadapan pria itu.


Chaca menoleh, menilik wanita itu. Dewi mengulurkan tangannya, "Hai, Cha. Kamu lupa sama aku? Aku Dewi resepsionis di hotel," ujarnya memperkenalkan diri.


Chaca mengulas senyum dan menyambut tangannya. "Maaf Mbak, saya lupa. Maklum lah, di sana cuma bertahan dua hari jadi nggak hapal semua karyawan di sana," sahutnya tersenyum kikuk.


Alice terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa Chaca pernah bekerja di sana. Sedangkan Xander biasa saja, karena dulu pernah menyelidikinya. Chaca kemudian bercerita pada orang tuanya kalau pernah ikut bekerja Gandhi.


Namun tentu saja tidak membicarakan alasannya resign. Bisa-bisa, Xander nanti melacak dan mematahkan tangan-tangan orang itu.


"Ternyata kamu semakin dewasa, Nak," ujar Alice membelai kepala Chaca lembut.


"Sejauh mana pemeriksaan Gan?" tanya Andra yang diam sedari tadi.


"Tinggal penyerahan bukti, Ndra. Gimana? Dapat?" tanyanya khawatir.


"Beres!" ujar Andra mantap.


Makanya, Andra tidak menampakkan batang hidungnya ketika Gandhi dipojokkan. Ia mengurus rekaman percakapan itu untuk menjadikan bukti yang kuat.


Sedangkan Dewi, mengungkap kesaksiannya dan menyerahkan bukti rekaman videonya. Terlihat para agen detektif handal beserta tim penyelidik yang biasa membantu pihak kepolisian mengungkap kejahatan.


Polisi itu terkejut, ternyata Gandhi bukan orang sembarangan. Karena tadi Xander dan Alice datang belakangan, dan tidak ada nama Abraham yang mengikuti nama Gandhi. Ia tidak tahu jika orang terpandang di kota ini adalah orang tua dari laki-laki yang ia tahan saat ini.


Sebenarnya mudah saja mengeluarkan Gandhi dari penjara dengan kekuasaannya. Namun ia tidak gegabah, harus mencabut hingga akar-akarnya. Karena Xander yakin putranya tidak bersalah. Namanya harus bersih kembali.


Polisi yang bertugas itu segera menghampiri Xander dan keluarganya. Ia terus mengucapkan maaf. Xander memakluminya. Memang, Gandhi belum diperkenalkan secara publik. Jadi wajar saja tidak ada yang tahu. Rencananya akan diperkenalkan saat resepsi nanti.


"Saudara Gandhi, mohon maaf atas kesalahan kami. Anda dinyatakan tidak bersalah dalam kasus ini. Pak Xander, sekali lagi kami mohon maaf," ucap salah seorang polisi membungkukkan setengah badannya.


Xander hanya mengangguk lalu beranjak berdiri meninggalkan lokasi. Chaca dan Gandhi saling lmemandang, senyum keduanya menguar. Mereka semua mendesah lega, lalu mengikuti Xander. Chaca dan Gandhi berjalan saling menautkan jemari mereka.


"Kalian pulang saja dulu. Papa masih ada urusan," ucap Xander menghentikan taksi.

__ADS_1


"Mama ikut, Pa! Sayang, jaga kesehatan. Siapin diri buat tiga hari lagi. Jangan pikirin kerjaan, setelah resepsi baru kita bahas lagi. Mama pergi dulu ya," seru Alice. Dia curiga dengan gelagat pria paruh baya itu.


Chaca dan Gandhi hanya mengangguk, lalu mencium punggung tangan wanita itu. Andra dan Dewi juga melakukan hal yang sama.


"Hati-hati, Mom!" pekik Chaca melambaikan tangan.


"Kita pulang ke mana, sayang?" tanya Chaca memalingkan muka pada Gandhi.


Gandhi memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Andra mengantar mereka. Hari yang sudah sore, membuatnya memutuskan tidak kembali ke hotel.


"Gan, orang tua kamu kaya raya tapi ngapain kamu kerja di hotel?" tanya Andra fokus menyetir.


Gandhi dan Chaca duduk di jok belakang. Tidak ada jarak di antara mereka berdua. Mereka tidak mau berjauhan sedetik pun.


"Nggak enak, Ndra. Ibaratnya aku makan buah yang nggak tau susah payahnya menumbuhkan pohon tersebut. Nanti Chaca saja yang nerusin. Kuliah yang bener ya, Sayang," ucap Gandhi merengkuh tubuh mungil itu dan mengecup keningnya.


"Dikasih enak malah cari yang susah." Andra menggelengkan kepalanya.


Mendengar kata kuliah, Chaca teringat akan Bryan. Dia ragu ingin mengatakan bahwa Bryan adalah dosennya sekarang.


Beberapa menit kemudian, Andra telah sampai di kediaman Gandhi. Andra dan Dewi mampir sebentar.


"Sejuknya rumah ini, betah banget nih kalau di rumah terus. Apalagi pengantin baru," sindir Dewi saat melalui pekarangan. Chaca tersipu mendengarnya.


'Wah, Dewi mengingatkan hari libur,' batin Gandhi.


Gandhi membuatkan minum kedua tamunya, Chaca menyiapkan beberapa camilan. Lalu segera membawanya ke ruang tamu.


"Andra, Dewi, makasih banyak ya. Berkat kalian aku bisa bebas dari tuduhan," ucap Gandhi ketika meletakkan minuman.


"Sama-sama Pak. Ini sudah kewajiban kami. Karena memang Bapak tidak bersalah," sahut Dewi dengan seulas senyum.


Gandhi dan Chaca mendudukkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan kedua tamunya.


"Jangan panggil Bapak, aku sudah bukan atasan kalian lagi," tutur Gandhi.


"Apa?" seru Andra dan Dewi bersamaan.


Bersambung~

__ADS_1


Hai dears, kalian enakan baca pake POV (sudut pandang) berapa sih? Lebih mengena yang mana? POV Satu atau tiga? POV author apa tokoh? Selama ini kan campuran. ๐Ÿ˜†


Vote di kolom komentar ya ๐Ÿ™ƒ


__ADS_2