Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 35


__ADS_3

Sakit, nyeri bertubi-tubi. Itulah yang kini dirasakan Chaca. Ini pertama kalinya Chaca mengungkapkan perasaannya. Dan pertama kali pula ia mendapat tamparan keras di pipi oleh ibunya. Sakit di pipi masih bisa menghilang, namun tidak dengan hatinya.


Sudah terluka ditaburi garam pula. Perih, kejadian itu akan terekam jelas di memori otaknya. Sampai kapan pun.


Dengan masih memegangi pipinya, Chaca mengangkat kepalanya. Mencoba melirik Alice yang terdiam dengan menyentuh tangannya yang terasa kebas. Pandangannya kosong, air matanya luruh berjatuhan di kedua pipinya.


Tanpa berucap apa pun, Chaca berlari menaiki anak tangga. Membuka lalu menutup pintu kamarnya dengan sangat keras.


Ia membanting tubuhnya di ranjang. Lalu menangis sekeras-kerasnya namun diredam dengan bantal. Ia menjerit, meraung hingga sesenggukan.


"Apa yang telah aku lakukan?" gumam Alice terduduk di sofa. Menatap telapak tangannya yang memerah. "Maafin Mommy, Cha," ucapnya menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Kedua bahunya bergetar karena tangisnya. Sungguh, ia jatuh dalam pusaran penyesalan terdalam.


****


Sementara itu, Gandhi mengemudi dengan kecepatan sedang. Pikirannya berkelana. Bayangan Chaca yang menangis penuh kekecewaan terus berputar di kepalanya.


Bahkan beberapa kali ia hampir menabrak pengendara lain. Namun akhirnya bisa mencapai rumah dengan selamat.


Ia melangkah gontai, rumah sudah sepi. Karena waktu sudah hampir malam. Bunda yang menyadari kedatangannya, segera berlari menghampiri saat memasuki pintu rumah.


"Gan, Chaca?" tanya Bunda tak sabaran sembari menyentuh lengannya.


Gandhi hanya menggeleng. "Kita salat dulu ya, Bun. Sudah azan," ajak Gandhi meneruskan langkahnya ke kamar.


Di sana ia sudah menemukan Ayu yang sedang menghapus riasannya di depan meja rias yang kecil. Matanya memicing ketika melihat Gandhi masuk tanpa mengetuk pintu.


"Bisa nggak sih, Mas kalau masuk itu ketuk pintu dulu?" ucap Ayu dengan ketus menatap bayangan Gandhi dari cermin.

__ADS_1


Kening Gandhi mengerut dalam, hingga lipatan-lipatan di keningnya terlihat jelas. Ia melangkah sambil berkacak pinggang. Berhenti tepat di belakang Ayu. Mereka saling bertukar pandang melalui pantulan cermin. Tubuh Gandhi merunduk, tepat di telinga Ayu. Membuat wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping.


"Kamu lupa ini kamar siapa?" bisiknya penuh penekanan.


Ayu memutar bola matanya malas, "Aku 'kan istrimu. Sudah seharusnya semua milikmu menjadi milikku sekarang!" ucap Ayu.


"Terserah." Hanya satu kata yang terucap. Ia lalu mengambil handuk dan mandi di luar kamar. Tak lupa membawa baju koko dan sarungnya.


Beberapa menit berlalu, Gandhi dan seluruh penghuni panti kecuali Ayu, sudah berkumpul di sebuah ruangan yang cukup besar. Bisa disebut sebagai musholla di rumah panti itu.


Mereka tengah bersiap menunaikan salat berjamaah. Seperti biasa Gandhi yang menjadi imamnya. Ia berbalik meminta untuk meluruskan shaf.


"Istrimu mana, Gan?" tanya Bunda celingukan.


"Capek katanya, Bu," jawab Gandhi malas.


Meski berdecak kesal, namun Santi menurutinya. Ia menyingsing mukena ke atas, lalu berjalan ke kamar Gandhi.


"Tok! Tok! Tok!"


"Mbak, ayo salat jamaah. Semua nungguin," ucap Santi setelah mengetuk pintu.


"Kalian duluan aja!" sahut Ayu tanpa membuka pintu.


"Bunda yang minta, Mbak," tambah Santi lagi.


"Aduh, enggak deh. Nanti aku salat sendiri!" serunya masih memainkan ponsel di atas ranjang yang tidak terlalu empuk itu.

__ADS_1


"Bodo amat, ah!" gerutu Santi kembali dengan kesalnya.


Sesampainya di musholla, semua mata tertuju pada Santi yang hanya sendirian. Ia seolah menjadi tersangka dalam suatu kasus. "Dianya nggak mau, Bun. Katanya mau salat sendiri," jelas Santi sebelum ada pertanyaan lagi. Akhirnya mereka pun segera menjalankannya tanpa Ayu.


Usai berdoa, tinggal Bunda dan Gandhi di ruangan tersebut. Gandhi memutar tubuhnya, mencium telapak tangan wanita baya itu. Mereka duduk berhadapan.


Bunda lalu memberi beberapa wejangan agar Gandhi bisa menuntun istrinya ke jalan yang benar. Walaupun tidak ada cinta dalam hubungan mereka. Tapi pernikahan bukanlah permainan. Ada tanggung jawab besar yang kini pria itu emban. Bukan hanya di hadapan manusia tapi juga di hadapan Tuhan.


"Insyaallah, Bun," jawab Gandhi menunduk dalam. Di kepalanya masih dipenuhi Chaca, Chaca dan Chaca.


Ia kembali ke kamar. Menemukan perempuan yang sudah berstatus menjadi istrinya itu masih berselonjor di atas kasur. Pria itu meletakkan peci pada paku yang menancap di dinding.


"Kamu nggak salat dulu?" ucapnya menekan ego dan perasaannya.


Ayu hanya melirik sekilas, menegakkan duduknya lalu berucap,"Mas, kamu nggak punya rumah sendiri apa? Kita 'kan udah nikah. Masa mau tinggal rame-rame gini sih? Aku tuh nggak suka ada orang lain yang ikut campur dalam rumah tangga kita!"


Gandhi menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. 'Keknya ni perempuan sundal deh. Mana ketemunya tengah malam pula. Duh, astagfirullah,' gumam Gandhi dalam hati.


"Kok diem sih? Enggak punya ya? Terus kerjaan kamu apa, Mas? Kemarin kalau nggak salah denger kamu jadi manager di sebuah perusahaan ya. Iiuuhh... Cuma manager. Dulu pacar aku seorang direktur," celoteh wanita itu tak berperasaan.


Kedua tangan Gandhi mengepal kuat. Gerahamnya mengetat. Emosi sudah menjalar hingga ubun-ubun. Ia lalu meninju nakas berbahan kayu yang ada di dekatnya.


Suara menggelegar membuat Ayu terlonjak kaget. Ia memberanikan diri menatap kedua manik Gandhi yang menyalang penuh kemarahan.


"Kamu?" tunjuk Gandhi tepat di muka Ayu.


"Gandhi? Ada apa, Nak?" Suara Bunda dari luar kamar diikuti ketukan pintu membuatnya kembali menurunkan tangannya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2